
Sementara Aldo di ruangan Ibu Cia.
"Kamu ini anak yang cerdas, tapi kok nakalnya kebangetan, kalau mau keluar izin dulu ke guru yang sedang piket."
"Iya bu, saya minta maaf, saya kan panik, ibu tau panik kan?"
"Iya saya tau, tapi kamu bisa minta izin dulu, bukannya langsung main keluar sekolah, sampai nyogok Pak Ari segala."
"Iya saya salah, tapi kalau terjadi apa apa sama calon istri saya, kan saya juga yang repot bu, nanti saya nikahnya sama siapa?" Aldo memanyunkan bibirnya.
"Sekolah dulu, nggak usah bahas nikah-nikah."
"Ibu cemburu yah sama Tere?" Aldo memberikan tatapan jahil buat guru yang baik sekaligus tegas di depannya.
"Kenapa semakin kesini bicara kamu semakin ngelantur Aldo?" Bu Cia memijat pangkal hidungnya.
"Ya udah, sekarang kamu bisa pergi dari ruangan saya." Bu Cia mengibaskan tangannya, memberi kode supaya Aldo cepat meninggalkan ruangannya.
Sepertinya Aldo masih mau menjahili guru kesayangannya ini.
"Hargai sebelum pergi bu." Bu Cia yang tadi menundukkan kepalanya sambil memijat pangkal hidungnya langsung mengangkat kepalanya dan melihat wajah Aldo yang cengengesan.
"Hahh?"
"Ntar kalau saya udah pergi, trus saya makin cakep, ibu nya dah yg nyesel." Aldo langsung menghambur lari keluar ruangan sambil tertawa terbahak bahak, sebelum mendapat cubitan dari guru itu.
Bu Cia hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Aldo, berniat memberi hukuman ke Aldo, kenapa rasanya seperti dia yang di beri hukuman.
Hari ini Tere pulang sendirian, tidak seperti kemarin\-kemarin, Aldo memiliki rencana lain, main game sampe mampus bareng teman teman cowoknya.
Bel pulang yang ditunggu\-tunggu semua murid SMA Criya akhirnya berbunyi.
"Hoaammm," Tere menguap, melepaskan kepenatannya setelah bergelut dengan pelajaran mate\-matika peminatan.
Tere sudah menceritakan ke Aldo tentang David yang pergi ke bandung.
"David ga ada, jadi lo pulang naik apa?" tanya Aldo, sambil memasukkan buku ke dalam tasnya.
"Kalau bukan ojek, yah palingan naik taksi."
"Ga usah, mending gue naik ojek, daripada gue ganggu," jawab Tere.
"Yah emang sih lo bakalan ganggu, hehe... tapi mana mungkin gue biarin lo pulang sendirian."
"Terserah lo, gue cabut duluan bye." Gadis itu membenarkan tali tasnya supaya tidak longgar, lalu berjalan menuju keluar kelas.
"Beneran lo nggak mau ikut? Nggak enak loh Re naik ojek, lu nggak liat tuh matahari panas banget?" Aldo meneriaki Tere yang sudah berada di ambang pintu kelas.
"Bodo amat." Tere mengibas\-ngibaskan tangannya ke atas, dan terus berjalan tanpa berbalik ke belakang.
Tere berdiri di depan pos satpam, gadis itu mengambil ponsel dari dalam tasnya beserta earphonenya. Jemari tangannya menyentuh layar dan bergerak ke atas dan ke bawah.
Lalu ia memasukkan ujung kabel earphonenya itu pada bagian bawah ponselnya. Kemudian dia memutar lagu yang dibawakan oleh penyanyi wanita favoritnya Ariana Grande.
Kemudian ia melangkah keluar gerbang, lalu menyeberang menuju ke pangkalan ojek terdekat.
Tere berjalan di atas trotoar, melewati berbagai pohon rimbun yang melindungi dirinya dari sengatan sinar matahari.
Tere berjalan sambil bersenandung kecil, mengikuti alunan lagu dari Ariana Grande.
Tiba\-tiba sebuah mobil dari arah belakang, berhenti tepat di sampingnya dan membunyikan klakson sebanyak tiga kali.
Tere refleks menoleh ke arah mobil itu dan langsung kaget, itu adalah mobil Fajar, satu sekolah juga tau mobil dengan motif batman 'kalelawar' hanya Fajar yang punya.