MY ROOFTOP

MY ROOFTOP
46



(Pov Tere)


*Aku membuka mata perlahan, dan yang kulihat hanyalah gelap, sama sekali tidak ada cahaya.


Dimana ini?


Sebuah suara anak lelaki menggema di telingaku, ''Majulah kedepan."


Aku terdiam dan mencoba menganalisa suara yang sepertinya familiar bagiku.


Aku... tidaklah tau arah manakah 'depan' itu. Haruskah aku maju? Atau... berbalik kebelakang?


Menoleh ke kiri, lalu berjalan pelan... Aku ragu. Berbalik ke arah kanan dan yang kutemui adalah tidak ada. Hanyalah gelap


Pelan. Berjalan menuju tempatku semula. Tetapi, yang kutemui hanyalah kegelapan mencekam yang mencekikku hingga aku jatuh tersungkur...


Kemudian suara anak lelaki itu kembali dengan nada yang berbeda, "Ini semua salahmu!"


"Pada akhirnya, semuanya akan lenyap, bukan? Lantas apa bedanya lenyap sekarang dan nanti?!"


Tiba-tiba rasa sedih melingkupi indra perasaku, menangis dalam gelap menyiksa...


Sentakan keras menghantam kepalaku memaksa untuk bangun... menarikku untuk berjalan ke arah yang aku tidak tau dimana.


Pertanyaan dibenakku ketika seseorang menarikku ke kegelapan yang lebih menakutkan, 'Haruskah aku lenyap*?' ...


"HAH!" Aku terbangun dari tidurku, mimpi itu selalu mendatangiku.


Tanpa bisa kucegah, air mata mengalir deras dari mataku dan isakkaku pun memecah kesunyian.


Aku tidaklah mengerti, kenapa aku menangis? Mimpi apa itu? Aku sungguh tidak bisa menghentikan air mata ini. Apa yang terjadi?


Dengan mata yang basah, aku memandang foto yang berada di meja belajarku. Aku dan seorang anak lelaki yang menampilkan senyum yang sangat lebar.


Otakku memutar memori kelam delapan tahun lalu.


Sebuah memori kelam yang nyaris membuatku ingin bunuh diri tiap kali mengingatnya.


*Hari itu...aku dan adikku Reyhan sedang bermain di pinggiran sungai, ia terlihat sangat bahagia, aku yang saat itu berumur 6 tahun mengajak adikku yang berumur 4 tahun bermain air tanpa pengawasan orang tua.


mungkin karena hari sudah mulai sore.


"Dek pulang sekarang yah,"


"Bental kak, leyhan masih mau main,"


"Tapi kan sekarang udah mau malam, kalau mama cari gimana?"


"Ih kakak ga selu."


Aku terus membujuk adikku agar mau pulang,


Dia tetap menolaknya, bahkan sekarang ia sudah berjalan menuju ke tengah sungai.


Aku mengikutinya dari belakang,


"Reyhan pulang sekarang!"


Dia tetap berjalan dan mulai jauh dari jangkauan ku, aku bersusah payah menggapainya namun tidak sampai.


Hingga tiba tiba aliran sungai yang tadinya tenang mulai mengalir cepat.


"REYHAN!" Teriakku tatkala melihat adikku yang berada di tengah sungai tergelincir membuat seluruh tubuhnya masuk kedalam air.


Aku menunggu beberapa detik, namun ia tak kunjung muncul ke permukaan air, aku langsung berlari ke tengah sungai, melawan derasnya air yang membuat ku harus berkuat agar tidak ikut terbawa arus air.


Terbawa arus?


Aku langsung melihat ke arah mengalirnya sungai ini, tepat di ujung sana, ada adik ku yang sedang menggapai gapai di atas permukaan air. Astaga Tuhan, adikku masih berumur empat tahun, tolonglah dia.


Aku meneriaki namanya beberapa kali, berusaha untuk mendekat dengannya, saat berusaha melangkah untuk yang kesekian kalinya, posisi tubuhku tiba tiba tidak seimbang, batu batu di sungai ini sangat licin, aku tergelincir dan tenggelam, tiba-tiba saja semua menjadi gelap.


"Reyhan belum di temukan Re," ucap mama saat aku bertanya setelah bangun dari pingsan, aku sudah berada di rumah. Kejadian itu sudah berlalu selama 12 jam.


Aku pikir ini semua hanya mimpi, tapi ternyata ini nyata, adikku, Reyhan, adik yang paling ku sayangi mati karena diriku*.