MY ROOFTOP

MY ROOFTOP
61



Tere mengangkat kepalanya dan duduk bersandar di kursi Aldo.


"Oke, gue maafin."


"Beneran?"


"Ga, boongan."


"Yes, thanks God." Aldo langsung memeluk sahabat kesayangannya ini.


"Gue rindu banget sama lo," ucapnya melepas pelukannya, hatinya terasa plong sekarang.


Tere tak menjawab ia hanya diam, tatapannya lurus ke depan.


Ia menatap Cila yang baru saja masuk ke dalam kelas dengan gaya berantakan, membuat Aldo yang sedari tadi cengar-cengir mengikuti arah pandang Tere.


Cila berjalan dengan gusar dan langsung duduk di tempat duduknya, tepat di belakang Aldo.


"Sebentar pulang gue anter yah, sekalian mampir ke rumah lo, udah lama nggak kesana...."


"Jadi kangen David." Satu jitakan mulus mendarat di kepala Aldo.


"Jangan nodain kakak gue."


Aldo terkekeh dan mengasak puncak kepala Tere.


 ~~~


'Berani beraninya lo ambil Aldo dari gue.'


'Gue bakal bunuh lo.'


'Pasti.'


 ~~~


Semburat jingga menghiasi langit sore, angin yang bertiup menerbangkan untaian rambut yang tergerai panjang, terkadang angin itu bertiup kencang sehingga rambut panjang itu tertiup sampai wajah pria di sampingnya.


"Rambut lo nampar gue btw."


"Ohh sorry." Gadis itu untuk kesekian kalinya menyelipkan rambutnya di belakang telinga.


Mendengar hal itu Tere terkekeh, mengingat betapa lucunya saat-saat itu.


"Lo taukan gue dulu orangnya gimana?" Gadis itu memulai, pria di sampingnya masih diam, masih menunggu angin menerbangkan rambut itu hingga ke wajahnya, agar ia bisa mencium harum rambutnya.


"Gue cuma seorang gadis yang ingin hidup biasa saja, nggak berlebihan dan nggak kekurangan, pas pada takaran yang sudah ditentukan takdir untuk gue." Gadis itu menghela nafas berat.


"Sebelum kenal sama lo, gue suka takut kalau tidur sendirian...."


"Kadang, kalau Kak David nggak ada di rumah, gue suka kangen sama orang tua gue, terus tiba tiba..." Ia berhenti sejenak.


"Gue ngerasa gue kosong."


Gadis itu menghela nafas sekali lagi, kemudian ia mengalihkan pandangannya ke pria yang sedari tadi menatapnya tanpa bicara, kemudian tanpa sadar sebuah senyuman tercipta di bibirnya saat ia mengingat kenangan yang telah mereka buat.


"Tapi entah kenapa semua itu berubah semenjak gue kenal lo...."


"Gue rasa dengan adanya lo gue bisa menjelajahi dunia ini bahkan angkasa luar, gue nggak takut lagi buat tidur sendirian, gue jadi nggak takut lagi kalo berada di tempat yang gelap."


"Gue merasa diperhatiin, gue nggak ngerasa kosong lagi, gue ngerasa punya tempat untuk menemani sisi kosong gue, gue jadi...." ia ingin melanjutkan semuanya, ia ingin Aldo tau seberapa penting dan berharganya dirinya untuk gadis itu, kehilangan Aldo sama dengan kehancuran hidup Tere.


Tapi... matanya sudah mulai panas, bibirnya sudah bergetar, sebuah cairan menghalangi penglihatannya, udara di paru-parunya serasa kosong tak bersisa, sesuatu yang menyakitkan menggores hati dan jiwanya, sesuatu yang tanpa sadar membuatnya menangis dalam diam.


Aldo langsung memeluk gadis itu,


"Stop gausah terusin, gue ga suka liat lo nangis."


Tere suka sikap lembut Aldo.


Ia membutuhkan Aldo, ia takut jika Aldo pergi dari kehidupannya, ia takut sendiri, ia takut harus menangis di rooftop yang dingin sendiri, ia butuh Aldo untuk bisa bernafas dan hidup.


"Kenapa lo ngebahas ini?" Pria yang sedang mendekapnya ini, ia menyukainya, semua yang ada di diri Aldo, Tere menyukainya.


"Supaya lo tau dan mengerti... kalau gue nggak bisa hidup tanpa lo."


Ia merasa pelukan di tubuhnya semakin erat, semakin memperdalam jarak di antara mereka, hembusan nafas Aldo dapat Tere rasakan di sekitar matanya, benar benar tidak ada jarak, egoiskah Tere saat ingin waktu berhenti saat itu juga?


Gue sayang sama lo.