MY ROOFTOP

MY ROOFTOP
54



Suasana kelas tidak begitu ramai, masih ada beberapa siswa yang terus menceritakan tentang perkelahian di parkiran tadi, dan ada juga yang sudah melupakannya dan memilih untuk mendiskusikan hal lain.


Tere terlihat sedang duduk diam di samping audri, matanya kosong menatap kedepan papan tulis sambil mendengar candaan garing  yang sering Aldo lontarkan untuknya, tapi kali ini beda, candaan garing itu bukan untuknya melainkan untuk Cila yang sekarang duduk di belakangnya.


"Re, lo kenapa?" Audri yang sedari tadi hanya diam langsung menghadap ke Tere, ia menggenggam kedua tangan Tere yang sedari tadi terletak di atas meja.


"Kenapa sih Dri?" Berniat melepaskan pegangan tangan Audri, namun Audri menahannya dengan keras, dan Tere pun pasrah.


"Gue nggak kenapa kenapa." Tere menjawab dengan tenang, tenang dengan semua kebohongan yang baru saja ia katakan.


Nggak kenapa kenapa?


Mana mungkin nggak kenapa kenapa, matanya  yang membiru karena habis dipukul, rambut yang diikat sembarangan, dan mukanya yang sembab sudah membuktikan bahwa ia sama sekali tidak baik baik saja.


Hati Audri tiba tiba saja berdesir, ia seperti ikut merasakan apa yang dirasakan sahabatnya ini, ia langsung memeluk Tere.


"Ehh ngapain peluk-peluk sih ini?" tanya Tere heran.


"Udah, diem dulu."


"Gue lagi pengen meluk aja," ucap Audri sambil menepuk nepuk punggung Tere dan menaruh dagunya di atas bahu Tere.


"Makasih Dri."


"Iya sama sama."


Sementara dari belakang mereka, seorang lelaki yang sedari tadi melawak tiba tiba menatap Tere yang sedang berada di pelukan Audri, dengan perasaan yang teramat sangat bersalah.


Ia yang tadi berniat lari ke tengah kerumunan dan melerai perkelahian di sana dicegah oleh Cila.


"Mau apa kesana? Dia nggak butuh lo, mau di permaluin?"


Aldo mengurungkan niatnya dan kembali membantu Cila berjalan masuk ke dalam kelas.


Dan betapa terkejutnya dia saat mendengar cerita yang diceritakan oleh Fira, ketua kelas mereka tentang detail perkelahian Tere dan Bela tadi pagi. Melihat David yang mengantar Tere sampai ke depan kelas sambil mengelap air matanya membuat hati Aldo seperti teremas.


Sungguh Aldo bersumpah sama sekali tidak menyukai keadaan seperti ini, ia merasa tidak nyaman, tapi entah kenapa ia sama sekali tidak punya keberanian untuk mendekat ke Tere setelah mendengar perkataan Cila.


 q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q. q q q q q q q q q