MY ROOFTOP

MY ROOFTOP
52



Akhh....


Air matanya mengalir begitu saja, semua orang yang melihat disana tidak ada yang membantu Tere maupun melerai perkelahian itu.


Bela dan teman-temannya tertawa lepas melihat Tere yang sekarang sudah tersungkur ke tanah.


Tere mengumpulkan lagi energinya, melihat ada kesempatan Tere berdiri dari jatuhnya dan dengan air mata yang terus mengalir di pipinya dan sesak di dada yang tak tertahankan, ia melayangkan tamparan keras ke Bela sehingga cewek itu pun tersungkur ke tanah.


"GUE GAK TAKUT SAMA LO, MENTANG MENTANG LO KAKAK KELAS, JANGAN HARAP GUE TAKUT!"


Tere menendang perut Bela yang sudah jatuh tersungkur itu berkali-kali.


"MATI LO, MATI, MATI, MATI."


Semua yang ada di sana termasuk teman-teman Bela, terpaku atas apa yang Tere perbuat, dia menendang perut Bela berkali-kali tanpa rasa ampun.


"STOP ANJING," teriak salah satu Teman Bela, sambil menarik tangan Tere.


"APA LO? BERANI LO SAMA GUE," teriak Tere seperti orang gila, ke Teman Bela itu.


Nyalinya kembali menciut, apa lagi saat ini Sang Ratu sudah tidak berdaya.


Baru saja Tere ingin melayangkan lagi tendangan ke arah Bela yang sudah tersungkur namun sebuah suara menghentikan pergerakannya.


"APA-APAAN INI!" Teriakan bariton yang sangat keras membuat pergerakan semua siswa di sana terhenti, termasuk Tere.


Pak Resi, Kepala Sekolah di SMA Criya, masuk ke kerumunan siswa yang tengah menonton perkelahian Tere dan Bela.


"SEMUANYA SAYA MINTA BUBAR, LEON BAWA BELA KE UKS!" tunjuk Pak Resi ke salah seorang siswa di situ, sang siswa pun mengangguk patuh dan langsung mendekat ke Bela.


"Dan kamu Tere, ikut saya ke kantor sekarang juga." Tere masih berusaha mengatur nafasnya, dadanya terasa sangat sesak, ia memegang kepalanya yang terasa berputar-putar.


Astaga apa yang baru saja ku lakukan.


Tere masuk ke dalam kantor, ia dipersilahkan duduk, Pak Resi pergi mengambil es batu dari dalam kulkasnya lalu membungkusnya dengan kain putih dan menaruhnya di depan Tere.


"Baik Tere, kamu bisa jelaskan apa yang terjadi."


Tere menghela nafas panjang, ia kemudian mengambil es batu yang sudah dilapisi kain itu lalu mengompres matanya yang bengkak akibat tinjuan Bela. Ia menangis, tetapi menangisnya bukan seperti yang biasa, ia hanya mengeluarkan air mata tanpa ekspresi apapun di wajahnya.


"Saya nggak salah."


"Setelah hampir mencelakai anak orang, kamu bilang kamu nggak salah?"


"Dia yang mulai duluan!"


Resi hanya bisa menghela nafas panjang.


"Tapi karena kejadian ini mau tidak mau kamu harus dihukum, kamu hampir mencelakai anak orang Tere."


"Gak mau, saya nggak salah. Kalau memang mau menghukum, hukuman bukan cuma buat saya aja, tapi buat Bela juga."


Resi memijit pelipisnya,


"Kamu tau Tere, kelakuan kamu tadi itu kayak preman, kayak orang gak berpendidikan, kalau terjadi apa-apa sama Bela kamu mau tanggung jawab?"


"Saya gak akan mukul dia kalau dia nggak mukul saya duluan."


"Berapa kali dia mukul kamu? Dan berapa kali kamu mukul dia? Kamu minta dia juga diberi hukuman? Bisa saja, kalau ia masih sehat saat bangun besok pagi."


Tere menggebrak meja di depannya dan langsung berdiri dari sofa empuknya,


"Lalu apa yang harus saya lakukan saat saya dipukul dan dipermalukan di depan banyak orang pak?" Bahu Tere bergetar hebat.


"Harus kah saya menerimanya?"