
"EWWW!" Teriak seorang gadis saat kaki kanannya tidak sengaja menginjak pup sapi yang berserakan di jalanan.
"Kasihan nanti anak anak lo Re, surganya bau," ucap Fahri sambil tertawa keras.
"Ga jelas lu babon."
Gadis itu memukul bahu Fahri keras, sementara yang dipukul hanya bisa terus melanjutkan tawanya.
"Ish. Kak David, marahin tuh temennya," lapor gadis itu ke David yang sekarang sedang menahan tawa juga.
David mengacak acak pelan rambut adiknya,
"Udah udah, sekarang kita balik ke rumah yah," ajak David sambil menarik lengan Tere sebelum gadis itu mencakar wajah Fahri, sahabatnya.
"Kak, kakak tuh kalau punya temen yang waras dikit napa sih? ini babon ditemenin," gerutu gadis itu sambil menghentak-hentakkan kakinya ke aspal, agar sisa pup yang menempel di sendalnya terlepas.
David hanya bisa tertawa pelan sambil membuka pagar rumahnya. Gadis itu langsung masuk dan berjalan menuju ke keran yang ada di depan rumahnya.
"Udah lah. Ga usah marah, gue dorong lu juga gak tau kalau di situ ada pup sapi," ucap Fahri sambil memperhatikan gadis itu membersihkan kakinya.
"Bacot lu," timpal gadis itu sambil menatap tajam Fahri, membuatnya langsung masuk ke dalam rumah mengikuti David karena takut kena sembur gadis itu.
"Ya Allah, bau banget sumpah," ucap gadis itu setelah selesai mencuci kakinya. Ia berjalan masuk ke dalam rumah setelah mengeringkan kakinya di keset depan pintu.
Tadi pagi dirinya sedang bergelut dengan kasur empuknya, namun gangguan babon tiba-tiba datang menyerang, membuatnya mau tidak mau bangun dan ikut lari pagi bersama David dan Fahri, Si Babon.
Lalu lari pagi mereka berakhir dengan aksi dorong-dorongannya dengan Fahri yang membuat dia tidak sengaja menginjak pup sapi.
Gadis itu langsung masuk ke dalam kamarnya, berniat mandi karena sudah merasa gerah dan lengket karena habis lari pagi.
Tidak lama setelah itu, ia akhirnya keluar dari kamar dan turun ke ruang keluarga.
Di ruang keluarga, gadis itu melihat David dan Fahri duduk di karpet sambil memegang mangkok isi sereal, di leher David tergantung handuk kecil yang menandakan kakak tampannya itu baru saja selesai mandi, berbeda dengan Fahri yang masih saja seperti babon.
Televisi yang sedang nyala membuat fokus keduanya hanya tertuju pada benda kotak itu dan tidak menyadari kedatangan Tere.
Gadis itu menghela nafas lalu berdiri di samping David. "Kak David, sereal buat Tere mana?" tanya gadis itu, seketika membuat David yang sedang fokus menonton berita langsung menolehkan kepalanya.
"Bentar yah, kakak buatin dulu," kata David sambil menaruh mangkok serealnya di atas karpet lalu berjalan menuju ke dapur.
Posisi David digantikan oleh Tere, gadis itu duduk di karpet tempat kakaknya tadi duduk dan mengambil mangkok sereal David dan mulai menyuapkan ke mulutnya.
"Re," panggil Fahri, Tere langsung menatap Fahri tajam, ia belum melupakan kejadian tadi. Lalu matanya kembali fokus ke televisi.
"Reee," panggil Fahri lebih panjang karena belum mendapat jawaban.
"Apaansih?" tanya Tere malas bin kesal.
"Bapak kau tukang sate yah?"
Gadis itu memutar bola matanya. "Bukan."
"Karena kau telah menusuk-nusuk hatiku."
"Gue bilang bukan goblok." Tere melempar bantal yang ada di sampingnya ke wajah pria itu.
Fahri tertawa keras karena sudah berhasil membuat gadis itu marah.
"Baru juga ditinggal bentar, udah mau berkelahi lagi," ucap David.
"Temen kakak tuh, jailnya kebangetan, bikin emosi tau nggak."
"Udah lanjut makan lagi," ucap David sambil berjalan ke dapur, menaruh mangkok kosong bekas makan Tere ke wastafel dan kembali duduk di samping adiknya.
Tere menyuapkan sereal ke mulutnya dan sesekali ke mulut kakaknya, semua kembali tenang dan menyimak berita di televisi, sebelum akhirnya David memulai percakapan lagi.
"Ohh iya Re, kamu udah nyiapin barang-barang buat besok?"
"Udah kak. Palingan sisa binder aja Tere belum punya," jawab gadis itu sambil menyuapkan sereal ke mulut kakaknya.
"Mau beli sekarang?" tanya David setelah menelan sereal di mulutnya.
"Boleh?"
"Boleh."
Fahri yang sedari tadi cuma mendengar kakak adik itu berbicara langsung buka suara, "Eh tunggu dulu, gue belum mandi."
"Siapa suruh gak mandi, gue udah dari tadi nyuruh lo mandi ya."
"Tadi kan masih mager Babang David," ucap Fahri yang entah kenapa tiba-tiba sudah bergelayut manja di lengan David.
Melihat hal itu Tere buru-buru mendorong tubuh Fahri untuk menjauhi kakak kesayangannya. "Ngapain lo grepe-grepe kakak gue? kakak gue ga bakal napsu sama lo!"
"Iya kan, Kak David?" tanya Tere memastikan. Entah kenapa ia bahkan ragu sendiri dengan David, berhubung kakaknya itu tidak pernah mengenalkannya ke pacar atau pun teman perempuannya.
"Iya lah." David terkekeh pelan melihat ekspresi adiknya yang terlihat agak panik.
"Lu jaga rumah aja, beres beres juga yah. Gue sama Tere perginya bentar doang," ujar David sambil mengambil kunci motor.
"Ihh, ga mau gue juga pengen ikut," sela Fahri lagi.
"Heh! Gue ama kakak mau naik motor, lo mau naik di mana? Spion? Bagasi? Ga muat."
"Yah kan gue kira mau naik mobil..."
Tanpa membalas perkataan Fahri, Tere langsung menarik tangan kakaknya keluar rumah.
David naik di atas motornya lalu disusul oleh Tere di belakangnya. "Gimana, udah?"
Tere memperbaiki rambutnya setelah mengenakan helm di kepalanya. "Udah kak."
"Kalau udah, ayo turun," canda David di akhiri dengan tawa manisnya.
Gadis itu tertawa lalu memukul pelan punggung David. "Ishh, kakak apaansih."
"Ya udah, sekarang pegangan ya." David kemudian melajukan motornya setelah memastikan tangan Tere sudah melingkar di perutnya.
Motor David membelah jalanan yang lumayan padat namun tidak terlalu macet, ia kemudian memarkirkan motornya setelah sampai di depan toko buku yang sering ia datangi.
Tere lalu menggandeng tangan David sambil memasuki toko buku yang lumayan besar itu, beberapa pasang mata langsung memperhatikan kedua kakak beradik yang terlihat seperti sepasang kekasih itu dengan tatapan iri.