
"Hai," sapa Fahri dan Wira bersamaan saat melihat Tere yang kebingungan didatangi dua orang asing.
"Emm...hai juga." Gadis itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Melihat adiknya kebingungan, David terpaksa harus memperkenalkan ulang kedua sahabatnya ini ke adiknya.
"Jadi Re, ini teman teman kakak, yang gembul ini namanya Fahri, terus yang tinggi ini namanya Wira." Penjelasan David membuat Tere ber oh panjang.
"Kita udah denger kabar lo Re, cepat sembuh ya, abang Fahri kangen," kata Fahri sambil menampilkan senyum khasnya dan mencubit pipi Tere gemas.
Tere hanya tersenyum canggung,
Shit! gue tau mereka baik, tapi gue ga bisa nerima sikap mereka dengan baik. Semua ini terasa sangat asing, gue ngerasa risi.
Melihat adiknya hanya tersenyum canggung membuat David segera mencari cara agar bisa mengeluarkan kedua sahabatnya ini dan membiarkan Tere sendirian. Menerima kenyataan.
"Lo pada laper ga?" tanya David.
"Tumben nanya, mau beliin?" tanya Fahri balik.
"Ga, nanya doang." David memutar kedua bola matanya, lalu beranjak dari duduknya.
"Re, kakak keluar dulu ya." Tere hanya mengangguk, ia tahu kakaknya sedang mencari cara agar dirinya bisa sendiri dan merasa tenang.
"Ehh kok keluar, gue kan baru ketemu Tere," ucapan Fahri tidak digubris, Wira dan David menarik tangan anak gorila yang lepas itu dan membawanya keluar dari ruangan Tere. Membuat gadis itu sendirian.
Sekarang ia benar benar sendirian, orang tuanya sedang pulang mengistirahatkan badan karena saat tiba di bandara mereka langsung ke rumah sakit tanpa beristirahat dulu.
Tiba-tiba kesunyian langsung melanda dirinya. "Dua tahun bukanlah waktu yang cepat," ucapnya pada dirinya sendiri.
"Pasti ada sesuatu yang terjadi."
"Ingatan ku hilang, tapi apakah perasaanku juga ikut hilang?"
"Aku masih bisa merasakan sebuah perasaan kuat kepada seseorang yang bahkan sama sekali tak ku ketahui orangnya."
ceklek...
Suara pintu terbuka membuat Tere mengalihkan pandangannya dari jendela menuju ke pintu.
"Hai," sapa orang yang baru saja masuk itu, ia langsung menjatuhkan tubuhnya ke kursi samping kasur Tere.
"Hai..." cicit Tere. Pria yang berada di sampingnya waktu sadar kemarin kini kembali mengujunginya, detak jantungnya kembali memompa cepat, membuatnya sesak nafas. Ia tiba-tiba memegang dadanya.
"Ada apa? apa kau sakit?" tanya pria itu ketika melihat Tere mulai memukul pelan dadanya.
"Tidak, hanya saja nafasku terasa sedikit sesak." Tere berucap sambil menggeleng.
Keheningan kembali meliputi keduanya.
Pria itu terdiam sejenak, mengambil nafas panjang sebelum memamerkan senyumnya.
"Namaku Aldoni Reydirza, dipanggil Aldo boleh, dipanggil Doni boleh, dipanggil sayang juga boleh." Gadis itu mendengus sebelum tertawa pelan seperti pernah mendengar kalimat itu di suatu tempat.
"Hhh basi tau nggak." Perkataan Tere hanya dibalas kekehan dari Aldo.
Gadis itu kembali berucap. "Ohh iya, bolehkah aku bertanya?"
"Tentu."
"Kenapa kemarin waktu aku bangun kau malah pergi?"
Pria itu tampak berfikir. "Hmmm, entahlah mungkin aku terlalu sakit hati karena kau tidak dapat mengingat ku," ucap pria itu diekori kekehan kecil dari bibirnya.
"Maaf," ucap gadis itu sambil menundukkan pandangannya
"Iya tidak apa apa."
Kepala gadis itu kembali mendongak dan menatap mata Aldo. "Tapi kenapa kau sakit hati? Apakah kita dulu dekat?"
Aldo kembali tampak berfikir. "Hmm mungkin ya, mungkin tidak. Kita teramat sangat sering bertengkar kau tau, aku bahkan sering membuat mu menangis."
"Wahh, kau ternyata sangat jahat padaku." Gadis itu tertawa renyah mendengar jawaban Aldo.
"Kita bertengkar karena kau sangat manja padaku dan selalu memintaku untuk menemani mu tidur, aku yang tidak mau akhirnya membuat mu menangis." Gadis itu membulatkan matanya sempurna, mana mungkin gadis sepolos dirinya meminta orang lain untuk tidur bersama.
"Kau pasti bohong."
Hening.
"Ya, aku bohong." Gadis itu menghela nafas lega.
"Aku hanya teman sekelasmu, lebih tepatnya teman sebangku, guru memintaku untuk menjengukmu karena kau sudah beberapa hari tidak masuk." Gadis itu kembali mengangguk anggukkan kepalanya.
"Kapan kau kembali masuk sekolah?" tanya Aldo, berpura pura tidak mengetahuinya.
"Entahlah, mungkin satu sampai dua minggu kedepan aku masih akan berada disini. Lagi pula sepertinya aku bakalan home schooling, aku banyak melupakan pelajaran dan harus mengejar ketertinggal-"
Aldo buru buru memotong pembicaraan Tere,
"Jangan. jangan home schooling, kau harus tetap masuk sekolah, nanti aku yang membantumu belajar."
"Serius? baiklah nanti aku beritahu Kak David."
"Ternyata aku mempunyai teman sebaik dirimu."