MY ROOFTOP

MY ROOFTOP
38



Tere sudah duduk di balkon kamarnya selama dua jam.


Ia menatap kosong apa saja yang ada di depannya.


Gelap. Kamar Tere sangat gelap.


Tidak bukan hanya kamar Tere, tapi rumah Tere sekarang sangat gelap dan sunyi.


Tidak ada David.


Tidak ada Aldo.


Semua lampu di rumahnya ia matikan, hanya cahaya rembulan yang menemaninya.


David juga belum menelfonnya sejak tadi siang.


Entah apa yang Tere rasakan sekarang, yang jelas ia sangat kacau.


Apakah perkataannya sangat berlebihan? Ia tidak menyangka bahwa Aldo akan semarah itu.


gelisah? Iya. Galau? Tentu.


Sakunya bergetar, ia ingat sudah meletakkan ponsel di sana tadi, dirogohnya saku itu dan membuka sebuah pesan.


Sebuah pesan dengan kata kata singkat yang mampu membekukan hatinya.


Masuk rumah atau lo sakit?


Pesan dari Aldo.


Ia langsung mengalihkan pandangannya jatuh ke depan rumahnya, di sana ada mobil Aldo yang sepertinya tidak di rasakan kehadirannya oleh Tere sekitar 1 jam yang lalu, gadis itu terlalu fokus untuk terus mendongak ke atas dan melihat cahaya rembulan.


Di sana lah Aldo, berdiri di samping mobilnya dengan ponsel di telinganya dan menatap Tere.


Ponsel Tere bergetar, tanpa melihatnya lagi gadis itu langsung mengangkatnya dan mendekatkan ke telinganya.


"Masuk." Suara dari seberang sana membuat hati Tere sedikit lebih baik.


"Gue itung sampe 3."


"1," Aldo mulai menghitung.


"2." Tere melanjutkan hitungan Aldo.


"3." ucap Aldo.


"Selamat malam Aldo," bisik Tere dari ponselnya lalu ia masuk ke dalam kamar.


"Selamat malam juga Re," ucap pria itu dengan ponsel yang masih berada di telinganya, walaupun ia tau kalau sambungan itu sudah mati.




"Jemput gue ya Aldo sayang," ucap Tere dengan ponsel yang terpasang di telinganya, terdengar ceria, setelah tadi malam penuh dengan air mata.



Kedatangan Aldo ke apartemennya tadi malam membuat moodnya kembali naik. Ia tidak bisa melepas senyum dari bibir manisnya setelah kedatangan Aldo.



"Yah Re, gue udah di depan rumah Cila, masa iya gue balik lagi jemput ke rumah lo, Kan jauh," jawab Aldo dari seberang sana terdengar santai.



Tubuh gadis itu menegang, bagaimana pria yang telah membuat dirinya begitu senang dan terbang sampai ke awan awan tadi malam, kenapa sekarang ia justru menjadi pria yang membuat hatinya patah kembali.



Bagaimana dunia berputar, bagaimana angin berhembus, bagaimana air mengalir, bagaimana ia yang tadinya bahagia dan senang pada Aldo justru dibuat seperti ini.



"Kok lu jemput dia?"



"Ehh ga... maksud gue, trus gue pergi sama siapa dong? Kak David kan lagi ke Bandung," sambung Tere berusaha membuat suaranya tidak bergetar.



"Susah amat sih, naik ojol bisa ka\-"



Tere mematikan sambungan sepihak, sebelum Aldo menyelesaikan perkataannya.



"Dasar brengsek!"



q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q