MY ROOFTOP

MY ROOFTOP
30



Pagi ini, Aldo dan Tere sudah berada di atas mobil menuju sekolah, mobil Aldo melaju pelan di tengah-tengah kemacetan ibu kota.


"Lo sih Do, pake terlambat segala, sekarang kita udah pasti terlambat."


Aldo melirik Tere yang sedang menatapnya sinis, namun Aldo langsung kembali menatap ke depan, memperhatikan jalanan.


"Cihh, tau gini gue ikut sama Kak David aja." Tak mendapat tanggapan dari Aldo gadia itupun buang muka menghadap ke jendela.


"Iya sorry, gue tadi singgah ke rumah Cila," Aldo membalas perkataan Tere.


"Niatnya mau berangkat bareng, tapi ternyata dia udah pergi duluan, salah gue juga sih main jemput tanpa ngabarin dia dulu," lanjutnya.


Tere diam, ia tidak membalas perkataan Aldo, dia menyandarkan kepala di kursi mobil Aldo dan terus menatap keluar jendela.


"Kenapa diem?" tanya Aldo setelah beberapa menit Tere tidak ribut seperti biasanya.


"Gue diem salah, gue ribut juga salah, jadi lo maunya gue gimana!?" bentak Tere sambil menatap tajam ke pria disampingnya.


"Idihh, kok lu ngegas sih onyet?"


Tere memalingkan wajahnya kembali ke arah jendela, menatap jalanan ibu kota, dan tidak memperdulikan lagi kata-kata yang keluar dari mulut Aldo.


Aldo meletakkan tangan kirinya di puncak kepala Tere. "Lo jangan gini lah Re, lo sekarang sensi banget, dikit-dikit marah, dikit-dikit ngambek, kan gue jadi serba salah di sini." Aldo memutar kepala Tere sehingga menghadap ke dirinya. Tepat saat mereka berhenti di perempatan saat lampu lalu lintas berwarna merah.


"Doain gue Re." Aldo menatap wajah Tere.


"Doain?"


"Buat?"


"Lo mau lahiran?"


Aldo langsung menarik rambut Tere, namun setelah itu Aldo segera mengelus kepala Tere sambil cekikikan.


"Masa ia gue lahiran, bunting aja kagak."


"Jadi lo mau bunting?" tanya Tere sambil menautkan kedua alisnya.


Aldo menarik nafas dalam dalam lalu membuangnya kasar.


"Gue tendang juga lo lama-lama Re, untung sayang."


"Gue mau..."kata Aldo gantung,


"Mau?" tanya Tere yang bertambah penasaran.


"Gue mau melihara kambing Re."


Satu jitakan mendarat mulus di kepala Aldo.


"Udah yah Do, ini masih pagi, jangan bikin gue BM."


"Iya kanjeng ratu, hamba minta maaf," ucap Aldo dengan cekikikan.


Setelah beberapa menit diam-diaman di dalam mobil, akhirnya mereka sampai juga di depan gerbang sekolah, jam sudah menunjukkan pukul 08.15 yang artinya mereka sudah terlambat 15 menit untuk masuk ke dalam sekolah, di sana sudah terlihat Pak Ari, satpam yang bersiap-siap menutup pintu gerbang sekolah.


"PAAAK, TUNGGU DULUU!" Tere mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil Aldo sambil berteriak, membuat Pak Ari menoleh ke arah mobil Aldo.


"Kalian ini, ini sudah jam berapa? Kalian nggak boleh masuk, kalian sudah terlambat." Pak Ari bersedekap dada di depan mobil Aldo.


"Pak ini semua salah Aldo, saya udah siap dari tadi subuh, salah Aldo aja yang terlambat berangkat dari rumah." Tere menunjuk Aldo yang berada di sampingnya sambil memberikan tatapan sinis.


Pria itu sebenarnya ingin balas menatap sinis gadis licik itu namun karena ia tau ini memang kesalahannya dia pun lebih memilih untuk diam dan memikirkan cara agar bisa masuk ke dalam sekolah, setelah berpikir sejenak akhirnya Aldo sudah menemukan ide.


Aldo ikut mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil tapi dari sisi yang satunya.


"Pak ada pepatah mengatakan, tidak ada kata terlambat untuk menuntun ilmu, kalau nanti kita tidak menuntut ilmu, trus jadi bego gimana pak? Bapak mau tanggung jawab?"


"Kalian ini-" Pak Ari menghentikan perkataannya, menarik nafas panjang lalu membuangnya secara perlahan.


"Ya sudah, sekali ini saja, lain kali kalau kalian terlambat lagi bapak nggak bakalan ngebukain kalian pagar lagi." Pak Ari membuka kembali gerbang sekolah yang tadi sudah setengah tertutup.


Aldo melajukan mobilnya melewati gerbang sekolah, dan diikuti teriakan Tere yang mengeluarkan kepala dari jendela dan menengok ke arah Pak Ari yang berada di samping mobil Aldo.


"Makasih yah pak, besok-besok janji deh, Aldo bakalan traktir bapak makan sepuasnya di kantin."


"Heh!" Aldo langsung membulatkan matanya ke Tere yang sedang memperbaiki posisi duduknya.


"Kenapa? Biji mata lo gatel? Kok kayak mau keluar gitu?" Tere mengangkat kedua alisnya secara bergantian.


"Nggak." Aldo kembali menfokuskan dirinya membawa mobil ke area parkir.