MY ROOFTOP

MY ROOFTOP
92



"Perkenalkan saya Aldo... ingin menyanyikan sebuah lagu... sebenarnya saya tidak begitu suka..."


"...tapi seseorang sangat menyukainya." Perkataannya membuat satu kafe diam.


"Ini lagu yang disukai seseorang yang spesial dalam hidup saya." Perkataannya membuat para pengunjung menyorakinya dengan siul siulan.


Aldo tertawa.


"Semoga kalian suka."


Pria itu mulai memetik gitarnya.


"Dan dia juga suka...." ucapnya diakhiri sebuah senyuman.


Suara merdu Aldo mulai bersanding dengan suara Indah gitar yang ia petik.


Senyuman terlukis di wajahku


Di saat ku mengingat kamu


Tawamu menjamu membuatku rindu


Tak sabar ingin bertemu


Dada Tere berdesir mendengar suara Aldo. Ini adalah lagu kesukannya, apakah lagu ini untuknya? Hey kenapa gadis ini begitu mengharapkannya.


Suara lembut menyapa aku


Lembutnya selembut hatimu


Tulusnya setulus cinta padaku


Ku sadar beruntungnya aku


Audri sudah tidak berada di meja itu, ia sedari tadi memanggil Tere untuk menemaninya ke toilet namun gadis itu terlalu terpaku dengan malaikat tampan yang sedang menyanyi di atas panggung.


Hidupku tanpamu


Takkan pernah terisi sepenuhnya


Karena kau separuhku


Berbagi suka duka


Saling mengisi dan menyempurnakan


Karena kau separuh ku


"Tere!" Seseorang mengguncang keras punggung tangan Tere yang berada di atas meja, membuat gadis itu mengalihkan pandangannya dari atas panggung.


"Iya?" tanya Tere dengan menaikkan kedua alisnya.


Tere terdiam.


"Aldo sweet banget nyanyiin lagu itu buat gue, gue makin cinta sama dia."


"Oh ya?" Ada sedikit rasa aneh yang ada di dada Tere.


Astaga Re, harusnya lo sadar lagu itu bukan untuk lo. Lo nggak liat mereka begitu dekat. Mungkin Cila adalah orang yang dimaksud Aldo waktu di rooftop sekolah?


"Gue cuma mau ngasih tau aja....jangan sampai lo kegeeran," ucap Cila sinis, suara wanita itu tiba-tiba mendingin.


Tubuh Tere menegang seketika melihat perubahan dratis dari mimik wajah dan suara Cila.


"Tenang saja, lagian itu bukan lagu kesukaan gue kok. Siapa juga coba yang suka lagu kampungan kayak begitu." Yap gadis itu kesal sampai ke ubun ubun dan tanpa sadar demi menyindir Cila, ia menghina lagu kesukaannya sendiri.


Sepertinya Tere mulai mengetahui kenapa gadis ini begitu dibenci Audri.


 


"Gimana, suka lagunya?" tanya Aldo begitu mendaratkan pantatnya di tempat duduknya semula.


"Ga."


"Lagunya jelek."


"Suaranya jelek."


"Ngapain nyanyi sih?"


"Bikin badmood tau nggak."


Jawaban Tere sontak membuat Aldo dan Audri yang baru saja duduk menjadi kaget.


Kenapa gadis itu tidak menyukainya? bukankah ini lagu kesukaannya. Terus untuk urusan suara, bukan kah suara Aldo sangat indah dan merdu.


Niat awal Aldo menyanyi adalah untuk menghibur Tere dan membuat gadis itu tersenyum seperti biasanya. Di awal lagu ia masih melihat lengkungan di bibir gadis itu, tapi kenapa sekarang ia malah bersikap sebaliknya.


"Re, kita ke dokter THT mau gak?" tawar Audri setengah bercanda.


"Ga."


"Lo gak suka?" tanya Aldo, ia mengharapkan jawaban yang lain.


"Kenapa nanya pendapat gue? Tanya pendapat Cila dong, yah kan Cil?" usul Tere sambil memberikan senyum manis ke Cila. Namun gadis itu hanya tersenyum polos.


Sok polos maksudnya. -Author kesel


Mereka semua makan dalam keadaan hening, mood Tere yang turun membuat tiga orang di sekelilingnya ogah untuk berbicara. Baru berbicara sedikit pasti langsung dipotong oleh gadis itu.


"Sekarang kita pulang," ujar Tere setelah menghabiskan air mineralnya. Ia berjalan keluar dari kafe tempat mereka makan.