
Aldo tak memperdulikannya dan terus memilah obat yang harus Tere minum.
"Ok, jadi lo punya teman gila," ucap Tere sarkas.
"Kak David juga punya adik gila, semua orang berfikir gue gila."
Aldo berjalan kembali mendekat ke Tere sambil membawa sebotol obat berisi pil didalamnya.
"Re, nggak ada yang bilang lo gila."
Tere menatap tajam kedua mata Aldo.
"Terus ngapain lo ngambil obat-obatan itu dan ngasih ke gue? HAH?!" Gadis itu menendang tong sampah besi yang ada di depannya.
"Re, apa yang lo lakuin sih?" ucap Aldo ketika melihat abu bekas pembakaran itu menyebar di lantai.
"Hanya minum obat lalu pergi tidur, okey?" Aldo ikut berjongkok di samping Tere sambil membawa obat dan gelas berisi air putih di kedua tangannya.
"Tidak!" Gadis itu memukul botol obat yang ada di tangan Aldo sehingga jatuh kelantai.
"Gue gak mau minum." Ia kembali memukul gelas yang ada di tangan Aldo dan berdiri dari duduknya.
"Kenapa gue harus minum? hah?!" Aldo ikut berdiri berhadapan dengan Tere.
"Gue gak gila..."
"... ayo kita simpan itu..."
"... simpan buat lo dan buat Kak David."
Tere memungut beberapa pil yang sudah jatuh kelantai dan memasukkannya kembali kedalam botol.
"Ketika Kak David datang, kita akan meminumnya bersama sama."
"Atau... lo mau coba duluan?" Gadis itu menyodorkan sebuah pil ke mulut Aldo.
Aldo bergerak kebelakang, menghindari gerakan tangan Tere.
"Ayolah coba, hanya sedikit..."
Gadis itu terus memaksa, membuat Aldo kelabakan dan menjatuhkan barang barang di atas meja.
"Ayolah, cuma satu."
Prangg...
Suara nampan besi jatuh dari atas meja nyaring memenuhi satu ruangan itu
"RE!" Bentak Aldo membuat Tere bungkam seketika.
Pria itu mengambil dua buah pil dari dalam botol obat itu.
"Okey Re..."
Ia memberi sebuah pil ke tangan Tere.
"Gue akan minum bareng lo, ok?" Ia memasukkan sisa pil di tangannya ke dalam mulutnya.
Gadis itu menurut dan mengikuti kegiatan Aldo, Aldo menyodorkan gelas berisi air putih ke mulut Tere dan disambut baik oleh gadis itu.
"Sekarang tidur yah." Aldo menuntun gadis itu untuk kembali berbaring di atas ranjangnya.
cup
Aldo mencium panjang kening Tere, saat ia mengangkat wajahnya, pandangannya terkunci pada tatapan memilukan seseorang yang berdiri di depan pintu kamar rawat ini.
~~~
Kedua pria yang sedang duduk bersebrangan itu hanya terdiam, menyelam dengan pemikiran masing masing, sebelum salah satu dari mereka memutuskan untuk membuka pembicaraan.
"Gue akhirnya dapat beasiswa untuk sekolah di luar negeri," ucap David.
Aldo yang sedari tadi menundukkan kepalanya langsung mengangkat kepalanya. "Akhirnya keinginan lo selama ini terkabul juga, Congrats bro."
David hanya bisa menghela nafas panjang sebelum menampilkan senyuman manisnya.
"Iya..." David mengarahkan pandangannya ke arah Tere yang sedang tertidur.
"Tapi melihat keadaan Tere sekarang...gue kayaknya harus ngelepas beasiswa itu deh."
"Lo ngomong apa sih?"
"Gue harus jaga Tere, nggak mungkin gue ninggalin dia dalam keadaan seperti ini." David menghela nafas panjang.
"Dav," gantian Aldo yang menghela nafas panjang, "Lo nggak boleh ngelepas apa yang lo udah perjuangin dari dulu, lagian disini juga ada gue yang ngejagain Tere."
"Lo nggak perlu khawatir dan ngorbanin beasiswa itu, lagi pula masih ada beberapa bulan lagi sebelum lo berangkat keluar, dan dalam rentan waktu itu, Tere pasti sembuh Dav, lo harus percaya sama Tuhan." Aldo pun mengikuti arah mata David.
"Tenang aja, adek lo aman sama gue."