
Fajar menurunkan kaca mobilnya, Tere langsung menarik earphone yang sedari tadi menyumpal telingannya.
"Kenapa pulang sendiri?" tanya Fajar dari dalam mobil, yang membuat Tere yang sedang berdiri di trotoar harus menunduk untuk melihat ke dalam mobil.
"Kak David lagi pergi ke bandung," jawab Tere.
"Kalau Aldo?"
"Anu kak, Aldo lagi jalan sama temennya kak."
"Loh, emangnya lo nggak ikut?"
"Emang setiap Aldo jalan sama temennya, Tere harus ikut?" Pertanyan dari Tere membuat Fajar terkekeh.
"Nggak juga sih, mau gue antar?"
"Kemana?"
"Yah ke rumah lo lah, masa iya, ke rumah gue." Sekarang giliran Tere yang terkekeh mendengar jawaban dari Fajar.
"Nggak usah deh kak, Tere bisa pulang kok naik ojek," kata Tere sambil tersenyum manis ke Fajar.
"Yakin naik ojek, pangkalannya lagi kosong tuh," kata Fajar sambil menunjuk pangkalan ojek yang memang lagi kosong menggunakan dagunya.
"Tere bisa kok nungguin."
"Matahari lagi panas-panasnya loh, Re."
Tere berfikir sejenak, sebenarnya dia ingin menerima tawaran dari Fajar untuk mengantarnya pulang, toh hanya sebatas mengantar saja.
Lagi pula Fajar sudah pernah meminta maaf ke Tere dan Aldo, soal kejadian di taman hiburan waktu itu.
Tere bisa langsung memaafkan Fajar, tapi Aldo sepertinya masih dendam ke Fajar, dia sekali kali mengingatkan Tere untuk tidak berhubungan lagi sama Fajar.
Melihat Tere tidak membalas perkataannya, "Kenapa? Takut Aldo ngamuk yah?"
Kalau Aldo nanti tau Tere diantar pulang Fajar, ia pasti akan ngamuk-ngamuk nggak jelas ke Tere.
Tapi, Tere tidak tega menolak ajakan Fajar.
Karena walaupun selama ini Fajar di cap sebagai playboy lah, **** lah, berandal lah.
Tapi dia sangat baik ke Tere, sama sekali tidak pernah menyakitinya. Kalau pun memang berbuat salah, Fajar pasti akan langsung minta maaf ke Tere.
"Enggak kok kak, ya udah yuk." Tere turun dari trotoar dan membuka pintu mobil Fajar dan masuk ke dalamnya.
Mobil Fajar melaju dengan kecepatan normal, keduanya hanya terdiam di dalam mobil, masing-masing sibuk dengan pemikirannya sendiri.
Entahlah apa yang sekarang Fajar sedang fikirkan, yang jelas sekarang Tere sedang sibuk memikirkan sahabat tersayangnya.
Tere bisa saja berbohong dengan mengatakan naik ojek atau taksi, tapi setiap kali dia berbohong entah kenapa Aldo selalu mengetahuinya.
"Re," suara Fajar membangunkan Tere dari lamunannya.
"Iya kak?"
"Lo lapar?"
"Hah? Nggak kak."
"Perut lo dari tadi bunyi," ucap Fajar sambil terkekeh.
"Ngga~" kruyukk...kruyukk..
Suara Tere terhenti ketika perutnya berbunyi sangat keras.
"Hehe, mulut dan perut nggak bisa berkompromi kak," kata Tere sambil menggaruk tengkuk lehernya.
"Ya udah, sekarang kita makan yah," tawar Fajar.
"Iya kak."
"Jadi, kita mau makan apa?" tanya Fajar.
"Hmmm, mau indom*e."
"Tere, lo bener nggak bisa hidup tanpa micin, yah?"
"Hahaha, nggak lah kak, Tere bercanda."
"Makasih yah kak." Tere melambaikan tangan ke Fajar yang mulai menjalankan mobilnya.
Tere berjalan masuk ke dalam rumahnya, membuka pintu secara perlahan.
Rumahnya kali ini sangat sepi, nggak ada David, nggak ada Aldo, hanya dirinya seorang diri.
Aldo sekarang sedang bersenang-senang dengan teman temannya.
Tere kehilangan semangat untuk melakukan apa-apa, ia hanya ingin masuk ke kamarnya lalu langsung baring ke tempat tidur sambil mendengar lagu dari Ipodnya.
Baru saja ingin melangkah ke arah tangga, suara TV membuatnya langsung menoleh ke arah ruang keluarga, di sana sedang duduk seorang cowok dengan seragam SMA.
Siapa lagi kalau bukan Aldo, yang memiliki kunci cadangan kedua rumah Tere.
Tere terdiam. Bingung. Gugup.