MY ROOFTOP

MY ROOFTOP
62



"Mah, Tere pulang," teriak gadis itu dari depan Teras membuat mata Aldo membelalak seketika.


"Nyokap lo datang?" tanya Aldo.


"Iya. Bokap juga," jawab Tere santai sambil membuka pintu rumahnya.


"Kok gak ngasih tau gue sih."


"Nggak penting," balas Tere.


"Pentinglah, kesan pertama ketemu calon mertua tuh harus bagus...." Ia menghentikan perkatannya sejenak.


"Ini gimana coba? Udah butek, keringatan, bau lagi," lanjutnya.


"Aldo, lo mau gimana pun tetap gitu gitu aja," jawab Tere sambil masuk ke dapur dan mengambil gelas lalu mengisinya dengan air es yang berasal dari dalam kulkas


"Gitu gitu aja... maksud lo tetap ganteng?" Tere memberikan tatapan sinisnya ke Aldo membuat pria itu tertawa.


Ia kemudian meneguk gelasnya hingga air di dalamnya habis.


"Hhh, lo ganteng? Mana ada." Gelas di tangan gadis itu beralih ke tangan Aldo.


Aldo berjalan ke arah kulkas dan mengambil air dingin dari dalamnya dan menuangkannya ke gelas yang tadi habis di pakai Tere, dan meneguknya dalam sekali tegukan.


"Eh Tere, udah pulang?" Ingrid muncul dari balik pintu dapur.


"Iya ma." Tere berjalan ke arah mamanya dan langsung memeluknya.


"Wah siapa nih cowok tampan di dapur kita?" Aldo berjalan ke arah Ingrid dan langsung menyalaminya.


"Perkenalkan tante, saya Aldo, calon menantu tante," ia memperkenalkan dirinya sambil mengedipkan satu matanya ke arah Tere, membuat Ingrid Terkekeh.


"Ish, jangan percaya ma, musyrik."


"Heh," Aldo menarik rambut Tere namun secepat mungkin mengelusnya kembali sebelum singa di dalam diri Tere bangun.


Ingrid hanya bisa tertawa melihat kelakuan mereka.


"Ya udah mama naik ke kamar dulu yah, kalau mau makan ada di atas meja."


"Iya ma."


"Iya calon mertua."


Tere kembali menatap sinis Aldo.


"Lo mau banget jadi suami gue?"


"Ga."


"Gue maunya jadi istri David." Satu jitakan mulus mendarat di kepala Aldo.


"Lo ngomong gitu lagi gue cabut alis lo."


 ~~~


"*Kak."


"Kakak dimana...kenapa belum nyusul?"


"Rey takut sendirian disini."


Suara itu terdengar dari kegelapan di ujung gelap sana.


Itu... Reyhan.


"Reyhan," aku memanggilnya, membuatnya yang sedari tadi memunggungiku langsung berbalik menghadapku.


"Kakak..." dia memanggilku dengan tatapan ketakutan.


"Sini kak, ikut Reyhan."


"Sini!"


"Ikut Reyhan!"


Suara itu semakin bersahut sahutan di telingaku, aku sekarang tidak bisa mendengarnya dengan jelas, suaranya seperti tertimpa oleh suara deras arus air.


Melihatnya lebih jelas lagi, ku lihat air keluar dari mata dan mulutnya. Ia pun berbicara dengan kesusahan sekarang, seketika semua menjadi gelap.


Sebuah sentuhan di pinggang membuatku kaget dan langsung berbalik. Di belakang ku ada Reyhan, dengan tampilan yang bonyok, wajahnya penuh luka borok dan berwarna biru legam, badannya dipenuhi dengan cairan lengket yang akupun sama sekali tidak tau apa itu.


"Pada akhirnya, semuanya akan lenyap, bukan? Lantas apa bedanya lenyap sekarang dan nanti?! Ayo ikut." Ucapnya sebelum kepalanya terjatuh, terlepas dari badannya*.


"HAH!" Tere terbangun dari tidurnya, matanya langsung menatap Angga, Inggrid, dan David yang sudah mengelilinginya dari tadi berusaha membangunkannya yang tidur sambil menangis dan meracau tidak jelas.


"Kenapa Re?" David mengambil alih tubuh Tere dan menariknya kedalam dekapannya.


"Ma ambilin obatnya!" Angga menyuruh Ingrid untuk mengambil obat Tere di atas meja samping tubuh Ingrid.


Ingrid mengangguk paham dan langsung mengambil beberapa jenis obat disana dan langsung memberinya ke David.


"Kak...Tere mimpi Reyhan lagi...." Suaranya begitu kecil, namun dapat didengar oleh orang di ruangan itu.


Pandangan Tere tertuju pada sebuah dinding kosong disana.


"Dia... dia selalu saja minta Tere buat ikut dia." Tangannya menunjuk nunjuk sesuatu di dinding kosong itu.


Angga, Inggrid, dan David mengikuti arah tangan Tere, namun mereka sama sekali tidak melihat apa apa disana.


"Pergi!," cicit Tere pelan.


"Pergi...."


"GUE BILANG PERGI!!" Tere mengambil lampion kaca di samping kasurnya lalu melemparnya ke arah dinding kosong itu.


PRANGG!!


"PERGII!"


"Re sadar," ucap David sambil mengunci kedua tangan Tere yang hendak mengambil barang lain untuk dilempar.


"PERGI!"


"TERE!" David langsung berpindah tempat tepat di depan Tere, membuat gadis itu tidak dapat melihat ke dinding yang sedari tadi menjadi objek kemarahnnya.


"Minum!" Ia memasukkan paksa obat yang sedari tadi ia pegang ke dalam mulut Tere dan meminumkannya segelas air putih.


Setelah berhasil menelan obat yang dipaksakan masuk oleh David, sekarang gadis itu sudah lumayan tenang, walaupun nafasnya masih saja tersenggal\-senggal.


"Kak, apa kalau Tere ikut Reyhan...semuanya akan jadi lebih baik?" tanyanya sambil menatap lekat wajah kakaknya, meminta jawaban terbaik darinya.


"Jangan pernah berfikir sekalipun untuk ikut dengan Reyhan." Ia memeluk erat tubuh adiknya yang sudah lebih tenang dari sebelumnya.


Ia membaringkan tubuh adiknya dan mengecup matanya.


"Karena kalau kamu ikut Reyhan, kakak ga akan segan segan untuk ikut dengan kamu."