
Akhirnya jam pelajaran pertama usai, semua siswa teriak kegirangan. Berhamburan keluar kelas menuju kantin yang berada satu lantai diatas kelas mereka.
"Do, kantin yuk gue laper." Tere menarik tangan Aldo.
"Ngantuk," kata Aldo sambil memejamkan matanya.
"Ya udah, lo mau nitip sesuatu nggak?" tanya Tere.
"Susu rasa stroberi dan roti coklat nggak pake lama, gue laper," jawab Aldo.
"Okey, my prince," kata Tere seraya berjalan keluar kelas.
~~~
Kantin terasa sangat penuh dan sesak, Tere berusaha sekuat tenaga menyelinap di antara kerumunan siswa yang berusaha untuk membeli makanan di stand-stand makanan yang ada di kantin.
"Tere!" Seseorang menepuk punggungnya.
Tere menoleh dan melihat kakak kesayangannya. Sudah 2 hari mereka tidak bertemu.
"Kak! Tere rindu." Tere memeluk David yang dibalas pelukan juga oleh David.
"Kakak juga." David mencium puncak kepala Tere.
Beberapa siswi yang melihat adegan tersebut mendadak ingin pingsan seketika.
"Kakak Fahli juga lindu." Fahri yang berada di samping mereka membuat suaranya seakan akan ia anak kecil, lalu ingin bergabung berpelukan dengan kedua kakak beradik yang masih berpelukan di sana. Namun gerakannya langsung ditahan dengan lengan David.
"Jangan nyentuh adek gue, modus lu." David mendorong tubuh Fahri menjauh dari adiknya.
"Aelahh, cuma peluk doang kali." Fahri memasang wajah cemberutnya. Namun hal itu membuat Tere dan David tertawa.
"Kalau gitu kakak ke kelas duluan yah," kata David sambil mengusap rambut Tere.
"Mbak Ris makanan yg saya pesan kasih ke adik saya saja yah," lanjut David kepada penjual kantin.
"Makasih yah kak," kata Tere sambil melambaikan tangan ke David.
Setelah beberapa lama menunggu akhirnya pesanan David yang sekarang sudah menjadi pesanan Tere pun datang.
Tere segera menduduki kursi dekat jendela dan memakan makanan itu sendirian di sana.
Saat menyuapkan sendok terakhir Tere memikirkan sesuatu.
Hmmm... kayak ada yang kelupaan, apa yah? Batinya dalam hati.
Setelah berpikir cukup lama. "Astaga, pesanan Aldo, mati gue." Tere refleks memukul kepalanya.
Tere segera membelikan pesanan Aldo dan berlari menuju kelas. Di meja, Aldo sudah memasang tampang tidak mengenakkan begitu melihat Tere datang.
"Hehehe sorry Do."
♡♡♡
*It was great at the very start
Hands on each other
Couldn't stand to be far apart
Closer the better
Now we're picking fights and slamming doors
And i wonder why, wonder what for
Why we keep coming back for more
Is it just our bodies? Are we both losing our minds?
Is the only reason you're holding me tonight
'Cause we're scared to be lonely?
Do we need somebody just to feel like we're alright?
Is the only reason you're holding me tonight
'Cause we're scared to be lonely*?
Lagu Scared To Be Lonely dari Martin Garrix dan Dua Lipa mengalun di dalam mobil Aldo.
"Re, gue barusan putus dari si Putri," ujar Aldo santai.
"Apa?? Lo putus, astaga Aldo lo baru pacaran 4 hari trus lo udah putus," ucap Tere tidak percaya.
"Yah... mau gimana lagi, gue nggak ngerasa sreg sama dia, terima dia pun itu lo yang paksa." Aldo memasukkan mobilnya di parkiran sebuah kafe.
Sebenarnya di lubuk hati terdalam Tere, ada sedikit kebahagian sih, pasalnya setiap Aldo punya pacar pasti pacar tersebut akan meminta Tere untuk ngejauhin Aldo, dengan alasan, dia itu pacarnya Aldo dan Tere bukan siapa-siapa Aldo.
Contohnya saja seperti waktu Aldo pacaran dengan Bela kelas XII MIPA E, ketua geng hitz di sekolah mereka. Saat Aldo dan Bela mulai berpacaran, Bela sebisa mungkin menjauhkan Aldo dari Tere. Ia akan melakukan apa saja agar Aldo tidak dekat lagi dengan Tere.
Seperti pada saat Bela datang ngelabrak Tere di kantin saat Aldo tidak datang ke sekolah karena sedang sakit.
"*Lo jangan deketin pacar gue lagi!" titah Bela, sambil menunjuk tepat di depan muka Tere.
"Kak, tangannya gak usah nunjuk nunjuk gitu. Ga sopan." Tere menepis tangan Bela yg tepat berada di depannya.
"Lo ga usah ngalihin topik, tolol!" ucap Bela sambil mendorong bahu Tere, yang menyebabkan gadis itu jatuh duduk di kursi kantin.
Tere mulai geram dengan kelakuan kakak kelasnya yang satu ini. Ia kemudian berdiri dan menghela nafas panjang.
"Kak... kalau bukan gue yang nyuruh, Aldo juga ga bakalan mau pacaran sama kakak," ucap Tere dengan nada lembut khas dirinya. Lalu berjalan melewati Bela.
"Awas yah lo, kalo lo ngedeketin Aldo lagi, lo berhadapan sama gue!" teriak Bela.
Tere menghentikan langkahnya lalu berbalik ke arah Bela dan menunjukkan senyum smirknya. "Ngga takut kak." Setelah mengucapkan kalimat itu, Tere kembali berjalan santai keluar kantin, dibarengin tatapan tidak suka dari anak-anak cewek lainnya*.
"Inget Do karma itu berlaku, bisa-bisa besok lo yang digituin sama cewek lain, mau lo?" Tere membuka pintu kafe tersebut.
"Mana ada cewek yang mau gituin orang cakep kayak gue."
"Gue."
"Masa? Nggak peduli." Aldo memutar bola matanya lalu segera memesan makanan untuk mereka berdua.
"Aldo... " seseorang memanggil nama Aldo, membuat yang punya nama menoleh ke belakang.
"Cila?" ucap Aldo kaget.
"Ehh ga usah kaget gitu dong," ucap Cila sambil menepuk lengan kanan Aldo.
"Iya... ga kaget kok," ucap pria itu kaku.