
(Author POV)
"Tere!" Suara Aldo yang berjalan masuk dari pintu membuat lamunan Tere terhenti, dengan air mata yang masih mengalir deras dari matanya.
"Lo kenapa?" tanya Aldo mendekat dan naik ke kasur, lalu membawa tubuh mungil Tere ke pelukannya.
Tere tidak menjawab, badannya menggigil, matanya terus mengeluarkan air sementara ia pun sendiri tidak mengerti kenapa ia menangis.
Aldo dengan penuh perasaan membelai rambut gadisnya itu, ia sudah sangat merindukan gadis di pelukannya ini.
Saat tadi mengejar Tere yang pergi meninggalkannya, Ia panik setengah mati saat melihat Tere tiba tiba duduk bersujud di tengah hujan, menangis sambil berteriak tidak jelas dan menarik kuat rambutnya.
Baru saja ia ingin menghampirinya namun gadis itu sudah terjatuh duluan di atas rerumputan.
Dia pun berlari menembus hujan lalu mengangkat tubuh Tere yang sudah tidak bergerak lagi.
Dan sekarang ia mendapati Tere terbangun sambil bercucuran air mata, apa yang sebenarnya terjadi?
Setelah sudah agak tenang, Aldo merenggangkan pelukannya.
"Ada apa Re? Lo kenapa?" Aldo bertanya pelan dan penuh perasaan.
Tere tidak menjawab ia hanya mengelap sisa air mata di wajahnya menggunakan tisu yang diberikan Aldo.
"Ambilin obat gue." Tere menunjuk sebuah kotak yang berisi obat-obatan yang sama sekali tidak diketahui Aldo.
"Lo sakit?"
"Ga. Gue mati."
Aldo mendesah pelan, ia mengambil air putih yang terletak di atas nakas lalu meminumkannya ke Tere yang sudah memasukkan sebuah pil obat ke dalam mulutnya.
"Lo bisa pergi," ucap Tere setelah melihat Aldo menaruh kembali gelas ke atas nakas.
"Nggak."
"Ini masih jam sekolah, bukannya lo harus di karantina?"
"Gue ga mau ninggalin lo dalam keadaan gini."
Tere tidak menjawab, mereka hanya saling bertatapan, mencari cari apa yang sebenarnya sedang di pikirkan lawan bicaranya.
Setelah lama bertatapan Aldo pun berbicara,
"Karna lo sudah minum obat, sekarang lo kembali tidur aja."
Aldo kembali membaringkan badan Tere dan menarik selimut sampai menutupi badannya.
"Tenang, kalau lo butuh apa apa gue bakalan selalu di samping lo," Aldo mengelus dahi Tere lalu menciumnya.
'Gue harap lo ga bohong,' batin Tere sambil perlahan menutup matanya.
Jam menunjukkan pukul 4 sore, sepertinya Aldo ikut tertidur di samping Tere.
Drrtttt...drrttt....
Saku kemeja Aldo bergetar, membuat sang empu menggeliat lalu membuka matanya.
Ia kemudian duduk dan merogoh sakunya mencari ponsel yang sedari tadi bergetar.
Tertera nama pemanggil disana, spontan Aldo langsung mengangkatnya.
"Cila?" ucap Aldo dengan suara khas orang baru bangun.
"Nope, gue Fira."
"Fira? Kok hp Cila bisa sama lo?"
"Cila masuk rumah sakit, tadi pulang sekolah dia kecelakaan."
"Kecelakaan? Kok bisa?"
"Oke, share location."
"Oke."
Aldo buru\-buru berdiri dari kasur dan mengenakan jaketnya, ia mengambil kunci mobil dan berlari keluar rumah Tere, meninggalkan Tere yang masih terlelap dalam kehangatan sementara.
Tere membuka matanya perlahan, ia menatap jam di dinding yang menunjukkan pukul 7 malam. Badannya pegal pegal karena tidur terlalu lama.
Baru saja ingin duduk tiba-tiba kepalanya kembali berdenyut, membuatnya mengurungkan niatnya.
"Aldo..." panggil Tere pelan.
Tere menunggu beberapa saat namun belum ada jawaban.
"Aldo...." Tere mencoba memanggilnya lagi. Namun hasilnya sama, tetap tidak ada jawaban.
Ia pun meraba-raba, mencari ponsel yang seingatnya tadi ia taruh di atas meja nakas samping tempat tidurnya.
Setelah mendapatkannya dilihatnya layar ponsel itu, ada sebuah pesan masuk yang dikirim sekitar satu jam yang lalu.
'Gue ketemu Cila dulu.'
Tere menghela nafas panjang lalu tersenyum miris.
.
.
.
.
Bullshit.
Waktu berlalu, semua yang diam tetap diam, sama sunyinya, sama gelapnya, namun hatinya semakin sakit, semakin pilu, semakin teriris. Semuanya terasa sangat nyata, mengerikan dan menyakitkan. Ia butuh Aldo, dimanapun Aldo berada sekarang.
Ia kembali melihat layar ponselnya, mencari nomor di dalam daftar kontaknya, ia menekan tombol lalu dering di ujung sana terdengar.
"Halo Re, apa kabar?"
"Kak David," suaranya parau, bahkan terdengar aneh di telinganya sendiri.
"Tere kenapa? Sakit?" David menyadari perbedaan suara adiknya, ia terdengar khawatir.
"Nggak kak, baru bangun tidur aja...." ia menghapus air matanya yang tiba-tiba turun.
"Beneran bangun tidur? Ga sakit kan?"
"Ga kakak ku sayang," ucap gadis itu berusaha terdengar riang.
"Ya udah, kamu udah makan belum?"
"Belum kak, ini mau mandi dulu baru makan."
"Ohh oke, kalau gitu kamu cepet mandi yah jangan lama lama udah malam."
"Iya kak, kalau gitu Tere matiin yah, bye."
"Bye."
Gadis itu meletakkan ponselnya kembali ke atas nakas, perlahan berusaha untuk mendudukkan dirinya diatas ranjang lalu bersandar di kepala ranjang.
"Pembohong...."
Gadis itu perlahan memeluk lututnya dan menenggelamkan kepalanya disana.
"Pembohong. Pembohong. Pembohong. Pembohong. Pembohong. Pembohong. Pembohong. Pembohong. Pem--" suaranya terhenti.
Terganti dengan sebuah tangisan.