
Ketakutan gadis itu muncul saat mendapati sikap Cila yang seperti tadi.
Siapa yang menyangka dirinya yang selalu tersenyum manis tiba tiba bisa tersenyum seperti serigala tadi.
Dirinya yang begitu lembut dan lugu seketika bisa menjadi orang yang kasar dan tak berperasaan.
Dan tidak menutup kemungkinan dua orang yang mengaku sebagai sahabatnya bisa bersikap seperti Cila tadi.
"Bisa saja mereka memainkan sandiwara di depanku, berperan sebagai sahabat yang baik."
"Gue takut kalau mereka orang yang seperti itu."
"Di atas ke tidak tahuan gue terhadap siapa mereka sebenarnya di dalam hidup gue."
Gadis itu mengatur nafasnya, ia sudah menumpahkan banyak air mata di waktu yang bisa dibilang masih sangat pagi.
"Kak David ga pernah bilang." Gadis itu kembali memeluk kakaknya sambil menangis tersedu\-sedu.
"Kakak lupa, maaf..." David mengelus rambut panjang adiknya.
"Terus sekarang gimana? tau gini Tere bakalan ngikutin kemana pun kakak pergi kemarin kemarin."
"Tenang lah, masih ada dua hari kakak ada di Indonesia."
"Kak dua hari itu waktu yang cukup singkat. Nanti siapa yang temanin Tere kalau Tere takut tidur sendirian?"
"Ada mama dan papa yang selalu ada untuk nemanin Tere."
"Tapi kan, papa dan mama tinggal di bandung, masa iya tiap mau tidur Tere harus ke bandung," Perkataan adiknya membuat David mengerutkan dahinya.
Pria itu melepaskan pelukannya dan memegang kedua bahu Tere, "Kamu belum diberi tahu mama?"
"Diberi tahu apa?"
"Kamu bakalan lanjut sekolah di bandung, ikut mama dan papa tinggal disana."
Tubuh gadis itu tiba tiba menegang, seketika darah yang mengalir di tubuhnya terasa berhenti.
"Mama dan papa gak pernah ngasih tau Tere kalau Tere harus pindah ke bandung juga," ucap Tere menatap ke arah mamanya sambil meminta penjelasan.
"Re, mau gimanapun juga kamu pasti akan ikut mama papa ke bandung, Kak David kan bakalan pergi ke luar negeri, tidak mungkin kamu ditinggalin sendirian di jakarta," jelas Angga yang duduk di sofa sebelah Ingrid.
Kalau ia pergi ke bandung, bagaimana kehidupannya disini? bukankah ia berencana untuk membangkitkan kembali ingatan dua tahun yang lalu.
Gadis itu merasakan perasaan berkecamuk di dalam dirinya. Setelah kemarin sampai di rumah sakit dia langsung masuk ke kamar dan membaringkan dirinya di atas kasur, mengusir ketiga orang yang mengaku sebagai sahabatnya.
Ia kemarin langsung tertidur capek setelah menangis, perasaan takut dikhianati terus menerus menghantuinya. Dan ketika bangun dari tidurnya ia mendapat kabar bahwa kakak tersayangnya akan kuliah di luar negeri.
"Sebentar lagi kita akan berangkat ke bandara," ucap David, memecah lamunan Tere di dalam dekapannya.
"Kalau kamu mau ngucapin salam perpisahan ke teman teman kamu, sekarang saatnya," ucap David sambil melepas pelukannya.
Dia beranjak dari sisi Tere lalu berjalan menuju sudut ruangan mengambil koper Tere yang sudah dirapikan Ingrid, ia menenteng koper itu lalu keluar dari ruangan, Angga mengikut David dari belakang meninggalkan ibu dan anak itu berdua di dalam ruangan tempat anak itu dirawat beberapa hari terakhir ini.
"Kamu bisa menelfon teman\-teman mu sekarang kalau kamu mau, David bilang dia beri kamu waktu satu jam untuk bertemu temanmu sebelum kita langsung berangkat menuju bandara." Ingrid mencium puncak kepala Tere dan keluar dari ruangan mengikuti David dan suaminya.
Sekarang tersisa Tere sendirian di dalam kamar itu, apa yang harus dilakukannya sekarang, waktu satu jam adalah waktu yang sangat singkat.
Ia teringat dengan Aldo, dengan cepat ia merogoh saku celananya mengambil benda berbentuk persegi panjang pipih, mencari sebuah nomor yang sudah lama tersimpan di hpnya. Lalu men\-dial nya.
Tut..tut...tut..
Sudah panggilan kelima dan panggilan itu belum juga terjawab, Tere menatap ponselnya dengan tatapan sendu.
Aldo, Pria yang entah kenapa membuat dirinya ingin terus berada di samping pria itu.
Namun sebuah kenyataan yang baru saja ia terima menamparnya telak.
Ingatan ketika Aldo merangkul Cila, mengusap puncak kepala Cila, entah kenapa membuat Tere kesal.
Ingatan ketika mengetahui Aldo lebih memilih mengantar Cila dibanding membantu dirinya, Tere juga menjadi kesal.
Terlebih lagi ingatan ketika melihat Aldo menyanyikan lagu dengan sangat merdu untuk seorang Cila, Tere dengan tidak tahu malunya cemburu kepada gadis beruntung itu.
'Kau sama sekali belum tahu betul seluk beluk pria itu, kenapa kau malah tertarik kepadanya, gadis bodoh,' Batin Tere sambil mencoba menghubungi nomor orang lain, ketika percobaan kesepuluh gagal untuk menelfon Aldo
Hening.
Tut...tut...tut...
"Halo?"
"Audri..."
"Iya Re, kenapa?"
"Gue mau minta tolong sesuatu..."
"Minta tolong apa Re?"
"Gue mau...."