MY ROOFTOP

MY ROOFTOP
24



Jam istirahat pertama berbunyi.


Sebagian siswa di kelas 10 Mipa B sudah menuju ke kantin dan sebagiannya lagi masih mengumpulkan nyawa setelah ulangan fisika dadakan tadi pagi.


Tere lemas, ia lapar tapi tidak kuat untuk berjalan naik tangga ke kantin, Tere membenamkan wajahnya di atas meja. Memejamkan matanya.


Tiba-tiba ada tangan yang mengelus kepalanya, memain-mainkan rambutnya, siapa lagi kalau bukan tangan Aldo.


"Re, ke kantin yuk," ajak Aldo.


Tere hanya mengangkat tangan kanannya lalu mengibas ngibaskannya, menyuruh Aldo untuk pergi sendiri.


"Lo mau nitip?" Kali ini Tere menggelengkan kepalanya.


"Ya udah... kalau lo mau sesuatu telfon gue yah." Tere mengangguk.


"Cila yuk." Terdengar suara Aldo yang mengajak Cila ke kantin, lalu suara langkah menjauh mereka sangat terdengar jelas di telinga Tere.


Tere mengangkat wajahnya dari meja.


"Kemarin-kemarin aja kalau gue nggak ke kantin, lo pasti juga nggak bakalan ke kantin."


"Ohh iya.. sekarang kan udah ada yang lain." Tere tersenyum kecut. Astaga sejak kapan Tere menjadi selebay ini, padahal cuma ditinggal ke kantin doang.


Tere merogoh kantong kemejanya, ada obat yang di suruh minum sama David.


'Sebelum minum obat, jangan lupa isi perut dulu yah!' Kata-kata David tadi pagi terlintas di kepala Tere.


"Telfon? Nggak usah deh." Tere berbicara dengan dirinya sendiri.


Tere bangkit perlahan dari kursi Cila, lalu berjalan pelan menuju ke kantin.


Saat sampai di kantin, Tere kebingungan mencari tempat duduk, karena semua tempat sudah penuh semua.


Tere mengedarkan pandangan sambil memijit-mijit tengkuk lehernya.


Detik berikutnya Tere tak sengaja melihat Aldo dan Cila yang sedang makan berdua di kursi pojok kantin.


Mata Tere sempat bertemu dengan mata Aldo, baru saja Aldo mau melambaikan tangan ke arah Tere, namun Tere langsung melengos, memutar bola matanya ke arah lain, membuat Aldo sedikit terkejut.


Tere kemudian membalikkan badannya dan berjalan keluar dari kantin.


"Tere?" gumam Aldo.


Aldo mempercepat makannya berniat untuk menyusul Tere.


 


Tere berjalan gontai menuju ke rooftop, dia terus memegangi kepalanya yang sakit. Entah kenapa hari ini kepalanya terasa sakit sekali.


Tere tadi berniat cari makan di kantin, tapi entah kenapa melihat Aldo dan Cila makan berdua dadanya terasa sesak dan sakit, ia pun mengurungkan niatnya makan.


Fyi, rooftop gedung adalah salah satu tempat favorit Tere, Dia merasa aman, nyaman, dan bebas ketika berada di tempat ini.


Semua bebannya serasa terbang mengikuti semilir angin yang menerpa wajahnya.


Bel masuk kelas sudah berbunyi dari 5 menit yang lalu, tetapi Tere tidak berminat untuk meninggalkan tempat itu.


Saking menikmati angin dan pemandangan dari atas sana Tere tidak menyadari kehadiran seseorang yang dari tadi tersenyum melihatnya jauh beberapa meter di belakangnya.


"Hai! Bolos yah?" sapa orang itu mensejajarkan badannya dengan badan Tere.


"Kak Wira?" Tere kaget melihat Wira tiba-tiba berada di sampingnya.


"Sekali-kali boleh lah kak, suntuk banget di kelas," lanjutnya.


Wira teman David, dia sering datang ke rumah Tere berdua bersama dengan Fahri. Belajar bareng, main game bareng, dan sering juga nginap di rumah Tere.


Wira memilik wajah yang tampan, tidak kalah tampan dengan David, tampilan bad boy sangat menempel di dirinya, namun sifatnya nggak bad kok, hanya tampilannya saja.


Dia juga tinggi, putih dan sangat pintar terutama di mata pelajaran kimia, dia sering mengikuti olimpiade-olimpiade gitu.


Wira menganggap Tere seperti adik sendiri dan mungkin lebih.


Sejak awal bertemu Tere, Wira bahkan sudah memendam perasaan padanya, namun hal itu sangat cepat diketahui oleh David dan Fahri, sehingga ia sering menjadi bulan-bulanan dari mereka berdua itu.


"Ohhh."


"Aw...." Tere meringis sambil memegang kepalanya.


"Kenapa Re?" tanya Wira panik.


Tere langsung memegang lebih tepatnya mencengkeram lengan Wira.


"Re, lo nggak apa-apa kan?" tanya Wira semakin panik, karena tak ada jawaban dari gadis itu.


Brukkk....