MY ROOFTOP

MY ROOFTOP
48



"Gimana keadaan Cila?" tanya pria itu ketika sudah sampai di depan ruangan perawatan Cila.


"Ga papa, dia udah baikan," jawab Fira sambil melihat Cila yang masih terbaring kaku di atas ranjang.


"Kok bisa?"


"Entahlah, kejadiannya begitu cepat, Cila ditabrak saat menyebrang...." Fira menghentikan perkataannya, ia lalu menatap mata Aldo intens.


"Yang bikin gue bingung, kenapa Cila langsung nyebrang padahal jelas-jelas jalanan lagi rame, banyak mobil yang berlalu lalang, anak kecil aja kalo nyebrang tuh pasti kira kira dulu."


Aldo menaikkan satu alisnya.


"Maksud lo?"


"Gue ga bermaksud apa-apa nih yah, tapi gue rasa... Cila sengaja menabrakkan diri."


"Ngaco! mana ada orang yang mau menyerahkan diri agar dirinya ditabrak?!"


"Gue juga berfikir gitu, tapi kenyataan yang gue liat tadi seperti yang udah gue jelasin."


Keadaan hening sejenak,


"Gue udah nelfon orang tuanya palingan sebentar lagi sampe."


Fira berjalan mengambil tas sekolahnya lalu memakainnya dan kembali mendekat ke Aldo.


"Karna lo udah ada, gue pamit pulang dulu, udah dicariin sama bonyok dirumah, gue titip salam yah sama Cila semoga cepat sembuh."


"Iya makasih, nanti gue sampein."


Fira berjalan meninggalkan Aldo yang sekarang sudah kembali memusatkan perhatiannya ke cewek yang sedang berbaring di dalam sana.


Ia masuk ke dalam ruangan itu, mendekat dan melihat dengan jelas pacarnya yang sedang berbaring tidak berdaya.


"Lo kenapa ceroboh banget sih?"


 ~~~


Jam menunjukkan pukul 8 malam, sudah sekitar tiga jam lebih Aldo berada di rumah sakit, namun orang tua Cila belum datang.


Ia tadi sempat mengirim pesan ke Tere, agar kalau gadis itu bangun ia tidak khawatir karena tidak mendapatkan dirinya.


"Apa Tere udah bangun?" Aldo bertanya ke dirinya sendiri, ia kembali mengecek ponselnya, namun yang ia dapatkan bahwa pesannya hanya dijustread oleh gadis itu.


Aldo mendengus kesal, ia kemudian mencari kontak Tere dan langsung menelfonnya.


Tuuut...tuuut....tuut....


"Kenapa?" jawaban dari seberang sana.


"Lo udah bangun?"


"Ga, gue masih tidur."


"...."


"Udah makan?"


"Udah."


"Minum obat?"


"Belum, baru juga selesai makan."


"Langsung minum obat terus tidur yah, biar besok pagi enak-"


Panggilan diputuskan Tere secara tiba-tiba dan sepihak, Aldo hanya bisa menghela nafas.


Ia menyandarkan tubuhnya di sofa, ia sedang menikmati, menikmati jarak yang semakin jauh dan menyakitkan untuknya.


Apakah keputusannya untuk menjauh ini baik untuk mereka berdua? Tapi kenapa semakin kesini malah semakin menyakitkan? Kalau memang baik, kenapa sakit?


"Cila, lo ga papa?" Aldo berjalan sigap ke ranjang Cila dan langsung memegang tangan gadis itu.


"Ada yang sakit?"


"Mau gue panggilin dokter?" Cila hanya tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.


"Gue ga kenapa kenapa kok."


"Lo yang ada disini udah bisa buat gue sembuh," ucap Cila.


"Bisa aja lo." Aldo mengelus kepala Cila dengan lembut.


"Cepat sembuh yah, jangan buat gue khawatir."


Cila tersenyum....


Sebuah senyuman yang menyiratkan sebuah keberhasilan....


Sebuah kemenangan.


Tadi pagi di sekolah saat ia berjalan ke kamar mandi dia tidak sengaja melihat Aldo yang mengangkat tubuh Tere, keduanya sama sama basah terguyur hujan, Aldo membawa Tere ke dalam UKS.


Cila hanya menunggu mereka dari luar, tidak berniat masuk. Setelah menunggu cukup lama, Aldo tidak kunjung keluar dan ia memutuskan untuk menjauh dari UKS dan masuk kembali ke dalam kelas.


Setelah sampai di kelas ia mendapat sebuah pesan yang masuk ke dalam ponselnya.


'Izinin gue sama guru yah, gue mau antar Tere pulang, dia sakit.'


"Apa kalau gue yang sakit lo juga bakalan giniin gue?" Tanya Cila sambil melihat kembali pesan dari Aldo.


Dan saat jam pulang sekolah ia sudah membulatkan tekadnya, ia ingin membuktikan apa jawaban atas pertanyaannya tadi.


Dan sekarang sudah kesampaian, keinginannya terbukti, ia merasa menang, merasa paling terdepan dibanding yang lain. 'Kayak yamaha aja anjing' -Author yg kesel sendiri.


"Cil..." suara Aldo membuyarkan lamunan Cila.


"Iya kenapa Do?"


"Gue kayaknya ga sanggup lebih jauh lagi."


"Maksudnya?" tanya Cila.


"Gue ga bisa gini, gue... kangen Tere."


"Gue mau terus di samping dia, gue ga bisa jauh dari dia." Rahang Cila mengeras, baru saja dia merasa sangat bahagia, namun laki laki di depannya ini dapat membuat perasaan itu seketika hancur.


Cila terdiam, ia memikirkan kata kata apa yang pas untuk dia keluarkan.


"Aldo."


"Lo ga inget apa yang sudah Tere katakan waktu itu ke lo."


"Lo egois kalo tetap merpertahanin perasaan lo."


"Bukannya Tere bilang dia nggak suka sama lo yang selalu mencampuri urusan hidupnya, dia muak Do, dia punya dunia sendiri, begitu juga dengan lo, jadi gue sebagai pacar lo berharap agar lo ga egois."


"Tapi..."


"Udah ga ada tapi tapian, gue cuma mau ingetin, dia gak suka lo mencampuri urusan hidupnya."


"Inget gue ada disini, buat bantu lo dan dia agar gak menyakiti satu sama lain."


Cila mengambil ponsel Aldo yang berada di atas nakas samping tempat tidur, ia menggerak gerakkan jarinya di layar ponsel itu lalu beberapa saat kemudian mengembalikannya ke Aldo.


"Gue udah block dan hapus nomor dia dari ponsel lo, gue harap lo tetap pada pendirian lo sejak awal, agar ga ada lagi yang tersakiti antara kalian berdua."


Aldo hanya bisa terdiam sambil menatap ponselnya.