MY ROOFTOP

MY ROOFTOP
50



"Suprise!"


"Kakak pulang?"


Tere langsung berlari ke arah pria itu dan memeluknya.


"Tere kangen kaaa."


"Iya kakak juga kangen."


Setelah lama berpelukan Tere meregangkan pelukannya dan menatap wajah kakaknya.


"Kakak kok pulang gak ngabarin Tere dulu."


"Kalo ngabarin bukan suprise dong namanya." David mengacak-acak pelan puncak kepala adiknya itu.


"Ya udah kakak mau mandi dulu yah, gerah abis perjalanan seharian,"


"Iya kak." Tere membantu mengangkat tas David yang ia yakini banyak snack untuknya di dalam sana.


"Aldo mana?" Tanya David sambil menarik kopernya masuk ke dalam kamar.


"Gak tau," jawab Tere seadanya sambil mengekor di belakang David.


"Gak tau? Dia gak ngabarin?"


"Iya."


"Tumben," kata David sebelum masuk ke dalam kamar mandi.


"Kakak mandi dulu, kalo kamu lapar ambil aja makanan di dalam tas kakak," ujar David sambil mengeluarkan kepalanya dari balik pintu kamar mandi sebelum menariknya kembali dan mengunci pintu kamar mandi dari dalam.


"Iya kak." Tere mulai mengobrak-abrik isi tas kakaknya itu, mendapati sekantong ciki membuat senyumnya merekah.


 


"Gimana keadaan papa?" Tanya Tere yang sudah duduk nyaman di atas sofa ruang keluarga, jam menunjukkan pukul 7 malam.


"Baik baik aja, papa cuma keasikan kerja jadi gak tau waktu dan akhirnya sakit."


"Ohhh...."


"Bukan karena berantem sama mama kan?"


David kaget mendengar pertanyaan adiknya, namun ia segera menjawabnya,


"Nggak lah, papa dan mama baik-baik kok di sana, gak berantem kayak dulu lagi."


"Aldo belum datang?" David mengalihkan pembicaraan.


"Kakak ngapain nanya Aldo mulu sih? Lebih kangen Aldo dibanding aku?" Tere memajukan bibir bawahnya.


"Gitu aja ngambek dek, kakak cuma mau ketemu aja, ada yang mau dipbicarain."


Tere mendengus kesal.


Malam ini Tere manja sekali ke Kakaknya, ia selalu ingin berada di dekat David.


Saat makan malam ia ingin duduk di samping David dan sesekali minta suap ke David, sekarang pun kepalanya lagi tiduran di atas paha david.


"Manja banget si dek, udah gede juga."


"Ga papa, Tere kan manjanya ke kakak doang, nggak ke yang lain."


"Cih, bilangnya gitu, tapi selama kakak di Jakarta kamu pasti manja manjaan mulu sama Aldo, hayo ngaku!"


"Nggak lah kak, mana mungkin."


"Mana mungkin?"


"Iya, kan sekarang Aldo udah punya pacar."


"Hah pacar? Kok kakak gak tau?"


"Kakak ini siapa Aldo sih? Istrinya? Masa biar pacarnya kakak juga harus tau."


"Yah gak istri juga lah dek, suami kek, masa iya kakak yang gagah ini jadi istri."


"Ada apa sih dek?"


Mereka bertatapan sejenak, sebelum Tere mengalihkan pandangannya,


"Ga ada apa apa." Tere tau pasti kakaknya sudah menyadari perubahan perilakunya sejak tadi sore.


"Kalau emang mau cerita, cerita aja, kakak siap dengerin." David mengusap kepala Tere.


Tere bangun dari tidurannya, ia kini duduk bersila di atas sofa tepat di samping David.


Mereka bertatapan beberapa detik, sebelum akhirnya setitik air mata yang tanpa aba-aba  jatuh ke pipi Tere.


Membuat sang kakak langsung mengelap air itu menggunakan jari jempolnya.


"Kenapa?" tanya David sekali lagi, namun bukannya suara yang keluar namun air mata yang terus keluar.


David hanya bisa tersenyum sendu, ia menarik kepala adiknya dan di sembunyikan di ceruk lehernya,


"Nangis aja dulu, puasin nangisnya."


"Tapi ingat, setelah nangis kamu utang cerita sama kakak." David mengelus rambut Tere sayang, siapa yang berani membuat adiknya kembali menangis?


Setelah tangisannya sudah mereda, David meregangkan pelukannya.


"Tere suka sama Aldo," ucap Tere sambil menunduk. Ucapan itu tidak terlalu membuat David kaget, ia sudah sejak lama meyadari perasaan adiknya ini ke Aldo.


"Terus?"


"Sekarang Aldo udah punya pacar, Tere bisa apa?"


"Kak...Tere takut."


"Takut kenapa?"


"Tere takut Aldo udah gak mau main lagi sama Tere."


"Emangnya Aldo kenapa?"


"Aldo pacaran sama Cila."


"Cila yang datang sama Wira pernah?"


"Iya kak."


"Kok mereka bisa pacaran?"


"Tere juga gak tau." Tere mengelap ingusnya menggunakan tisu.


"Yah walaupun Aldo punya pacar, Tere kan tetap bisa temanan sama Aldo."


"Gak kak, kali ini beda, gak kayak dulu lagi... Tere ngerasa jarak Aldo dan Tere sudah sangat jauh." Ia kembali terisak.


David mengusap punggung adiknya.


"Kalau emang jaraknya terasa sangat jauh, Tere gak berniat buat memperdekat jarak lagi? Kan bisa."


"Emang bisa kak?"


"Bisa lah Re."


"Kakak saranin kamu harus ajak Aldo buat bicara empat mata, tanya apa yang sebenarnya kalian berdua inginkan, bicarakan baik baik dan cari jalan keluarnya supaya kalian berdua sama sama bahagia."


Tere memeluk kakaknya kembali.


"Makasih sarannya kak, Tere gak tau harus gimana kalau kakak gak ada." Tere mengusap usap hidungnya di leher David.


"Jadi beberapa hari ini kamu sedih ya? Gak ada kakak dan gak ada Aldo."


"Pake nanya."


"Iyalah, Tere ngerasa hampa banget, butuh tempat buat bersandar, eh Kak David dan Aldo malah gak ada," lanjut gadis itu.


"Hampa? Kasian adik kakak, sini sini sandar." David semakin mengeratkan pelukannya