MY ROOFTOP

MY ROOFTOP
34



Tiga puluh menit yang lalu.


David meletakkan sebelah kakinya di atas meja, kedua tangannya sibuk memainkan ponselnya, ia sedang memaikan sebuah game, beberapa kali umpatan keluar dari mulutnya tatkala dia kalah dalam game itu.


David lebih memilih memainkan game dibanding berurusan dengan dua makhluk titisan mimi peri yang sedang bertengkar memperebutkan red velvet cake yang berasal dari dalam kantong ajaibnya ehhh- maksudnya laci mejanya.


"Ihhh itu punya gue, gue yang minta." Fahri menjauhkan red velvet cake dari Wira yang berusaha merebutnya.


"Lo nggak denger? David bilang itu untuk kita berdua." Wira langsung merebut cake tersebut dari tangan Fahri.


"Ihh sini balikin, semua itu punya sultan." Fahri berniat merebut kembali cake itu dari tangan Wira. namun, alih alih merebut kembali Fahri malah mendorong tangan Wira, sehingga cake di tangan Wira terjatuh ke lantai.


"Tydaacckkk!" Fahri teriak melengking membuat satu kelas menoleh ke arahnya.


"Barang gratisan terbuang percuma..." Wira menghela nafasnya.


"Hati ini tak sanggup."


"Dav, liat kuenya jatuh!" Fahri melaporkan hal tersebut ke David.


"Gara gara lu," Wira menatap cake yang sudah jatuh tidak berdaya ke lantai.


"Lu,"


"ELUU,"


"LUU,"


"DIEM!" bentak David membuat dua makhluk di depannya kicep.


"Mubazir itu! Jilat lantainya sampai bersih." David menunjuk cake yang udah nggak berbentuk di lantai menggunakan dagunya.


David kembali fokus ke ponselnya, tidak memperdulikan kedua temannya yang mempermasalahkan waktu jatuh kue tersebut,


"Belum lima menit kan?"


"udah lima menit belum sih?"


"Masih 3 menitan kayaknya"


Oceh Fahri sendirian, Wira yang masih setengah waras langsung kembali ke tempat duduknya.


David lanjut memainkan game yang tadi sempat terhenti, tapi tiba tiba sebuah telfon masuk sehingga membuat permainannya terhenti.


"Bi Tina?" David menautkan kedua alisnya, sudah lama sejak terakhir kali ART di rumah orang tuanya itu menelepon. David pun langsung segera menerima telfon tersebut.


Setelah menerima telfon dari Bi Tina, David langsung mengemas semua barang-barangnya ke dalam tas, Wira dan Fahri hanya bisa melongo ketika melihat perubahan mimik wajah dari David.


David langsung memakai tasnya dan cabut keluar kelas, di susul Fahri dan Wira.


"Git kalau ada guru masuk bilang gue izin, informasi selanjutnya nanti gue kabarin lo." Teriak David ke Agit, wakil ketua kelas, dari luar kelas.


"Gue juga." Teriak Fahri juga dari luar kelas.


"Me too." Kemudian disusul teriakan Wira.


Agit hanya menghela nafas,


Wira dan Fahri mempercepat langkah mereka, mensejajarkan langkah mereka dengan langkah David.


"Woy lu kenapa?" Wira menangkap pundak David, sehingga langkah David terhenti.


"Lo kenapa? Ada masalah lagi?" Tanya Fahri.


David menghela nafas panjang,


"Tadi, ART di rumah bokap gue nelfon, katanya bokap gue masuk Rumah sakit"


"What?" Teriak Fahri


"Shhtt! Lu heboh banget." Wira menatap tajam wajah Fahri, yang di tatap hanya cengengesan.


"Terus terus?" tanya Wira ke pada David.


"Yahh katanya bokap gue masuk Rs karena habis cek cok mulut ama nyokap gue," Jelas David.


"Ohhh, terus sekarang lo mau kemana?" Tanya Fahri.


"Gue mau ke kelas Tere,"


"Trus?"


"Minta izin ke wali kelas,"


"Trus?"


"Langsung cabut ke Bandung,"


"Trus?"


"Nggak ada terus-terusannya lagi." Kata David sambil berjalan kembali menuju kelas Tere.


Wira dan Fahri ngikut ae dari belakang.


Sekarang mereka sudah sampai di depan kelas Tere, Fira yang tadi baru saja pulang dari kamar mandi di tahan David.


"Fira, bisa minta tolong panggilin Tere, nggak?"


"Bisa kak, tunggu yah kak." Fira langsung berjalan kembali menuju ke dalam kelas.


"Jangan beri tahu masalah ini ke Tere, cukup bilang kalau bokap gue masuk RS karena kelelahan doang" jelas David.


"Lu nggak berniat ngajakin Tere?" Tanya Wira.


"Iya, gue ga mau nambah beban pikiran dia, lagi pula dia harus fokus belajar."


"Ohhh okey." Fahri dan Wira hanya manggut-manggut.


"Hay kakak-kakak ku semuanya." Wajah Tere muncul dari balik pintu kelas.