MY ROOFTOP

MY ROOFTOP
102



Hari masih pagi saat Aldo mendengar bel rumahnya dipencet secara brutal, pria itu sampai menutup kepalanya menggunakan bantal. Ia masih belum mau bangun di hari libur walaupun jam sudah menunjukkan pukul 8.30 pagi. Dirinya begitu lelah setelah menyelesaikan berbagai ujian untuk mendapat nilai tinggi dan masuk ke universitas yang diinginkannya.


Dan dengan tidak tahu malunya ada seseorang yang malah menganggu tidur panjangnya di pagi hari dengan cara menekan bel secara tidak nyantai. Ia mencoba tidak peduli, mencoba pura-pura tuli, mencoba masa bodoh dengan orang gila yang mengganggunya sepagi ini.


Namun tetap saja, suara bel itu terus saja berbunyi malahan sekarang ditambah dengan gedoran pintu. Terkutuklah orang itu!


Aldo menyibakkan selimutnya, keluar dari zona nyamannya dan berjalan keluar kamar. Langkah gontai plus emosi mengiringi jalannya menuju ke pintu utama rumahnya.


Ia sudah siap berteriak dan memaki siapapun yang ada di depan sana, orang yang membunyikan bel sembarangan tanpa tau aturan.


Ceklek....


Baru saja ia ingin mengumpat, namun seketika suaranya tertahan di tenggorokan, sama sekali tidak bisa keluar.


"Hai..."


Semuanya seperti melambat saat Aldo menajamkan penglihatannya. Mulutnya yang tadi terbuka sekarang tertutup.


Setiap detik demi detik entah kenapa terasa sangat lambat. Aldo butuh udara, matanya memanas, kakinya melemas.


Gadis yang berada di depan Aldo tersenyum hangat, dalam hitungan detik cairan bening sudah meluncur dari mata Aldo.


"Lama banget."


Bola mata Aldo membulat. Pasalnya gadis itu berdiri di depannya dengan wajah kesal, gadis itu lalu mendorong tubuh Aldo masuk lagi lalu ia menutup pintu.


Gadis itu menilai penampilan Aldo dari atas sampai bawah. "Ck, baru bangun lo?"


Aldo yang belum sempat menjawab dan belum sadar dari keterkejutannya, ditinggal pergi oleh gadis itu menuju dapur, mencari apapun yang bisa ia makan. Sedangkan Aldo masih menjadi patung dan hanya menatap gadis itu melakukan aktivitas di dapurnya.


Gadis itu menuangkan dua gelas susu yang ia ambil dari dalam kulkas, mulutnya mengunyah roti gandum, ia nyengir kuda ketika melihat Aldo yang masih setia berdiri di dekat pintu dan belum bergeser sesenti pun sejak kedatangannya.


"Gue kelaperan tau, gue baru balik dari Bandung," ucapnya setelah menggigit roti gandum yang berada di tangan kanannya.


"Bayangin gue subuh-subuh sendirian bawa mobil 5 jam dari Bandung ke Jakarta, pantat gue rasanya tambah tepos duduk terus, gila kan!" ucapnya lagi lalu meminum susu yang tadi sudah ia tuang.


Sesuatu menyadarkan Pria itu, Tere baru kembali dari Bandung sekitar hampir setahun, ia pergi tanpa kabar hingga dirinya merasa diacuhkan, tapi pagi ini? Gadis itu ada di rumahnya? menjadi Tere yang selalu ia rindukan.


Aldo berjalan ke arah dapur lalu duduk di sebelah Tere yang sedang makan.


"Lo... apa kabar?" tanya Aldo berusaha menetralisir kekacauan di dalam hati dan otaknya.


"Baik. Lo?" pertanyaan Tere hanya dibalas anggukan oleh pria itu.


Ia bingung harus memulai dari mana pertanyaan yang dari dulu bercokol di dalam kepalanya, ia hanya bisa terus menatap gadis itu. 100% kesadarannya hanya untuk memperhatikan gadis yang sedang makan di sampingnya saat ini.


Gadis itu semakin cantik, berkali kali lipat lebih cantik di matanya saat ini, apakah hal itu karena ia sudah merasa sangat lama tidak melihat wajah gadis ini, hidungnya, pipinya, rambutnya....


Ya tuhan, gadis ini benar benar sempurna.


Dan hanya dengan memperhatikannya, sudah mampu membuat jantung Aldo berdetak kencang.


"Berhenti natap gue seperti itu, gue tau gue cantik," ucap Tere setelah menyelesaikan makannya dan menghabiskan susunya. Ia kemudian memutar badannya sehingga kini ia berhadapan langsung dengan Aldo.


"Re," ucap Aldo begitu saja.


Ia masih terus menatap tak percaya gadis di depannya. "Tere..."


"Iya Do, gue tau gue Tere ga usah diingetin," ucap gadis itu sambil terkekeh.


Mendengar ucapan Tere, Aldo tidak bergeming.


"Gue tau banyak pertanyaan yang mau lo tanyain, ayo kita mulai satu satu, gue bakal jelasin secara perlahan lahan," ucap gadis itu sambil tersenyum hangat ke pria yang sekarang ada di hadapannya.


Namun pria ini masih saja tidak bergeming.


Ekhem...


Tere batuk untuk menetralisirkan suaranya, bersiap siap menceritakan semua yang terjadi, yang sama sekali tidak Aldo ketahui.


"... gue sekolah disana sekaligus home schooling untuk ngejar ketertinggalan gue, jadi untuk masalah pelajaran gue sekarang udah nggak tertinggal, sisa tinggal nunggu gue lolosnya di universitas mana."


"Kenapa selama ini lo gak hubungin gue?" tanya Aldo tiba-tiba.


Hening sejenak.


"Bukannya udah gue jelasin di surat, gue mau berusaha kembaliin memori gue yang hilang itu."


"Tapi kan gak harus lost contact juga Re," ujar Aldo sedih.


"Hmmm....gimana yah, gue cuma gak mau lo sakit Do, gue yang sama sekali nggak inget apa apa cuma bakalan nyusahin dan nyakitin orang orang yang gak bisa gue inget."


Hening kembali menyelimuti.


"... Gue selama ini selalu berkomunikasi dengan Audri."


Dahi Aldo berkerut.


"Audri? jadi selama ini Audri tau semua tentang lo?" Tere mengangguk.


"Iya...dia juga yang ngasih tau gue tentang keseharian lo selama gue di Bandung, lo yang suka berkelahi, lo yang mulutnya semakin hari semakin pedes, lo yang jadi most wanted di SMA Criya, dia nyeritain semua itu...."


"Dia juga yang bantu gue buat ingat kembali tentang ingatan dua tahun yang lalu itu. Tapi, dia cuma nyeritain tentang kita doang, keseharian kita, gimana gue memperlakukan lo dan begitu pula sebaliknya..."


"... dan akhirnya gue udah bisa kembali ingat tentang Aldo yang ada di dua tahun yang hilang itu," jelasnya sambil menahan air di pelupuk matanya.


"Sejak kapan lo udah bisa inget gue kembali?" Aldo kembali bertanya setelah sekian lama diam.


"Sudah lumayan lama, sekitar 4 bulanan setelah gue pindah ke bandung."


"Trus, kenapa baru sekarang lo datengin gue?" ucap Aldo lumayan tak terima, Tere seharusnya tau, seberapa gilanya dia saat gadis itu tak berada di dekatnya.


Gadis itu terdiam sejenak.


"Lo tau? gue saat itu belum berani buat bertemu lo karena masih ada satu ingatan yang sama sekali belum gue inget." Kepalanya menunduk kebawah.


"Ingatan apa?" tanya Aldo penasaran.


Gadis itu menghela nafas panjang, berusaha mengisi rongga dadanya dengan lebih banyak oksigen.


"Ingatan di saat pertama kali kita bertemu." Gadis itu mengangkat kepalanya yang menampilkan sungai di atas pipinya.


Aldo kembali mengingat kejadian pertemuan pertama dirinya dengan Tere di atas rooftop sekolah.


"Dan sekarang gue ada disini, karena gue udah temuin kepingan puzzle yang hilang itu. Saat dimana pertama kali kita bertemu, tempat dimana lo dan pacar lo pertama kali bertemu. Rooftop sekolah." Gadis itu tersenyum dalam tangis sedunya.


"...mungkin ada beberapa hal yang belum gue inget, tapi mungkin itu emang udah takdir, karena seberusaha apapun gue, gue sama sekali gak bisa inget beberapa hal itu."


"But, gue sekarang yakin 100% tentang debaran jantung gue yang selalu muncul saat kita bersama...."


"Do... gue bener bener cinta sama lo." Gadis itu menghapus air mata di pipinya.


Hening sejenak.


"Gue juga, Tere Astelia." Pria itu tersenyum sambil menaikkan satu tangannya ke atas kepala Tere, lalu mengacaknya pelan, seolah memastikan bahwa gadis di depannya bukanlah halusinasi yang di buat sendiri oleh dirinya.


Kemudian tangannya yang lain menggapai wajah cantik gadis itu, air mata dan senyuman terlihat jelas di wajah Tere. "Gue nyata, kalau lo belum sadar."


"Damn." Pria itu tiba tiba menarik Tere kedalam pelukannya, menaruh dagunya di puncak kepala gadis itu, memeluknya erat erat, melepaskan rindu yang sudah ia tahan sejak dulu.


Tere membalas pelukan itu, dalam hitungan detik cairan bening kembali mengalir di pipi kedua manusia itu.


"I miss you. So bad."


THE END