MY ROOFTOP

MY ROOFTOP
27



Setelah keluar kelas Aldo segera menuju ke parkiran, saat sudah berada di mobil, Aldo segera menelfon nomor Tere tapi tidak ada jawaban dari panggilan itu.


Sampai akhirnya dia sadar dan memukul kepalanya sendiri.


"Bego! Hpnya kan di kelas."


Tanpa basa-basi lagi Aldo segera melajukan mobilnya menuju ke rumah Tere.


Setelah beberapa menit akhirnya Aldo sampai juga di tempat tujuan, ia memarkirkan mobilnya di depan rumah Tere.


Ia segera berjalan menuju pintu dan menekan belnya. Setelah menunggu cukup lama, seseorang pun muncul dari balik pintu.


David muncul membukakan pintu untuk Aldo.


David sudah tidak memakai seragam sekolah lagi, dia sudah memakai baju kaos putih polos dan celana kain pendek berwarna hijau army.


"Tere mana?"


"Kamar."


Aldo tanpa ba-bi-bu langsung nyelonong masuk dan berjalan ke arah kamar Tere, David hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan Aldo lalu menutup kembali pintunya.


Aldo membuka pintu kamar Tere, Tere yang sudah bangun dari tadi langsung menoleh ke arah Aldo yang baru saja membuka pintu.


Aldo mendekat dan duduk di sisi ranjang Tere.


"Ngapain lo kesini?" Tere bertanya sambil berusaha duduk. Pusingnya sudah agak hilang tidak seperti tadi sewaktu di sekolah.


"Ngapain lo kesini?" Aldo mengikuti gaya bicara Tere. "Menurut lo? Gue khawatir bego." lanjutnya.


"Ohh, gue kira lo udah lupa gue." Tere memberikan senyuman sinis kepada lawan bicaranya.


"Lo kok ngomongnya gitu sih? Mana mungkin gue lupa sama lo." Aldo tidak menyetujui perkataan Tere yang mengatakan bahwa dirinya melupakan sahabat kesayangannya itu.


"Buktinya?" Tere menyibakkan selimutnya, merasa gerah dari tadi, lalu beranjak turun dari kasur. Gadis itu keluar dari dalam kamarnya.


"I'm here." Aldo mengikuti langkah Tere menuju dapur. "Kalau gue lupa sama lo nggak mungkin gue sekarang ada di rumah lo," lanjutnya.


Tere diam, dia hanya mengambil gelas lalu menuangkan air kedalamnya lalu meminumnya.


"Re, kok sikap lo ke gue berubah sih?"


Gadis itu membalikkan badannya dan langsung bertatapan mata dengan Aldo. "Berubah apa sih Do? Gue masih Tere yang sama." Gadis itu berjalan mendekati Aldo.


'Nggak kebalik nih? Lo yang berubah Do.'


"Entahlah, mungkin cuma perasaan gue aja."


Entah kenapa akhir-akhir ini Aldo merasa hubungan antara dirinya dan Tere terasa merenggang, meskipun tidak sering, ia juga sadar akhir-akhir ini ia lebih sering berhubungan dengan Cila dibanding dengan Tere.


"Lo kok bisa pingsan sih?" tanya Aldo.


"Gue nggak minum obat," jawab Tere.


"Kenapa nggak minum?"


"Karna gue belum makan."


"Kenapa belum makan?"


"Karna lo nggak maksa gue."


"Emang kalo mau makan lo harus dipaksa dulu?"


"Yah..nggak juga sih, tapi kan kalau gue lagi nggak mood makan, lo bakalan maksa gue makan dan narik gue ke kantin, tapi tadi lo nggak maksa gue dan pergi berdua makan di pojokan sama Cila." Aldo yang mendengar penjelasan Tere, mengangkat satu alisnya.


Aldo bertanya hati-hati,


"Lo cemburu gue deket sama Cila?"


Tere terdiam sejenak dan memikirkan jawaban apa yang cocok.


Gadis itu melangkah mendekat ke Aldo dan langsung menjitak kepala Aldo.


"Ya nggak lah, buat apa gue cemburu."


Aldo meringis kesakitan, "Ehh unta liar, sakit aja tenaga lo masih kayak badak, kalau kepala gue hancur gimana?"


"Lebay."


"Terus kalo lo nggak cemburu...."


"...Gue berarti bisa dong balikan sama Cila?" Aldo menatap kedua mata Tere.


Tenggorokan Tere tiba-tiba terasa kering, ia menelan ludah sebelum bicara.


"Bal-balikan?" Tubuh Tere menegang, hatinya terasa panas.


"Iya balikan." Mata Aldo berbinar-binar.


'Lo deket sama Cila aja lo udah dengan mudahnya ngelupain gue, apalagi kalau lo balikan sama Cila, mungkin biar ngelirik gue lo nggak akan bisa,' batin Tere dalam hatinya.


Tere yang dari tadi tanpa sadar menahan nafasnya akhirnya membuangnya.


"Ya... terserah lo, kan nggak ada hubungannya sama gue." Gadis itu segera berjalan menuju kamarnya meninggalkan Aldo sendirian di dapur.


"Tu anak kenapa sih main ninggalin-ninggalin mulu." Aldo mencebikkan bibirnya lalu menyusul Tere ke dalam kamarnya.