MY ROOFTOP

MY ROOFTOP
32



"Lo dari tadi pagi bikin gue naik darah mulu, tau nggak? Gue nikahin lo sama kutil cicak baru tau rasa lo."


"Iya iya maap, tapi itu lepasin dulu lengan gue, sakit tau nggak." Tere melepaskan cubitannya dari tangan Aldo, Aldo hanya bisa mengusap perlahan lengannya yang udah berdenyut\-denyut karena cubitan Tere.


"Lo juga ngapain sih kesini? Gue udah laper nungguin lo di depan kantin."


"Nggak ngapa\-ngapain, cuma pengen nenangin diri aja di sini."


"Nenangin diri? Emang lagi lo lagi ada masalah?" Aldo berdiri di samping Tere.


Tere yang tadinya menghadap ke arah lain , sekarang memutar badannya ke arah Aldo.


"Ada, dan masalahnya itu adalah lo. Yang dari tadi pagi udah bikin gue marah marah mulu."


"Hehe... sorry," Aldo cengengesan.


"Tapi... kalau emang mau nenangin diri, kenapa harus ke rooftop?" tanya Aldo.


"Gue udah pernah bilang ke lo, gue suka rooftop, kalau lagi stres banyak masalah gue bakalan naik ke rooftop, di rooftop gue ngerasa deket banget dengan langit. Gue bercerita dan rooftop dengan baik mendengarkan cerita gue, menadah keluh kesah gue, dan juga memberikan pemandangan yang indah," Tere berjalan menuju ke keranjang besar yang berisi banyak bola basket.


"Kadang gue perlu sendiri... berdiri di tempat yang paling tinggi... lalu menceritakan semua keluh kesah pada angin yang berhembus," jelas Tere, dia mengambil satu bola basket dari keranjang itu.


Tere mulai men\-dribble bola basket lalu berjalan menuju ke arah ring basket yang tidak jauh dari tempat dia mengambil bola.


Aldo kemudian jalan mengikuti gadis itu dari belakang. "Re," Aldo memanggil Tere, tapi Tere tidak menjawab panggilan Aldo dan terus men\-dribble dan memainkan bola tersebut.


"Ck." Aldo berjalan mendekati Tere dan langsung merebut bola basket dari tangan Tere.


"Ihhh balikin, lo kenapa sih? Gue mau main." Tere berusaha mengambil bola dari tangan Aldo, tapi Aldo menekuk tangannya ke belakang.


Melihat ada kesempatan, Aldo langsung menjatuhkan bola basket di tangannya ke lantai dan langsung memeluk Tere.


Tidak ada yang bergerak, Tere tidak memperdulikan lagi bola yang mengelinding jauh dari mereka berdua, dia sedang menikmati tempat favoritnya.


"Gue bersedia jadi rooftop lo." Tere mendongakkan kepalanya menghadap ke Aldo yang lebih tinggi dari dirinya.


"maksud lo?" Tere menaikan satu alisnya.


"Iyaa, gue bersedia jadi rooftop lo, jadi yang bisa mendengarkan cerita lo, menadah keluh kesah lo, dan memberikan lo pemandangan-, ehh gue koreksi, bukan pemandangan, tapi segala sesuatu yang indah buat lo." Aldo tersenyum polos.


Tere merasa sangat aneh, jantungnya berpacu sangat cepat, ia bahagia akan perkataan Aldo.


Tere langsung tersenyum dan menoel-noel pipi Aldo gemas.


"Ihhh so sweet banget sih lo, lo kenapa? Lupa minum obat? Nggak biasanya," Tere cekikikan sambil terus menoel-noel pipi Aldo.


Aldo jengah, "Cihh, gue udah baik gini malah dibilang belum minum obat," Aldo menepis tangan Tere yang asik menoel-noel pipi tirusnya.


"Hehe," Tere cengengesan.


"Jangan marah, dasar kebo."


Gadis itu kembali menyandarkan kepalanya di dada bidang pria itu, "Makasih..."


"Makasih udah bersedia jadi rooftop gue."


'Thanks Aldo, thanks My Rooftop.'