
Sekarang sudah pukul empat sore, Tere dan Aldo sedang menonton TV berdua dikamar Tere, ruangan tersebut sangat sepi, hanya suara TV saja yang terdengar.
Biasanya mereka tidak akan kehabisan cerita kalau sudah bertemu, mulai dari menceritakan teman sekelas mereka, sampai menceritakan harga bakso di kantin yang semakin hari-harganya semakin melambung tinggi
Tapi saat ini mereka berdua diam, mereka sama-sama sedang memikirkan sesuatu di dalam kepala mereka.
Ting..tong..ting..tong..
Suara bel berbunyi, disusul dengan suara David yang sepertinya sedang menyambut seseorang.
Selang beberapa menit,
"Tere!" Wajah Wira muncul dari balik pintu. Aldo menaikkan satu alisnya tanda tak suka.
"Hai Kak Wira!" Tere mengembangkan senyumnya saat melihat malaikat penolongnya tadi siang.
"Lo udah baikan?" Wira mendekat ke arah Tere, sambil membawa bingkisan buah di tangan kanannya.
"Iya kak, Tere udah agak baikan." Tere masih tetap mempertahankan senyum manisnya, namun saat melihat seseorang yang muncul dari belakang Wira, senyum Tere memudar.
'Kok ada dia?'
Tere segera melihat ke arah Aldo, Aldo yang sudah melihat seseorang yang muncul dari belakang Wira pun langsung tersenyum lebar.
Tanpa sadar Tere membuang nafasnya kasar.
"Hai Tere," sapa Cila sambil menampilkan senyum manisnya.
"Hai." balas Tere singkat.
"Lo sama siapa kesini?" tanya Aldo tiba-tiba ke Cila.
"Sama Kak Wira, gue tadi numpang sama dia," jelas gadis itu.
"Ohhh."
Tere yang melihat percakapan mereka berdua langsung memutar bola matanya dan naik ke atas ranjangnya.
Wira kemudian menaruh buah-buahan yang dia bawa ke atas meja, lalu duduk di sisi ranjang Tere.
"Lo masih pusing?" Wira menempelkan tangannya di dahi Tere.
"Lo kalau sakit mending jangan sekolah dulu, nanti takutnya lo pingsan lagi, contohnya seperti tadi, bayangin kalau gue nggak ada di rooftop tadi---" kalimat Wira terpotong.
"Kalau lo nggak ada, masih ada gue," sergah Aldo ketus.
Wira hanya bisa memasang ekspresi bingung ketika mendengar perkataan adik kelasnya itu.
"Bukan cuma lu doang yang bisa nyelamatin Tere gue juga bisa! Jangan merasa terlalu merasa berjasa," lanjut Aldo bertambah ketus.
"Bentar yah kak," ucap Tere, langsung turun dari kasur dan menarik tangan Aldo.
Baru saja Wira ingin membuka suara namun Tere langsung menyeret Aldo keluar kamar, meninggalkan Cila dan Wira berdua di sana.
Cila baru saja ingin mengikuti mereka namun Wira sudah menahan tangan Cila.
"Biarin mereka bicara berdua." Wira yakin sekali saat ini pasti Aldo sedang cemburu terhadapnya.
"Kita pulang, pamitnya sama David aja, gue yang anter lo pulang."
Belum sempat Cila membuka suara, Wira sudah menariknya duluan keluar kamar dan menuju ke kamar David.
Cila hanya memutar bola matanya lalu membiarkan dirinya ditarik Wira.
"Kok lo ngomongnya gitu sih?" tanya Tere saat sudah sampai di dapur.
"Emang kenapa? Emang benerkan dia ngungkit-ngungkit masalah tadi siang seolah-olah dia udah berjasa banget buat hidup lo." Aldo meletakkan gelas berisi air yang baru saja diminumnya di atas meja.
"Maksud Kak Wira bukan gitu Do, Dia udah baik banget mau nolongin gue, mau bawa gue ke UKS..."
"...Come on, jangan gini lah, nggak jelas banget si lo."
"Lo yang nggak jelas," balas Aldo kasar. "Seneng lo di angkat sama Wira? Lo suka dia kan? Dasar genit," tuduh Aldo sambil menatap tajam ke arah Tere.
"Lo kenapa sih?" tanya Tere tidak terima.
"Lo yang kenapa? Waktu gue ngajak ke kantin lo nggak mau, gue kan udah bilang kalau butuh apa-apa lo sisa nelfon gue, bukannya ke rooftop dan malah ketemuan sama Wira, terus pingsan." Aldo berjalan mendekati Tere dan mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu.
"Atau lo sengaja pingsan supaya bisa di angkat Wira?" lanjutnya.
Plakk...