MY ROOFTOP

MY ROOFTOP
29



Satu tamparan berhasil mendarat mulus di pipi kiri Aldo. "Gila lo yah, otak lo dimana? Otak lo belum bangun, tau nggak?"


"Lo kira gue pingsan itu gue rencanain?buat apa gue pingsan kalau cuma untuk nyusahin orang? Pemikiran lo kekanak-kanakan." Suara Tere meninggi mengakhiri pembicaraan mereka berdua.


Atmosfir ruangan ini terasa sesak, Tere merasa Aldo sudah benar-benar berlebihan, mata gadis itu berkaca-kaca.


Tere menatap Aldo marah, Aldo hanya balas menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Gue kecewa sama lo." Tere memukul dada Aldo pelan, lalu meninggalkan Aldo di dapur sendirian.


David yang sedari tadi berada di kamarnya tidak berniat keluar setelah Wira menyuruhnya untuk tetap di dalam kamar dan membiarkan masalah Aldo dan Tere mereka selesaikan sendiri.


Aldo menarik rambutnya frustasi,


"Cihhh." Aldo memutar bola matanya lalu beranjak mengikuti Tere ke kamar.


Aldo membuka pelan kamar Tere yang tidak terkunci, ia melihat Tere yang sedang baring di kasur menenggelamkan wajahnya di dalam bantal sambil menangis.


Aldo mendekati Tere, "Re... gue minta maaf," ucap Aldo sambil merangkak ke atas kasur, lalu duduk bersila di samping badan Tere yang sedang tengkurap.


Tere enggan mengatakan apa-apa, ia bergeming seakan-akan Aldo tidak ada di situ.


"Sorry, gue tadi kelepasan bicaranya, gue emosi, gue tadi marah," jelas Aldo.


Mendengar kata 'marah' Tere langsung duduk bersila di depan Aldo, mukanya basah karena air mata.


"Emosi?" Tere mengucapkan kembali kata kata yang diucapkan Aldo.


"Marah? Lo marah sama siapa? Sama Kak Wira? Sama gue? Emang gue dan Kak Wira salah apa sampe-sampe lo harus marah?" Mata Tere berapi-api menatap Aldo yang sekarang langsung tertunduk begitu mendengar perkataan yang keluar dari mulut Tere.


"Gue..."


"Gue apa?" sambung gadis itu tajam.


"Gue nggak marah ke lo..." ucapan Aldo terhenti, ia mengangkat wajahnya yang tertunduk dan langsung menatap mata Tere.


"Gue juga nggak marah ke Wira..."


Tere menunggu kata selanjutnya yang akan diucapkan pria itu.


"Gue cuma marah ke diri gue sendiri..."


"Gue nggak bisa ngejagain lo, gue benci sama diri gue yang nggak bisa jagain lo di saat lo butuh bantuan Re..." Aldo memukul-mukul dadanya yang sesak, ia tidak mungkin menangis di depan Tere, tidak mungkin. Tapi, matanya tidak mau diajak bekerja sama, sekuat apa pun dia berusaha menahannya, air matanya tetap keluar.


Melihat Aldo menangis untuk yang pertama kalinya, Tere terdiam dirinya seperti di jatuhkan dari rooftop sekolahnya hingga ke lantai dasar.


Setelah semenit tidak ada suara sama sekali di antar mereka, tiba-tiba Tere langsung memeluk Aldo.


Setelah lama berpelukan, Tere akhirnya kembali membuka suara.


"Gue nggak ngerti sama lo, bego. Gue capek berantem sama lo cuma karena hal-hal kecil kayak gini," tuturnya.


"Iya, maaf...." Aldo mengusap belakang kepala Tere. "Jangan marah," lanjut pria itu.


"Lo, kira-kira dong! masa lo- astagah," ujar Aldo pasrah dengan melihat bajunya yang ia duga pasti akan banyak ingus dari Tere.


"Sorry."


 



Maaf yah ini teksnya agak sedikit hehe biar kalian penasaran aja.



Hai semua ini Author, panggil aja Thor atau kalo mau lebih nyaman panggil sayang juga boleh \\*ditabok \*readers\*. Hehe



Jadi buat kalian semua yang udah mampir di\*work\* aku ini, aku makasih banget, kalian udah mau luangin waktu buat ngehargain karya aku.



Makasih buat like, komen, dan \*supportnya\*.



\*Next\*? komen yah.



Komen yang banyak ga papa, Thor suka baca komenan kalian.



Berani ngehujat? gue block


bcanda sayang.



\*Stay tune\* yah \*guys\*



Love you♡♡



~