MY ROOFTOP

MY ROOFTOP
76



Tere terbangun dari tidurnya, kemarin Audri dan Bryan sudah datang menjenguknya dengan membawa beberapa buah.


"Cepat sembuh ya Re, nanti gue gak ada teman gibah lagi kalo lu gak masuk," ucap Audri sebelum keluar dari ruangan gadis itu.


Tere merasakan badannya sudah lebih segar dibandingkan kemarin, meskinpun ia masih lemas dan tidak kuat untuk bangun. Dilihatnya Aldo yang sedang tidur meringkuk di sofa. ia meringis, ia yakin badan Aldo akan sakit karena tertidur dengan posisi seperti itu. Apalagi Aldo tidak memakai bantal sama sekali.


"Do," panggil Tere. Jam menunjukkan pukul lima pagi dan Aldo masih terlelap. Padahal ini bukan hari libur, jadi Aldo harus bersiap untuk pergi sekolah.


Saat ia beranjak dari tidurnya, kepalanya terasa berat. Ia memijit kepalanya perlahan. Oke, ia memiliki ide untuk membangunkan Aldo.


Diambilnya bantal kecil di sebelah tubuhnya, lalu melemparkannya ke arah Aldo. Aldo langsung terduduk kala bantal itu tepat mengenai kepalanya.


Tere terkekeh sambil membekap mulutnya ketika melihat reaksi Aldo.


Aldo menatap Tere dengan tajam seolah tak rela dibangunkan dengan cara tidak terhormat seperti itu.


"Apa?" tanya Tere membuat Aldo mendengus.


"Bangun gih, udah pukul lima lebih. Ntar lo telat pergi ke sekolah."


Aldo mencibir, kemudian beranjak dari sofa dan masuk ke dalam kamar mandi yang terdapat di dalam ruangan itu. Beberapa menit kemudian dia keluar tetapi tetap menggunakan pakaian yang sama seperti saat dia masuk.


"Lo gak mandi?"


"Gue gak sekolah."


"Kenapa?"


"Menurut lo?"


"Menurut gue?"


"Gue gak bakal ninggalin lo sendiri disini lah."


Gadis itu mendengus panjang. "Plislah Do, gue tuh udah bukan anak kecil lagi."


"Gak, lu masih kecil dan teramat sangat kecil menurut gue."


"Kecil ndasmu."


"Kalo gue pergi, nggak ada yang bakalan jagain lo disini. David nggak bisa ngurus lo sekarang, lo tau kan dia fokus belajar untuk ngejar beasiswa ke luar negeri, terus ortu lo lagi balik ke bandung karena urusan kantor mereka."


Gadis itu memutar bola matanya. "Gak peduli, yang jelas sekarang lo harus pergi sekolah,"


"Gak."


"Plis-"


"Gue bilang gak ya gak Do," ucap Tere tak terbantahkan.


"Sekarang lo balik lagi ke kamar mandi terus pergi sekolah!"


 ~~~


Aldo sudah pergi beberapa menit yang lalu, untung saja kemarin Tere menyuruh Aldo pulang untuk mengambil perlengkapan sekolahnya, jadi tak perlu repot pulang kerumahnya lagi.


Setelah memastikan ia sendiri di dalam ruangan itu, ia mencari sesuatu didalam laci nakas di samping ranjangnya, ketika mendapat barang yang dicarinya ia pun tersenyum.


Ia mengeluarkan sebuah pulpen dan buku tulis dari dalam laci itu. Menuliskan sebuah kalimat yang teramat sangat panjang disana sebelum akhirnya kertas itu basah karena air matanya.


Tenang Re, lo pasti kuat.


 ~~~


Aldo masuk ke dalam ruang inap Tere setelah mengantar Audri dan Bryan yang kembali menjenguk Tere, sayangnya saat mereka datang Tere sedang terlelap.


Tiba tiba mata pria itu membulat. "Re," panggilnya kepada gadis yang sedang duduk di lantai sambil membakar satu demi satu kertas lalu membuangnya di tong sampah besi di depannya.


"Apa yang lo lakuin?"


Gadis itu melirik ke sumber suara. "Nggak ada..."


"...gue tadi cuma mimpi, seorang peramal mengatakan bahwa jika gue menulis keinginan gue di kertas lalu membakarnya, maka keinginan itu akan terkabul." Gadis itu terus memasukkan kertas kertas yang berisi coretan tangannya ke dalam tong sampah.


"Lo udah minum obat hari ini?" tanya Aldo.


Aldo menyentuh tangan Tere untuk menghentikan aktivitasnya, namun langsung ditepis oleh gadis itu.


"Jangan ganggu gue, urus aja urusan lo."


Aldo menghela nafas panjang dan berjalan menuju ke meja tempat obat Tere diletakkan. Gadis itu mengetahui niat Aldo.


"Jangan ambil obat gue. gue gak gila, kenapa gue harus minum obat itu?"