
Gadis itu langsung menjauh diri dari pria itu dan mempercepat langkahnya, terjadi lah aksi kejar kejaran di koridor kelas oleh mereka berdua.
Aldo terus saja membujuk Tere agar memelankan langkahnya, takut saja kalau gadis itu tiba tiba jatuh karena ikatan tali sepatunya yang sudah tidak sempurna.
"Re, pelan pelan jalannya!" tegur Aldo. Namun gadis itu tidak mengindahkan perkataan Aldo dan malah menambah kecepatan jalannya.
Mereka berdua pun sampai di area parkir sekolah, gadis itu berjalan di depan Aldo dan langsung masuk ke mobil setelah Aldo membuka kunci mobil itu.
"Bentar dulu." Aldo menahan pintu depan penumpang yang ditarik Tere agar tidak tertutup.
Aldo membuka lebar pintu mobil itu dan berjongkok di sebelah Tere yang duduk. "Siniin kaki lo." Tere hanya mengerutkan dahinya.
Siniin kaki? lo minta kaki gue? Batin Tere.
Melihat Tere tidak merespon ucapannya, Aldo menarik kaki Tere yang tadi menghadap ke depan kini menjadi menghadap ke arah samping, yaitu ke arahnya.
Aldo meraih tali sepatu Tere yang sudah tidak terikat, lalu mengikatnya kembali menjadi model kupu-kupu. "Lo jatoh, gue yang kena tonjok David," ujarnya setelah selesai merapikan ikatan sepatu Tere.
Ia menutup pintu depan penumpang kemudian memutari mobil dan masuk ke tempat pengemudinya.
Melajukan pelan mobil miliknya menuju ke luar sekolah. Cuaca yang tadinya sangat panas entah kenapa sekarang malah menjadi hujan deras, dingin terasa sangat nyata di dalam mobil itu.
Tere duduk di sebelah Aldo, matanya terus menatap ke jalanan tanpa memperdulikan Aldo yang sedari tadi mengajaknya bicara. "Re, masa iya lo marah cuma gara gara gue main game?" tanyanya namun tetap tak mendapat tanggapan.
"Ya udah gue minta maaf," ucapnya sekali lagi, namun gadis itu tetap tak bergeming.
"Re, kok gue didiemin sih?" ucap pria itu mulai kesal.
Hening.
"Biar matangnya merata yah?" lanjutnya lagi.
Hal itu hampir saja membuat Tere tertawa, namun gadis itu menahannya dan memasang kembali ekspresi flat-nya.
"Lo sih bikin kesel aja, tadi katanya mau ngajakin main basket, ehh taunya gue ditinggalin main MOBA."
"Iya, gue minta maaf yah," ucap Aldo sambil menaikkan tangan kirinya ke puncak kepala Tere. "Gue nggak bakal ngulangin lagi, ga usah ngambek."
Tangan kiri pria itu mengusap puncak kepala Tere tanpa menoleh, salah satu jurus yang sering ia lakukan agar sahabatnya itu tidak marah lagi.
Di lapangan basket sekarang sangat riuh dan ricuh, para siswa siswi teriak\-teriak memberi semangat kepada Aldo dan Tere yang sedang duel basket.
Awalnya sih mereka cuma iseng main biasa saja, dengan taruhan yang menang bakal dapat pancake dari yang kalah. Namun, pada saat mulai bermain mereka tidak sadar bahwa di semua sisi lapangan sudah banyak berkumpul siswa siswi yang ingin menonton pertandingan mereka berdua, yang menimbulkan keributan satu sekolah.
"ALDOO SEMANGAT KAMI MENDUKUNGMU."
"ALDO GANTENG BANGET, CALON GEBETAN GUE."
"ALDO JANGAN MENYERAH LAWAN TERE, HAJAR SAJA," teriak salah satu fans Aldo.
Tere yang mendengarnya hanya memutar bola matanya.
"Di kira gue lagi smack down apa, pake hajar hajar segala," cibir gadis itu.
Namun tidak kalah dengan Aldo, Tere juga memiliki tim penyemangat yang terdiri dari David dan kawan kawan.
Pertandingan berjalan lancar dan seru, Aldo dengan lincah mengambil bola dari tangan Tere, namun Tere tidak menyerah dan merebut kembali bola tersebut.
Pertandingan berjalan dengan cukup lama, dibandingkan kekuatan, tentu Aldo lebih kuat dan ahli dibandingkan dengan Tere, sehingga di menit menit terakhir Tere mulai kelelahan dan berakhir dengan...
Dengan kecewa para pendukung Tere berbalik ke kelas masing masing, dari lapangan Tere melihat David di bangku penonton, David menampilkan senyumannya dan memberi 2 jempol ke arah Tere, kelakuan David lalu di ikuti oleh seluruh teman David yang membuat Tere salah tingkah sendiri, lalu David melambaikan tangannya dan menuju kekelasnya.
Kini tersisa Tere yang berada di sisi lapangan sedang duduk melepas kelelahannya setelah bermain tadi.
Di sisi lapangan lainnya terlihat Aldo yang masih mengadakan jumpa fans, mulai dari cabe kelas 10, 11 dan 12 berebutan memberikan Aldo air minum dan cemilan.
Setelah beberapa menit lapangan benar benar kosong yang tersisa hanya Tere dan Aldo. Disamping Aldo udah ada segunung cemilan dan minuman buat Aldo dari para fansnya.
"Gilaaa banyak banget," kata Tere, takjub melihat segunung makanan.
"Resiko cowok ganteng."
"Najong! Gue kasih cium juga lu ketek gue, masih hangat hangat basah nih," kata Tere sambil melihat dan menunjuk ketiaknya.
"Najis." Pria itu tertawa lepas di depan Tere.
Aldo sangat menyukai sifat Tere yang humoris dan nggak jaim, nggak seperti cewek\-cewek yang berusaha mendekatinya dengan memasang topeng di wajah mereka. Gadis itu begitu alami mulai dari wajah hingga kebodohannya. Sangat alami. Dan Aldo menyukai itu.
"Ehhh ke *rooftop* yuk," ajak Tere tiba\-tiba.
"Ayo, tapi bantu gue urus cemilan segunung ini dulu. Masukin kedalam loker gue," kata Aldo sambil memberikan sekantong ciki ke Tere.
"Siyyaap kapten, tapi bagi ke gue yah," kata Tere dengan cengirannya.
"Iya, ayo cepat." Aldo segera mengemasi barang barangnya.
Sesampainya di *rooftop*....
Embusan angin di ketinggian beberapa puluh meter langsung menerpa wajah Tere dan membuat rambutnya berterbangan.
Lawan bermainnya tadi berdiri disampingnya sedang menikmati embusan angin sambil memejamkan mata.
Baju basket Tere yang kebesaran membuat tubuh Tere dengan leluasa merasakan angin yang berembus. "Ketek gue semriwing, masa," ujarnya tiba\-tiba.
"Ada\-ada aja lo." Aldo tertawa.
"Ehh besok *pancake* gue lo jangan lupa," Kata Aldo mengingatkan Tere akan taruhannya.
"Ohhh iyaa." Tere menepuk jidatnya.
"Kalo gitu sebentar temani gue ke supermarket yahh buat beli bahan bahan yang di perlukan," lanjutnya.
"Emang lo bisa bikin?" tanya Aldo, ia mengira gadis itu hanya akan membelikannya dan bukan membuatkannya.
"Buat pancake mahh kecil."
"Awas aja kalau nggak enak, gue bakalan minta traktir makanan yang mahal."
"Percaya gue, pasti enak," ucap gadis itu sambil percaya diri.
"Ga mau percaya lo."
"Kenapa?"
"Musryik."
Satu cubitan mendarat mulus di perut Aldo.