
30 menit yang lalu.
"Damn it!" Aldo merutuki dirinya sendiri.
Sampai sekarang Tere belum masuk ke kelas, Aldo cemas setengah mati.
Ia hanya tidak mengerti.
Peduli terhadap Tere, dianggap jadi beban.
Berusaha untuk tidak peduli, Tere malah semakin membencinya.
Ia bingung apa yang harus dia lakukan.
Apapun yang dia lakukan hanya membuat Tere menjadi semakin membencinya, ia pun kemarin teramat sangat kaget saat Tere mengatakan bahwa kepeduliannya hanya menjadi beban baginya.
"Aldo," Sapa wanita itu.
"Pulang sekarang?"
Aldo menggeleng,
"Sorry gue ga bisa nganter lo hari ini, gue cari Tere ya..."
"....iya."
Tere berada di rooftop sekolahnya, dari jam pelajaran pertama hingga sekolah usai ia belum beranjak dari tempat duduknya sekarang, sudah satu jam lebih sehabis bel pulang berbunyi, ia masih disini, di rooftop memandang langit mendung yang seolah-olah sedang mewakili perasaanya saat ini.
Tanpa ia sadari seorang anak lelaki sudah berdiri selama 30 menit disana, memandangnya.
Ia berjalan mendekati sang gadis, menguatkan mentalnya, memperbaiki kondisi wajahnya agar terlihat biasa biasa saja.
"Re..."
Terlihat dari belakang, gadis yang tadi disebutkan namanya berubah menjadi tegang, enggan berbalik dan terus menatap ke depan.
"Lo disini dari jam pelajaran pertama?"
Gadis itu masih bungkam. Aldo mensejajarkan badan mereka, menghadap ke lapangan yang memperlihatkan ekskul futsal lagi berkegiatan.
"Jadi tadi Bu Rose masuk ke kelas nyampein sesuatu, lo tau kan OSK? Bu guru nunjuk gue dan beberapa teman di kelas buat ikut tuh lomba." Tere hanya mendengarkan menunggu perkataan yang akan di keluarkan lagi oleh pria itu.
"Jadi beberapa hari ke depan gue bakal jarang masuk kelas karna harus di karantina sampai hari perlombaan, biar lebih fokus."
Tere tetap mematung di tempatnya.
"Sekarang kita pulang yah," ajak Aldo.
"Trus Cila?"
"Dia udah ada jemputan."
Tere hanya bisa menghela nafas panjang.
'Berarti kalau Cila ga di jemput, lo ga bakal kesini nyariin gue dan bakalan pulang sama Cila'
Gadis itu bagai robot, kaku dan mati rasa, ia masuk mobil dengan berat hati, rasanya masih saja sakit meski Aldo sudah ada di sampingnya.
mobil itu melaju meninggalkan area parkir, membawa dua manusia yang membisu, setelah beberapa menit diam dalam mobil.
"Aldo.." ucap gadis itu dengan ragu, Aldo hanya diam menunggu kata selanjutnya.
"Lo deket sama dia?"
"Dia siapa?" tanyanya.
"Cila."
"Cila? Pacaran kita mah."
Tere masuk ke dalam apartemennya, masuk ke dalam kamar mandi, melepas semua seragamnya dan langsung mandi. Kepalanya agak pusing dan hidungnya berair. Selesai mandi gadis itu turun ke dapur, ia lapar sekarang dan ingin makan.
Ia batuk dan bersin bersin saat memasak, ia harus segera makan dan minum obat, setelahnya ia akan langsung tidur.
Setelah selesai makan, ia segera mencuci piring makannya tadi sebelum mencari obat untuk diminumnya.
Ketika mengambil obat dalam kotak, terlintas kembali di pikirannya tentang pembicaraannya tadi dengan Aldo saat di mobil.
"Pacaran?"
"Iya."
"Sejak kapan..."
"Kemarin, sebelum gue ngunjungin lo malam malam."
"...."
"Ohh iya, bentar malam gue ga bisa main ke rumah, ada janji sama Cila," lanjutnya.
Tere segera mengambil obat demam dari kotak obatnya lalu meminumnya.
Dia berjalan gontai ke dalam kamarnya, dengan gerakan lambat ia merebahkan badannya ke atas kasur, menarik selimut menutupi setengah tubuhnya. Kali ini ia merasa benar benar sendirian dan berharap besok pagi semuanya akan baik baik saja.
~~~
Kemarin setelah bertengkar dengan Tere.
\(POV Aldo\)
Aku sedang menikmati secangkir kopi hangat di sebuah kafe, aku sedang menunggu seseorang, menunggu Cila.
Setelah tadi habis bertengkar dengan Tere, perasaanku menjadi kalut, dan entah kenapa tangan ku spontan mengetik nomor Cila dan memintanya ketemuan.
"Hai Do!" Sapa seseorang dari belakang Aldo, membuatnya membalikkan badan.
"Cila..."
Cila mengajak ku ngobrol, entah mengapa aku suka saat mengobrol dengan Cila, hanya sekedar nyaman.
Aku melihat kearah luar kafe lumayan ramai meski rintik hujan masih saja turun.
"Jadi gimana menurut lo?" tanya Cila, kami mengobrol tentang masalah pribadi, dan satu satunya tempat ku bercerita hanyalah Cila.
Aku menceritakan masalah yang terjadi antara aku dengan Tere, masalah yang membuat kami bertengkar tadi.
Lalu aku meminta bantuan dan saran darinya, apa yang harus aku lakukan, aku bahkan tidak tau kenapa aku bisa begitu over protektif kepada Tere, sementara seperti yang kita semua ketahui bahwa dia hanyalah sahabat tersayangku, tidak lebih cuma sekedar sahabat.
Cila mengambil Ponsel dari dalam tas selempangnya lalu membuka galeri dan menunjukkan salah satu foto yang membuatku seketika merasakan perasaan aneh.
Di foto itu terlihat jelas muka Tere yang sedang duduk berdua dengan seorang pria, hanya saja wajah pria itu membelakangi kamera sehingga hanya kelihatan dari belakangnya saja.
Sesuatu terjadi pada diriku, entah apa, hanya saja aneh.
"Lo cemburu?"
Aku hanya bisa diam, entahlah aku bahkan tidak bisa mengerti dengan perasaanku saat ini, aku tidak tau mau menjawab apa, aku bingung.
"Kalau lo sayang dia, lo bakal cemburu."
"Lo tau kan Cil, kalo gue tuh sayang banget sama Tere. Tapi kalau untuk cemburu, kayaknya nggak deh, gue nggak mau Tere tambah marah ke gue."
"Ga Do, cemburu itu wajar untuk orang yang kita cintai"
"Cinta? Gue nggak tau." aku diam, menunduk, bingung harus ngomong apa.
"Lo belum bisa bedain rasanya?"
"....."
"Lo mau gue bantu?" tawar Cila
Aldo menaikkan satu alisnya, sepertinya tertarik dengan bantuan yang akan diberikan Cila.
"Ayo jadi pacar gue," lanjutnya.