MY ROOFTOP

MY ROOFTOP
20



Sekarang sudah menunjukkan pukul 8 malam, Aldo masih santai berbicang-bincang dengan Cila.


Cila masih menunggu penjemputnya yang sampai sekarang belum datang.


Ponsel Aldo terletak di sebelah Aldo dalam Mode silent.


Sementara di tempat lain....


"Aldo mana sih?" Tere membuang nafas kasar, keadaan taman sudah sangat sepi, malahan petir mulai menyambar, sebentar lagi akan turun hujan.


"Mana kepala gue sakit banget lagi." Tere memegang kepalanya yang panas dan dari tadi berdenyut.


Tere menunggu dan terus menunggu, tapi Aldo tak kunjung datang.


Ia sudah menelponnya berpuluh-puluh kali, tetapi tidak diangkat-angkat.


"Padahal lo udah janji mau datang," ucap Tere lirih.


Malam semakin larut, gadis itu tidak dapat menunggu lagi, dengan perasaan marah ia segera memanggil taksi yang lewat lalu melesat menuju ke rumah Aldo .


'Aldo brengsek.'


Di perjalanan menuju rumah Aldo, hujan turun begitu deras.


Setelah beberapa menit berjalan tiba-tiba taksi yang Tere naiki berhenti.


"Kenapa pak?" Tere bertanya kebingungan.


"Tunggu mba saya cek dulu." Supir taksi tersebut keluar beberapa detik dan masuk lagi dengan keadaan setengah basah.


"Aduh! maaf mba, ban taksi saya bocor. Mba tunggu aja dulu disini nanti saya akan menghentikan taksi yang lewat," jawab supir taksi tersebut merasa bersalah.


"Ohh nggak usah pak, saya jalan saja lagi pula tempat tujuan saya sudah deket kok," kata Tere sambil memberikan uang 50 ribu kepada supir tersebut.


"Tidak usah mba, saya kan nggak antar mba sampai tujuan." Supir itu menolak uang yang diberikan Tere.


"Nggak apa-apa pak, diambil saja. Makasih pak kalau begitu saya duluan yah." Tere memberikan uang tersebut ke tangan bapak itu, lalu turun dari taksi dan berlari-lari kecil sampai ke rumah Aldo.


"Mau gue lari, mau gue jalan, gue tetep basah kuyup, dan ini semua gara-gara Aldo."


Tiba-tiba kepala Tere berdenyut lagi. Gadis itu memegangi kepalanya.


Saat sampai di ambang pintu rumah Aldo.


"Aldo?" Tere tidak berani masuk karena badannya yang basah kuyup.


Tere melihat dari luar, Aldo sedang duduk di ruang tamu, bersama seorang wanita.


'Siapa cewek itu?' Batin Tere.


Wanita itu terlihat tertawa bersama dengan Aldo, lalu wanita itu memutar kepalanya 90° sehingga Tere bisa melihat wajahnya dari samping.


'Cila?'


Tere menatap Aldo dan Cila bergantian, dari belakang. Tere tersenyum kecut melihat keduanya.


'Ohh, jadi lo... lupa.'


Tere berjalan menjauh dari pintu utama rumah Aldo. Dan kembali bersatu dengan tetesan tetesan air yang turun dari langit.


Hujan membuyarkan pandangan Tere, ia sudah tidak peduli dengan pakaiannya yang basah.


'It's okey, i'm fine.'


 



Maaf yah ini teksnya agak sedikit hehe biar kalian penasaran aja.



Hai semua ini Author, panggil aja Thor atau kalo mau lebih nyaman panggil sayang juga boleh \*ditabok \*readers\*. Hehe



Jadi buat kalian semua yang udah mampir di\*work\* aku ini, aku makasih banget, kalian udah mau luangin waktu buat ngehargain karya aku.



Makasih buat like, komen, dan \*supportnya\*.



\*Next\*? komen yah.



Komen yang banyak ga papa, Thor suka baca komenan kalian.



Berani ngehujat? gue block


bcanda sayang.



\*Stay tune\* yah \*guys\*



Love you♡♡



~ q q