MY ROOFTOP

MY ROOFTOP
72



Sudah 30 menit semenjak kepergian Tere dan Audri namun mereka masih belum kembali juga.


"Aldo." Tiba-tiba sebuah panggilan membuat Aldo mengalihkan pandangannya ke Bryan yang sedari tadi berbincang dengannya.


"Tere mana?" tanya Aldo ketika melihat Audri kembali sambil berlari tanpa Tere di sampingnya.


"Gak tau, waktu keluar dari toilet Tere udah nggak ada."


"Kok bisa?" Aldo berdiri dari duduknya.


"Gue udah keliling nyari Tere, tapi nggak ketemu."


Tidak perlu mendengar penjelas dari Audri lagi. Aldo merogoh saku dan men-dial nomor Tere. Dalam beberapa kali percobaan itu, hanya kotak suara yang menyahut, menambah kegelisahan Aldo.


"Gak Aktif," ucap Aldo. Ia masih mencoba menghubungi meski saja tetap berakhir sama.


"Gue cari dulu." Aldo berharap kegelisahannya bukan lah apa-apa, melainkan keresahan sesaat.


Namun, hal itu bertambah buruk ketika ia tidak menemukan Tere dimana pun. ia hampir mengelilingi seluruh festival dan memasuki kamar mandi, tapi cewek itu tidak juga terlihat.


"Astaga Re, lo ke manasih?" gerutu Audri yang datang bersama dengan Bryan. "Ketemu, gak?"


Aldo menggeleng, kepalanya penuh memikirkan berbagai kemungkinan.


 ~~~


30 menit yang lalu...


Tere bosan menunggu Audri yang tak kunjung keluar dari Toilet, jarak toilet dan tempat festival lumayan jauh, ia bisa melihat sebuah sungai dari tempat berdirinya saat ini.


Karena merasa bosan ia pun mencari tempat duduk yang tidak jauh dari toilet itu, namun seketika langkahnya terhenti ketika melihat Bela dan teman temannya berjalan lurus ke arahnya.


"Hello, *****!" ucap Bela


Tere mengerutkan dahi dalam keterkejutannya.


Tere mengepalkan tangan, tahu benar jika posisinya tidak bisa melawan, di sana sangat sepi jauh dari keramaian orang\-orang yang sedang menikmati festival itu.


"Akh!" pekik Tere. Dorongan yang tiba\-tiba membuat ia terjatuh dengan telapak tangan menyangga tubuhnya.


Bela bersidekap memandang Tere dan memberi perintah kepada teman temannya. "Ikat tangan dan tutup matanya!" Lalu kegelapan menyelimuti matanya.


 ~~~


Ia berjalan sambil tertatih-tatih, langkahnya di tuntun oleh beberapa orang yang ia ketahui adalah teman-teman Bela. Setelah lama berjalan mereka akhirnya berhenti di sebuah tempat yang terdengar agak berisik di pendengaran Tere.


"Apa yang mau lo lakuin?" terdengar salah seorang teman Bela yang Tere ketahui bernama Intan bertanya dengan nada berbisik.


"Lo nggak usah banyak nanya, cukup ngikutin permainan gue."


"Lo bilang, kita cukup nakut nakutin Tere. Tapi, ini? Lo ngiket dia!"


Bela tertawa, "Kalo lo gak sanggup ngikutin rencana gue-" Bela berbicara sambil menatap wajah Tere, namun ucapannya tertuju untuk Intan. "-lo boleh pergi."


Setelah hening beberapa saat Tere mendengar suara langkah kaki yang menjauh dari tempat mereka berdiri.


Sebuah sentakan tiba-tiba membuka penutup mata Tere. ia harus mengerjap beberapa saat untuk menyeimbangkan penglihatan. Di depannya, ada Bela dan beberapa temannya yang sama-sama menatapnya.


Bela tersenyum. Ia menjangkau rambut Tere, menariknya hingga mendongak. Rasa sakit di kulit kepalanya tak mengaburkan matanya melihat bagaimana wajah Bela menyeringai.


"Uh..." Bela mengusap pipi Tere. kedua tangan Tere membiru karena ikatan yang kencang.


"Lo masih ingat apa yang terakhir kali lo lakuin ke gue?," Bela mencengkeram lehernya. Membuat Tere tersedak.


"Di balik wajah lo yang sok kecakepan ini, ada sesuatu yang terselip di dalamnya." Cengkeraman Bela mengetat di leher Tere.


"Apa yang sebenarnya lo sembunyiin? Psikopat? Monster? Hah!"