
Aldo memasuki kamar David, kamar yang akan menjadi kamarnya untuk sementara waktu.
PATS!
Seluruh lampu padam, keadaan menjadi gelap gulita.
"AAAH!" Suara teriakan dari Kamar Tere membuat Aldo buru-buru keluar dari kamar David, sambil menyalakan flash hpnya menuju kamar disebelahnya.
"Kenapa?" tanyanya panik memasuki ruang kamar Tere.
"Gue takut gelap Do," Jawab Tere sambil memicingkan matanya karena Aldo mengarahkan flash hpnya ke arah Tere.
"Gue takut diculik mba kunti atau mas ocong...."
"*****," umpat Aldo yang sudah berada di samping ranjang Tere.
"Gue kira lu kenapa, gue hampir nabrak lemari, tau¿!"
"Yaa maaf, gue kan spontan teriaknya. Lagian gue juga nggak nyuruh lu kesini." Tere membela diri, tidak terima dimarahi.
"Awas lo, ya. Mampus nanti ada kuntilanak di bawah kasur, terus lo diculik sana sama kasur-kasurnya! Nggak usah manggil-manggil gue minta pertolongan!"
"Do! Jangan ngomong gitu, gue takut!" sahut Tere lebih panik, Tere paling takut dengan hal-hal yang berbau gaib, apalagi ditakut\-takuti.
"Bodo," jawab Aldo, lalu berniat kembali ke kamar David. Namun dicekal oleh Tere.
"Dooo sini aja!! Tidur sama gueee," rengek Tere sambil menarik\-narik baju Aldo.
"Kalau gue diculik mba kunti atau mas ocong gimana??? Lo nggak khawatir gitu sama gue?" Muka Tere ketakutan namun terlihat lucu di mata Aldo.
"Bodo amat!" Aldo langsung keluar dari kamar Tere menuju ke kamar David.
Tere menunggu beberapa detik namun Aldo tidak kunjung kembali menampakkan batang hidungnya.
"LO JAHAT BANGET, ALDO SETAN!" teriak Tere dari dalam kamarnya.
"Ehh, sekolahin tuh mulut." Aldo berada di ambang pintu kamar Tere sambil membawa bantal guling tazmanianya.
Pria itu berjalan ke arah ranjang Tere lalu melempar gulingnya ke atas ranjang, dan kembali berjalan menjauh.
"Ehh **** lo mau kemana lagi?" cegat Tere.
Langkah Aldo terhenti, lalu ia memutar badannya menghadap ke arah Tere. Sambil tersenyum ia berkata.
"Gue cuma mau ke kamar mandi Incess Tere, mau main sabun,"
"Hah? Main sabun?" tanya Tere yang menurutnya perkataan dari Aldo itu ambigu.
"Iya. kenapa? Mau ikut¿" belum sempat Tere menjawab Aldo sudah kembali melenggang ke dalam kamar mandi Tere.
Tere menunggu kedatangan Aldo dengan memeluk guling Tazmania Aldo.
Lampu sudah nyala sejak kepergian Aldo ke kamar mandi.
"Lo sekarang sikat gigi, cuci muka," titah Aldo.
"Ogah." Gadis itu sudah menenggelamkan wajahnya di guling tazmania Aldo, mencari posisi nyaman.
"Do, gulingnya lembut banget, gue suka."
Aldo menaikkan sebelah alisnya, "Terus?"
Gadis itu berfikir sejenak, lalu duduk di tengah ranjangnya dengan rambut yang berantakan dengan cengiran yang khas. Masih memeluk erat guling Aldo.
"Jangan pelukin guling gue, ntar bau jigong, lo belum sikat gigi."
Saat Aldo hendak mengambil guling itu Tere segera menjauhkannya dari jangkauan Aldo, sehingga pria itu tidak dapat merebutnya.
"Gue suka gulingnya, enak di peluk."
Kedua alis Aldo bertautan. "Serius?"
Tere menggangguk dengan polos, tangannya masih kuat memeluk guling itu.
Aldo mulai naik di atas ranjang Tere.
"Gue juga sebenarnya enak loh di peluk." Seulas senyum jahil muncul di wajah Aldo, membuat Tere melongo mendengar perkataannya.
"Lo nggak mau coba peluk gue? Tenang aja gratis kok, kapan lagi coba gue yang baik begini nawarin pelukan buat lo."
"Emang sih gue enggak empuk, tapi seenggaknya gue bisa balas meluk lo, dan..." Aldo menggantung perkatannya, ia ingin melihat reaksi Tere.
"Dan?" Tere mengulang kembali kalimat Aldo yang menggantung.
"Gue hangat."
Aldo bernafas tepat di telingan Tere, membuat Tere merasakan sensasi hangat dari hembusan nafas Aldo.
Pipi Tere memanas.
"Lu belum pernah mati yah?" Tangannya mendorong bahu Aldo yang berada sangat dekat dengannya sehingga pria itu menjauh dan yang ia dapat adalah gelak tawa tanpa henti dari Aldo.
"So, lo milih meluk guling atau meluk gue?"
"Gue..."
"Gue?" Aldo mengikuti ulang kata yang di ucapkan Tere.
"Gue milih sikat gigi, cuci muka, cuci kaki, cuci tangan." Tere melempar guling di tangannya ke pria itu.
Lalu lari masuk ke kamar mandi.
Dari luar terdengar suara ketawa Aldo yang membahana tanpa henti.