
Aldo membalikkan tubuhnya, menatap gadis itu lalu mengambil beberapa langkah dan duduk di sampingnya.
"David nyuruh gue masakin lo bekal, karna katanya lo habis nelfon dia, dan bilang persediaan makanan lo di kulkas udah abis."
"....."
"Bentar kita ke pasar bareng, gue nemenin lo beli bahan makanan deh," lanjut Aldo.
"nggak perlu lagi sok care," ucap Tere lirih.
"Sok gimana Re? Gue beneran care sama lo."
"Yakin?" Tere mendengus tak suka.
"Lo dimana saat gue beberapa hari ga masuk sekolah?"
Aldo bungkam, takut perkataannya akan menyakiti hati gadisnya. Ia menelan ludahnya susah payah, "Gu-gue..."
"Lo dimana Aldo? lo bahkan ga peduli dengan ketidak hadiran gue." Suara gadis itu menjadi sangat lirih, tiba tiba semuanya menjadi semakin sakit, kenapa?
"Lo ga peduli..." ia rasa kedekatan Aldo dan Cila membuat Aldo melupakan dirinya, tidak peduli lagi terhadap dirinya.
"Gue sama Cila," kata kata itu sukses membuat kepala dan hati Tere semakin sakit.
"Sorry gue ga tau lu ga masuk."
"Selama beberapa hari ini gue ga pernah ke kelas, gue langsung karantina di ruang lab sama sama Cila."
Gadis itu tersenyum tipis, ia kemudian mengambil kotak bekal yang ada di pahanya dan berdiri dari duduknya, lalu menoleh ke arah sang pria.
"Gue ga butuh, gue benci sama lo." Tere membuang tempat bekal itu ke lantai.
Mata Aldo membulat lebar. "Tere..."
Aldo mencoba mendekati Tere. Namun Tere segera mundur. Jantung Aldo terasa diremas.
Tere menghembuskan nafas panjang, "Gue ga pernah ngebayangin kalau ternyata hubungan kita bakal kayak gini."
Setelah mengucapkan kalimat itu Tere berlalu pergi meninggalkan Aldo duduk sendiri dengan perasaan yang sesak.
Tere berjalan menuju ke belakang sekolah, ia menembus hujan dan duduk di kursi kayu yang tersedia, di sana barulah ia bisa mengeluarkan air mata yang sedari tadi sudah dia tahan.
Tidak papa dia menangis disini, tak akan ada yang menyadarinya. Air hujan akan menutupi air matanya. Ia sadar bahwa ia masih sakit, tapi entah kenapa ia sekarang sangat ingin berada di tengah tengah hujan.
Ya Tuhan, kenapa sesakit ini?
Aku yang tadinya ingin agar Aldo tidak Overprotektif, kenapa sekarang sangat merindukannya. Aku sama sekali tidak bermaksud membuat jarak kami sejauh ini, ini terlalu jauh, aku bahkan takut tidak dapat menggapainya lagi.
Gadis itu menangis terisak
Bahkan untuk bernafas pun ia kesusahan.
'Kakak~'
Tere yang mendengar suara itu langsung mencari arah sumber suara.
Tepat di depannya ada seorang anak laki laki sekitar 6 tahunan, badan gadis itu menegang, anak lelaki tanpa ekspresi itu melihat tepat ke arahnya.
"Reyhan?" Mata gadis itu membulat seperti ingin keluar.
"Maafin kakak..." Satu kata meluncur dari mulutnya.
"Maafin kakak," air matanya kembali turun tak tertahankan
"Kakak gak bisa nyelamatin kamu," gadis itu terisak.
"Kakak nyesel ninggalin kamu," ia berjalan gontai ke arah anak lelaki itu, air matanya terus mengalir.
"Harusnya kakak yang mati bukannya kamu."
Kini gadis itu sudah berada di depan anak laki laki itu sambil bersujud di depannya, ia terlihat sangat ketakutan.
"MAAFIN KAKAK!"
"CEPET MAAFIN!!"
"KAKAK MOHON"
"MAAF."
Gadis itu mulai berteriak teriak tidak jelas, ia menarik narik rambutnya. Lalu gelap menghampirinya, ia pingsan di antara rerumputan hijau basah belakang sekolah.
Siapa anak lelaki itu?