
Ketiga orang itu sedang duduk di sebuah sofa besar di tengah ruangan.
"Jadi Re, ini namanya Bifasca." Tere mengangguk ketika Aldo memperkenalkan anak yang tadi sudah menuduhnya menggrepe-***** badan Aldo.
"Hmmm, nama yang bagus," ujar Tere.
"Dan Bif, ini namanya Kakak Tere."
"Hh, nama aneh," gumam Bifasca pelan, namun masih bisa tertangkap di pendengaran Aldo dan Tere.
"Pfft.." Aldo menahan tawanya saat melihat ekspresi Tere yang seolah mengatakan 'Nyesel gue muji'.
"Tawa lu, tawa aja terus sampe mampus." Tere kesal dan menjadikan ponsel sebagai tempat pelariannya.
"Iya iya maaf. Bifasca... lain kali ga boleh ngomong gitu yah," tegur Aldo sambil membelai rambut anak usia 7 tahun yang tengah memakaikan bedak bayi di wajahnya.
"Hmm," balas anak itu sambil menaikkan kedua alisnya.
Anak itu kembali asik memoleskan bedak bayi menggunakan brush yang ia pinjam dari Buna ke wajah Aldo yang menjadi objek mainannya kali ini.
Namun sesuatu menghentikan pergerak kan tangan anak itu,
"Kakak ini apaan sih?" tanyanya sambil menunjuk pipi Aldo.
"Apaan? Disini?" tanya Aldo sambil menunjuk pipinya.
"Iya."
Aldo langsung mengambil hp dari tangan Tere.
"Ish hape gue Do."
"Pinjam bentar, berkaca doang." Aldo membuka kamera Tere dan melihat apa yang di tunjuk Bifasca di pipinya.
"Ohh, ini mah *** lalat," ujarnya sambil mengembalikan hp itu ke pemiliknya.
Bifasca diam sejenak,
"Gimana sih Kak," Bifasca merenggut sebal.
"Gimana kenapa?" tanya Aldo penasaran.
"Kok Kakak biarin sih lalat pupup di muka Kakak."
Tere yang mendengar hal itu langsung menahan ketawanya, ia berusaha menutup mulutnya yang sudah bergetar.
"Ishh Kak Aldo jorok," ucap Tere seolah-olah ia juga adalah anak kecil yang polos sama seperti Bifasca.
Aldo mengangkat satu alisnya.
"Lu juga banyak." Tangannya beralih menuju muka Tere.
"Ihhh Kak Aldo."
"Lu sih jorok."
"Nih, nih..tuh," Bifasca menunjuk-nunjuk bagian wajah Aldo.
"Ihh...ini *** lalat namanya...emang," Aldo melakukan pembelaan.
~~~
Mobil Aldo memasuki pekarangan rumah Tere.
"Makasih," ucap Tere saat membuka seltbealtnya.
"Buat?"
"Udah ngenalin gue sama anak anak di panti"
"Mereka semua lucu lucu banget, yah walaupun ada juga yang rese."
"Titip salam buat Bifasca, bilang sama dia, pertemuan selanjutnya dia bakalan gue ajak makan."
"Iya nanti gue sampein."
Hari ini Aldo tidak menginap di rumah Tere lagi, karena besok hari senin.
Setelah Tere keluar dari mobil Aldo, mobil itu langsung keluar dari pekarangan dan menuju jalan raya.
Setelah tidak dapat melihat mobil Aldo lagi Tere berjalan masuk ke dalam rumahnya, sebelum sebuah suara menghentikan langkahnya.
Prangg...
Suara piring jatuh dari dapur membuatnya diam kemudian berjalan pelan ke arah dapur.
Terdengar suara isak tangis seorang perempuan sambil memaki maki dari dalam dapur.
"Mama." Badan Tere menegang ketika melihat mamanya sedang bertengkar hebat dengan papanya.
PLAKK...
Angga menampar wajah Ingrid dengan keras hingga wanita itu tersungkur ke lantai.
"AKU LEBIH MEMILIH UNTUK TIDAK MENGENALMU SAMA SEKALI JIKA AKHIRNYA SEPERTI INI!" Terlihat Ingrid yang mengusap kasar pipinya yang memerah dan penuh air mata itu.
"APA MAKSUDMU HAH?" Angga melempar piring yang ada di atas meja, membuat Ingrid kembali kaget seperti saat piring yang sebelumnya dijatuhkan.