MY ROOFTOP

MY ROOFTOP
22



Tere duduk di lantai dengan posisi kaki terlipat di depan dada, badannya bersandar di kasur.


Tere mengambil ponsel yang sudah ia cas tadi malam dan melihat jam, jam menunjukkan pukul setengah enam pagi, dia sudah duduk seperti ini selama tiga jam.


Saat terbangun jam setengah tiga malam ia sudah tidak bisa tertidur lagi. Ia hanya memutar lagu melow dari ponselnya.


Ia merasa tidak nyaman dengan keadaannya, ia tidak tau harus bersikap bagaimana saat bertemu dengan Aldo nanti.


Saat tadi malam sampai rumah, Tere langsung masuk kamar lalu berganti baju, enggan mandi karena mungkin ia bisa mati kedinginan kalau saja ia harus mandi lagi.


Waktu pulang saja ia sudah menggigil kedinginan, rasa sakit di kepalanya masih ada tapi entah kenapa hatinya terasa lebih sakit.


Tere merahasiakan dari David soal permasalahan ini, ia tidak mau kakak kesayangannya itu khawatir hanya karena masalahnya.


Tere juga merahasiakan dari Aldo tentang kedatangannya ke rumah Aldo tadi malam dan melihatnya bersama Cila.


Tere berpura-pura tidak mengetahui semua itu, namun entah kenapa hatinya masih merasa janggal.


Tok...tok..tok...


Tere terbangun dari lamunannya dan segera berjalan menuju pintu lalu membukanya.


"Morning, my little princess." David menampilkan sederetan giginya yang putih.


"Morning, Kak David." Tere memeluk David sebentar lalu melepaskannya.


"Kamu belum siap-siap? Ini udah jam setengah enam loh." David menatap wajah Tere.


Gadis itu tidak menjawab.


"Kamu sakit?" David menyentuh dahi Tere. Tere memegang tangan David yang berada di dahinya.


"Badan kamu panas Re, nggak usah sekolah dulu, nanti kakak minta izin ke wali kelas kamu." ujar David.


"Iya kak." Tere kembali memeluk tubuh David. Entahlah sekarang ia sangat butuh pelukan.




Koridor sekolah tampak begitu padat, Tere berjalan sendirian di tengah kerumunan siswa yang baru datang juga.



Sudah tiga hari Tere tidak masuk sekolah karena sakit.



Sejak hari pertama Tere tidak masuk Aldo langsung mengirimkan pesan kepada Tere.



**LINE**



**Aldo** :


Re, lo nggak masuk sekolah? Lo sakit?



**Tere** :


Iya gue sakit:"\)



**Aldo** :


ohh unta liar bisa tepar juga yah? Sakit apa lo? Rabies?



**Tere** :


Wahhh kurang ajar, ku tepok ga jadi orang kau.



**Aldo** :


Wkwkwk, emangnya lo sakit apa sih?



**Tere** :


Gue masih mules gara\-gara rujak kemarin.



**Aldo** :



**Tere** :


Heh, temen lagi sakit gini di becandain mulu.



**Aldo** :


Iya deh, bentar pulang gue ke rumah lo, mau nitip apa?



**Tere** :


RUJAK:\)\)\)



**Aldo** :


\-\_\-



**Tere** :


Hehe, ya udah inces mau istirahat dulu, bye.



**Aldo** :


Oke, bye.



Namun tiap kali Aldo ke rumah Tere, Tere pasti sedang tidur. Lebih tepatnya berpura\-pura tidur, sepertinya ia masih belum siap untuk bertemu dengan Aldo.



"TEREEE!!" Suara cewek dari arah parkiran di belakangnya membuat Tere membalikkan badannya.



"Audri?" Tere menunggu Audri menghampiri dirinya. Audri satu satunya teman selain Aldo yang sering berbicara dengannya.



"Kenapa Dri?" tanya Tere penasaran.



"Nggak kenapa\-kenapa, gue manggil lo supaya kita jalan ke kelas sama sama aja, hehe." Audri cengengesan.



"Gue cincang juga lu, gue kira ada apa lo neriakin nama gue kayak tadi." Tere mengancang\-ancang tangannya hendak memukul bahu Audri. Namun ia hanya ancang\-ancang tidak benar\-benar memukulnya.



"Hehe, nggak sih, gue cuma kaget aja, lo hilang beberapa hari," ujar Audri sambil memeluk tangan Tere.



"Gue sakit kali bukan hilang." Tere mencubit lengan Audri.



"Aww hehe," Audri cengengesan.



"Tumben banget lo datang sendiri, Aldo mana? biasanya kan lo berdua nempel mulu kayak perangko, nggak bisa di lepasin," pinta Audri sambil menyatukan kedua telapak tangannya, lalu berusaha melepaskannya, seolah\-olah tangannya itu seperti perangko yang merekat sangat keras.



"Ohh, gue tadi pagi bareng Kak David, jadi nggak bisa sama Aldo." Beberapa meter lagi mereka sampai di depan kelas, namun tangan Tere di tahan dengan tangan Audri.



"Tunggu, tapi yang gue permasalahin sekarang itu, Aldo sama Cila yah?" Audri menatap wajah Tere.