
Sekarang ruang rawat Aldo sudah sepi tersisa Aldo dan Tere diruangan tersebut, Ibu Aldo dan Novan pamit pulang untuk mengambil baju Aldo untuk beberapa hari kedepan sementara, David kembali ke rumah Wira karena tugas yang masih harus dirampungkan semua.
Dua-duanya diam, tidak ada yang berbicara sejak kepergian David lima belas menit yang lalu.
Tere ingin sekali memeluk tubuh Aldo yang sedang duduk bersandar di kepala ranjang itu namun dia masih merasa bersalah atas kejadian yang menimpa sahabat kesayangannya itu.
Tere duduk di sofa dekat pintu, memainkan ponselnya, memainkan ponsel hanya kamuflase agar rasa gugupnya tidak terlalu nampak oleh Aldo yang sedari tadi menatapnya tanpa pernah mengalihkan pandangannya dari wajah Tere.
Tere menyerah, perhatiannya teralihkan dari ponsel yang ia mainkan sejak tadi dan mengangkat wajahnya, sehingga tatapan mereka bertemu.
Tere tersenyum canggung, setidaknya ia berusaha tersenyum dibandingkan dengan Aldo yang tidak melakukan apa-apa selain menatap Tere dengan ekspresi datarnya.
"Aldo..." panggil Tere.
Aldo hanya memutar matanya dan melihat ke arah jam dinding pukul 2 pagi.
Lalu kembali menatap wajah Tere.
Tere ingin sekali melempar ponsel yang ia pegang ke arah Aldo supaya cowok itu berhenti bersikap seperti ini. Tere tidak nyaman. Suasana seperti ini membuatnya makin merasa bersalah.
"Gue minta maaf..." Tere akhirnya membuka suara dan berdiri lalu berjalan pelan menuju ke ranjang Aldo.
"Gue tau penyebab masalah ini gue, harusnya dari awal kita nggak usah pergi ke pasar malam, harusnya gue ngikutin kata-kata lo buat makan di dalam mobil aja, harusnya gue marahin Kak Fajar saat nyentuh tangan gue, harusnya gue nggak nampar, harusnya gue nggak nyuruh lo pergi, harusnya gue yang ketabrak mobil dan bukannya lo..." Tere sudah berada tepat di hadapan Aldo yang sedang duduk di ranjangnya, pandangan Tere buram karena air mata yang menumpuk di kelopak matanya.
"Harusnya gue sekarang yang duduk di ranjang itu, harusnya gu-"
"Diam. Lo cerewet banget, pusing gue ngedengernya," Aldo memotong perkataan Tere.
"Terus sekarang gimana keadaan kakak lo itu? Siapa namanya? Fajar? Yang sampe-sampe lo rela ngusir gue cuma buat dia," Aldo tersenyum miring sambil menatap Tere.
"Aldo, lo harus tau gue nyuruh lo pergi bukan karena gue ngebelain dia, gue tau lo gimana kalau lagi marah, nggak bisa kontrol emosi, bisa-bisa dia nanti nuntut lo kalau dia kenapa-kenapa," air mata sudah membanjiri pipi Tere.
"Tapi buktinya sekarang apa? gue yang kenapa-kenapa," Cibir Aldo.
"Aldo, lo marah sama gue?" Tere menggenggam erat tangan Aldo.
"Nggak gue nggak marah." Aldo merenggangkan genggaman tangan Tere.
Tere terdiam.
"Sekarang gue mau istirahat, lo bisa tidur di sofa kan?" Aldo membaringkan tubuhnya secara perlahan dan berbaring memunggungi Tere.
"Iya, gue bisa." Tere menyisir rambut Aldo dari belakang menggunakan jarinya, lalu mencium belakang kepala Aldo dan beranjak menuju sofa. Tere tidur menghadap ke ranjang Aldo.
Setelah beberapa saat Aldo memutar badannya menghadap ke arah gadis yang sudah tertidur lelap di atas sofa sekarang.
Aldo membuang nafasnya kasar. Perlahan ia mendekati Tere, ditatapnya gadis itu sejenak.
Kenapa ia selalu cantik di setiap tidurnya?
Lalu dengan mengabaikan rasa ngilu di tubuhnya, ia mengangkat tubuh Tere yang mungil naik di ke atas ranjangnya, lalu ia naik ke sisi ranjang di sebelahnya.
Aldo menarik tubuh Tere kedalam dekapannya, menatap wajah Tere lalu ikut terlelap dengan Tere di dalam dekapannya.