
Suara bel istirahat pertama berdering, tepat setelah guru kimia keluar dari kelas, Tere menyikut teman sebangkunya membuat teman sebangkunya bangun kebingungan.
"Udah keluar main, kebo," ujar Tere pelan.
Aldo mengangkat kepalanya dari atas meja tempatnya bersandar, nyawanya masih belum terkumpul.
Setelah mulai sadar kembali, ia memusatkan perhatiannya ke kegiatan Tere yang sedang memasukkan buku kimia ke dalam tas.
Tere yang merasa di perhatikan Aldo langsung menghentikan aktifitasnya.
"Napa lu ngeliatin gue? Iler lu tuh bersihin, kita mau ke kantin sekarang."
Aldo masih tidak bergeming dan terus menatap Tere.
Setelah lima detik bertatapan, muncul ide kreatif di otak Aldo.
Aldo langsung memegang tangan kanan Tere, Tere kaget.
"Kenapa??" dan dua detik kemudian.
"IHHH, ALDO GILA ***! TANGAN GUE!" Tere berteriak histeris tatkala Aldo mengusap iler di ujung bibirnya menggunakan tangan Tere.
"Tangan gue ternistakan! Jorok banget sih lu!" ucap Tere kesal sambil menggosokkan tangannya di seragam Aldo.
Merasa gemas dengan Tere, Aldo langsung mencubit kedua pipi Tere, membuat Tere meringis kesakitan, Tere berusaha melepas tangan Aldo dari kedua pipinya, belum sempat ia memukulnya, Aldo sudah lari menjauh dan menuju ke luar kelas.
Langkah pria itu terhenti saat di depan pintu kelas. "Gue tunggu lo di depan kantin, awas aja lo kalo nggak datang, gue robek beneran pipi lo," teriak Aldo lalu kembali berlari keluar kelas.
"ALDOOO!" Tere berteriak sendiri seperti orang gila di dalam kelas.
Teman teman sekelas sudah memaklumi kegiatan Aldo dan Tere yang tiap hari menimbulkan kericuhan di kelas. Walaupun kebanyakan dari mereka banyak yang tidak suka karena iri dengan Tere.
"Melar deh pipi inces." Tere mengusap dengan lembut kedua pipinya.
See? Dia menyebalkan.
Tere duduk sejenak, mengatur nafas, mengatur kekesalannya terhadap Aldo.
Lalu Tere beranjak dari kursinya, berniat menyusul Aldo dan memberi bogem mentah ke wajah sahabatnya yang tampan itu.
'HAI, ANAK MONSTER,'
"Anak monster?" Tere menautkan kedua alisnya ketika membaca isi pesan tersebut.
"Sms apaan sih ini? Ngaco banget."
Tere kembali memasukkan ponselnya kedalam saku seragamnya, lalu berjalan keluar kelas. Ia berusaha mengabaikan pesan di ponselnya yang sekarang membuat hatinya tidak nyaman.
Namun, alih-alih mengejar Aldo ke kantin, Tere malah berjalan ke lantai paling atas, rooftop.
Tere kembali membuka ponselnya dan membaca ulang isi dari sms tersebut.
Biasanya sms begitu datang dari mantan-mantan Aldo, ataupun kakak kelas yang iri dengan kedekatan dirinya dengan Aldo.
Namun, ada satu hal yang membebani pikirannya, isi dari sms itu. Isi sms tadi sangat berbeda dengan isi sms yang sering Tere terima sebelum-sebelumnya.
Biasanya sms yang diterima Tere berupa ancaman untuk menjauhi Aldo. Tapi kali ini berbeda....
"Anak monster?" Tere bergumam sendiri.
Tere berjalan perlahan menuju ke pinggiran rooftop, ia menutup matanya, menarik nafas panjang lalu membuangnya secara perlahan. menikmati hembusan angin yang menerpa badan dan wajahnya.
Semilir angin yang menyapu wajahnya, membuat hatinya sedikit tenang.
Hati Tere kembali tenang....
Tenang...
Tenang.......
sangat tenang.....
"DORRR!" Aldo datang dari belakang Tere dan langsung mengagetkannya.
"ASTAGA ALDOO!" Tere kaget langsung memegang dadanya, lalu segera mencubit lengan tangan Aldo dengan sekuat tenaga.
"Adududuhh....sakit woy!" Aldo meringis kesakitan.