
Tere terdiam di ambang pintu kelas sambil meremas jaket yang ada di tangannya, gadis itu sedang melihat ke arah Aldo dan Cila yang sedang duduk di tempat duduknya sambil bersenda gurau.
Tere berjalan canggung menuju tempat duduknya sambil menatap lantai.
"Tere.." panggil Cila, membuat Tere menoleh kembali ke arah tempat duduknya.
Cila beranjak berdiri dari duduknya, namun ditahan dengan Aldo.
"Cil lo duduk di samping gue aja," ucap Aldo sambil menarik tangan Cila untuk kembali duduk di sampingnya.
"Hah?" Tere memberikan tatapan meminta penjelasan kepada Aldo.
"Ya, gue mau duduk sama Cila, lo duduk di belakang aja," ucap Aldo sambil menunjuk bangku di belakangnya.
"Kok gitu sih Do? " decak Tere.
Aldo tersenyum sambil menatap mata Tere yang sudah membulat, lalu ia pun menghela nafas pelan.
"Ya udah, sekarang duduk di tempat lo dan gue duduk di belakang." Aldo mengambil tasnya lalu menaruhnya di samping meja Cila.
"Lo masih marah gara gara kemarin?" tanya Tere meminta penjelasan.
"Kemarin? Emang ada apa kemarin," Tanya Aldo seolah olah tak tahu.
"kok lo jahat sih sekarang?" Tanya Tere lagi.
"Jahat apa sih Re?" Aldo tertawa garing.
"Ck."
Tere mengusap wajahnya kasar, menendang kursi di sampingnya dan langsung berjalan keluar kelas.
"Ada apa?" Audri yang sedari tadi cuma menonton kini sudah berada di hadapan Aldo, mendorong Aldo hingga terjatuh ke kursi.
"Eitss, selow dong." Aldo memperbaiki duduknya.
"Gue tanya ada apa?" tanya Audri lagi.
"Ga da apa apa."
Audri menghela nafas kasar lalu berlari keluar kelas mengejar Tere yang sudah tidak tampak oleh matanya.
~~~
Gadis itu berjalan cepat sambil menundukkan kepalanya menuju ke kantin sekolah.
Gadis itu menghembuskan nafasnya kasar. Saat ini ia sudah duduk di salah satu kursi kantin yang berada di sudut ruangan.
Kantin sangat sepi, berhubung hari masih sangat pagi jadi hanya beberapa orang yang berada di ruangan itu.
"Re..." panggil Audri dengan suara lembut, membuat gadis itu menoleh.
"Audri?"
"Iya Re." Audri duduk di sebelah Tere yang dan langsung mengusap pundak kanannya.
"Kenapa?" tanya Audri.
"Ya udah, kalau lo belum siap cerita lo jangan cerita dulu, tapi kalau lo udah siap datang aja ke gue, gue siap jadi pendengar yang baik buat lo."
"Iya...."
Setelah duduk dengan keheningan selama beberapa menit di kantin, bel pelajaran pertama berbunyi.
"Re, bel masuk udah bunyi," kata Audri beranjak berdiri dari kursi.
"Lo duluan aja ke kelas, bentar gue nyusul," kata Tere yang masih diam duduk di tempatnya.
"Gue tau Re, lo pasti nggak bakalan masuk kalo lo nggak ikut gue sekarang." Audri memegang bahu gadis itu.
"Gue ga mood, Dri."
Audri menghela nafas panjang.
"Ya udah. Gue ke kelas duluan. Kalau lo butuh apa-apa sisa telfon gue."
Tere mengangguk.
Dengan langkah gontai Audri berjalan sendiri menuju ke kelasnya.
Bel pulang sudah berbunyi, banyak siswa yang sudah lari berhamburan keluar kelas.
Namun, kehadiran Tere belum nampak sejak jam pertama dimulai.
"Aishh, Tere mana sih? Ga ngangkat telfon gue lagi," tanya Audri frustasi ke dirinya sendiri, sambil terus berusaha menelfon Tere.
Audri berjalan menuju keluar kelas, tapi sebuah suara menghentikannya.
"Tere mana?" Audri membalikkan badan dan mendapat Aldo yang berdiri di belakangnya.
"Hhh, peduli apa lo?" Audri berjalan kembali, namun ditahan dengan tangan Aldo.
"Peduli lah, gue kan temennya."
"Temen? Kalau lu temennya lu pasti tau dia dimana sekarang, goblok." Audri memperbaiki letak tasnya lalu beranjak pergi.