
Gadis itu menenggelamkan kepalanya di atas meja, mengacuhkan sahabatnya yang dari tadi mencoba untuk berbicara dengannya.
"Tere, lo kenapa ngacangin gue sih?" Aldo mengguncang bahu Tere setelah guru kimia keluar dari kelas, setelah memarahi Tere habis habisan karena terlambat masuk pelajarannya.
"Re."
Tere dengan lemas mengangkat wajahnya dari atas meja, wajahnya pucat dengan keringat yang menghiasi wajahnya.
"Do, lo tau gue abis kena hukum dan kena marah."
"Plislah ngerti...gue cape," desah gadis itu dengan nafas tersenggal senggal.
"Re lo pucat banget! Lo sakit?!" Aldo memegang jidat Tere dengan telapak tangannya.
"Badan lo panas Re!" Aldo mengelap keringat yang ada di wajah Tere, gadis itu langsung menepis tangan Aldo dan berdiri dari duduknya.
"Lu mau gue anter ke UKS?" tanya Aldo ikut berdiri.
"Ga Do, gue mau ke kamar mandi aja." Aldo menatap lekat wajah gadis di depannya ini.
"Minggir Do, gue mau lewat." Ia sedikit mendorong bahu Aldo untuk memberinya jalan keluar, pria itupun menggeser badannya mempersilahkan gadi itu lewat.
Saat lewat Tere tidak sengaja menjatuhkan tasnya, sehingga sebagian isi tasnya keluar.
"Eh Re, tas lo jatoh." Namun Tere sama sekali tidak mendengar perkataan Aldo dan terus berjalan keluar.
"Dasar kesayangan, ceroboh mulu." Dengan berbaik hati Aldo memungut tas beserta semua barang Tere yang terjatuh ke lantai dan memasukkannya kembali ke dalam tas.
Saat ingin menaruh tas Tere ke atas meja, gerakannya terhenti saat matanya tak sengaja menatap sesuatu di dalam tas Tere.
Aldo mengambil tempat pensil berwarna merah itu dengan hati hati dan mengamati nya secara teliti. Matanya menyipit ketika menemukan sebuah tulisan yang tertera disana.
'Urgent'
Aldo menaikkan sebelah alisnya, ia kemudian membuka tempat pensil itu, matanya terbelalak saat melihat betapa banyaknya pil obat dengan beraneka bentuk yang sudah di masukkan ke dalam botol botol kecil sesuai dengan bentuknya.
Aldo yang tidak bodoh itu tentu saja mengetahui obat-obatan apa saja yang ada di dalam botol botol itu.
'Apa yang lo sembunyiin dari gue....'
~~~
Tere berjalan keluar kelas dengan cepat, ia segera berjalan menuju ke kamar mandi sambil memegang kepalanya yang terasa amat sakit.
Dia segera memutar haluan berniat kembali ke kelas untuk mengambil obatnya, bisa bahaya kalau ia terlambat minum obat.
Ia berjalan keluar dari kamar mandi, sebelum sebuah tangan menghentikan langkahnya dan mendorongnya ke dinding di belakangnya.
"Aww." Tere meringis pelan saat punggungnya mengenai dinding.
Lalu ia mendecak kesal setelah tau siapa yang mendorongnya. "Ck, apa sih Do?"
Aldo memegang bahu Tere agar gadis itu tidak dapat kemana\-mana.
Aldo memperlihatkan sesuatu yang dari tadi ia sembunyikan di belakangnya, mata Tere membelalak lebar melihat tempat pensilnya yang bertuliskan urgent ada di tangan Aldo.
Tangan Tere dengan cepat ingin mengambil tempat pensil itu, namun Aldo langsung mengangkat benda itu lebih tinggi, jadi Tere tidak dapat menggapainya.
"Lo sakit apa?" tanya Aldo dengan suara dinginnya.
Badan gadis itu menegang, ia tidak menjawab, ia hanya memalingkan wajahnya ke samping.
"Jawab gue!" sentak Aldo.
"Lo sakit apa, sampe harus ngonsumsi obat antidepressan?" Air mata Tere mulai menggenang di pelupuk matanya, namun ia menahannya mati\-matian agar air mata itu tidak jatuh di pipinya.
"JAWAB RE!" bentaknya, untung saja di depan kamar mandi itu sama sekali tidak ada orang, jadi mereka tidak menjadi pusat perhatian.
"Jawab gue lo sakit apa?!" Tangan pria itu beralih ke dagu Tere dan memaksanya untuk menatap matanya, air mata yang dari tadi sudah memupuk di pelupuk matanya pun meluncur bebas membuat sungai di pipi Tere.
"JAWAB GUE! LO SAKIT APA?!"
"Gue sakit...." suaranya bergetar.
"SAKIT APA?"
"GUE SAKIT JIWA!" teriaknya lantang, seakan seluruh bebannya selama ini keluar, seakan segala sesuatu yang mengganjal dadanya hilang, badan Aldo seketika menegang.
"PUAS LO SEKARANG?" Gadis itu menghapus air mata di pipinya walaupun ia tahu pipinya tidak akan kering dalam waktu dekat ini.
"Masih mau temenan sama orang sakit jiwa kayak gue?" tanya Tere dengan suara tercekatnya ke Aldo yang masih mematung di depannya.
Melihat Aldo yang sama sekali tidak bereaksi, membuat hati Tere mencelos, ia tertawa kecil dan hambar. Lalu mengambil tempat pensil yang berisi obat obatan dari tangan Aldo dengan mudahnya.
Dengan itu Tere pergi, meninggalkan Aldo yang mematung disana sendiri, merasa hampa dan hilang.