MY ROOFTOP

MY ROOFTOP
33



"Aldo, ikut ibu ke ruang guru sekarang!" Suasana kelas yang ribut dikarenakan guru seni budaya yang tidak masuk membuat semua orang di kelas itu mendadak hening dan menengok ke arah sumber suara yang berdiri di depan pintu.


Bu Cia, guru yang terkenal sangat ramah dan baik, namun akan sangat kejam kepada anak yang tidak taat aturan.


Aldo yang merasa terpanggil namanya langsung berbalik menghadap ke pintu.


"Ke ruangan ibu? Ngapain?"


"Nggak usah bertanya, cepat ikut saya"


"Bu ada pepatah yang mengatakan, malu bertanya sesat di jalan, jadi saya harus bertanya." Aldo berdiri dari kursinya.


"Kamu ini-" Perkataan Bu Cia dipotong oleh Aldo.


"kalau nggak bertanya nanti saya tersesat di jalan, terus hilang."


"Bicara ngelan-"


"Kalau saya hilang nanti ibu rindu gimana? Kata Dilan rindu kan berat bu, emang ibu bisa nahan rindu ke orang ganteng kayak saya?" Bu Cia berjalan gemas ke arah Aldo dan langsung menarik kuping Aldo dan menyeretnya keluar.


"Dasar bego." Tere selaku teman sebangku Aldo hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya, lalu kembali memasang earphone di kedua telinganya dan menikmati alunan lagu closer - the chainsmoker.


Baru beberapa detik menutup mata menikmati lagu tersebut, tiba-tiba....


"Di luar ada Kak David, nyariin lu." Fira tiba-tiba saja sudah muncul di depan Tere.


"Hah, Kak David, ngapain?" tanya Tere kepada Fira.


"Mana gue tau, lu keluar sana."


Tere berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju luar kelas. Di depan kelas Tere sudah terlihat David, Wira dan juga tak lupa ada Fahri.


"Hay kakak-kakak ku semuanya." Tere menyapa ketiga orang itu.


"Hay."


"Hay Re," jawab Wira dan Fahri serentak.


"Kakak ngapain ke kelas Tere?" tanya gadis itu sambil merangkul lengan David.


David menghela nafas panjang.


"Kakak sekarang mau ke bandung."


Gadis itu hanya diam menunggu kakaknya lanjut berbicara.


"Tadi Bi Tina telfon kakak, kata Bi Tina papa sakit." David memegang puncak kepala Tere.


"Papa sakit? Sakit apa? Kok bisa?"


tanya gadis itu agak panik.


"Papa cuma sakit biasa, palingan cuma karena kecapekan, tapi kakak tetap harus ke bandung buat mastiin keadaan papa," jelas David.


"Tere ikut yah," Tere mulai bergelayutan di tangan David.


"Nggak boleh," ucap David tegas.


"Kamu nggak boleh ikut, kalau ikut kamu bakalan ketinggalan materi dan susah buat ngejarnya," lanjut David.


"Kakak kan kalau pergi bakalan ketinggalan materi juga."


"Tere nggak usah ikut, kakak disana juga nggak lama-lama banget kok." Ucap David berusaha merayu.


Tere mendengus kesal.


"Ya udah deh, tapi Kak David pulangnya jangan lama-lama yah."


"Iya, begitu urusan tentang papa selesai, kakak bakalan langsung pulang."


"Iya kak."


"Sekarang Kak David pulang dulu, ambil baju, trus langsung pergi."


"Ini kunci rumah yang satunya, jangan dihilangin yah."


"Iya kak." Tere mengangguk lalu mengambil kunci dan langsung memeluk David.


David balas memeluknya.


"Ya udah kalau begitu kakak mau izin dulu sama wali kelas kakak." Kata David sambil melepaskan pelukannya.


"Iya kak, kakak hati-hati di jalan."


"Iya kalau gitu, sekarang kamu masuk kelas, jangan buat masalah, jangan nyusahin Aldo juga."


"Siap kak." Tere lalu berjalan masuk kembali ke dalam kelasnya.


David dan kedua kawannya berjalan menjauh dari kelas Tere.


Setelah sampai di depan ruang guru, Fahri mencegat tangan David.


"Dav lo yakin nggak ngasih tau Tere yang sebenarnya?" Tanya Fahri.


David menghembuskan nafasnya kasar.


"Yakin, dan lo berdua jangan bilang siapa-siapa tentang masalah ini," David menatap kedua sahabatnya bergantian.


"Iya, percaya sama gue." Wira menepuk pelan belakang David.


"Jangan percaya sama Wira, Dav." David dan Wira serentak menoleh ke Fahri.


"Kenapa?" Tanya David dan Wira serempak.


"Jangan percaya sama Wira.... Musyrik."


Tangan Wira langsung melayang menuju ke bahu kanan Fahri.


Namun Fahri dengan sigap menghindar.


"Haha nggak kena." Fahri menjulurkan lidahnya ke luar, mengolok-olok Wira.


"Ish, anj*ng."


"Astaga, Wira kok ngomongnya kasar gitu, sih!" ujar Fahri dengan suara yang sengaja dikeraskan, sehingga beberapa orang yang sedang berkumpul di depan ruang guru refleks menoleh kearah mereka dengan tatapan menyalahkan Wira.


"Bodo amat!" Kata Wira sambil menyeret David untuk segera masuk ke dalam ruang guru, meninggalkan Fahri sendirian di luar.