
"Nggak Re, nggak ada yang mau hilangin ingatan lo."
"GA USAH BOHONG! GUE TAU LO EMANG GA SAYANG SAMA GUE, LO GAK MAU PERTAHANIN INGATAN GU-"
Dengan sigap Aldo membawa gadis itu ke dekapannya, mengerahkan seluruh anggota tubuhnya untuk menahan tendangan dan pukulan yang datang bertubi tubi dari gadis itu.
"Tenang Re, tenang!"
"Due ada disini, gue sayang sama lo." Meski gadis itu terus menendangnya, pria itu tetap memeluknya, mempererat pelukannya dan berulang ulang kali membisikkan kalimat itu di telinganya.
"Percaya gue," Pria itu berbisik lirih, hampir putus asa akan keadaan yang harus segera ia hadapi.
"Aldo..." ucap gadis itu kelelahan, pergerakannya mulai melamban, ia membeku di pelukan pria itu. Hanya terdengar sisa isakan tangisnya yang perlahan mulai menghilang.
Pria itu melepaskan pelukannya.
"Gue gak mau ingatan tentang lo hilang Do..."
Pria itu menatap Tere dengan pandangan terluka, hatinya teriris mendengar ucapan gadis itu.
"Re... gue juga gak mau ingatan tentang gue hilang dari memori lo." Air mata pria itu tanpa sadar jatuh, ia mulai terisak dan memukul dadanya yang terasa sesak.
"Gue sayang banget sama lo, tapi ini semua harus lo lakuin..."
"Gue mohon lo harus lakuin terapi ini...." Pria itu menangis sambil memegang erat kedua tangan gadis yang sekarang hanya menatapnya.
"Sekarang lo harus sembuh."
"Gue gak mau tiap hari ngeliat lo nyakitin diri lo sendiri." Pria itu mengusap pelan luka di pipi gadis itu.
"Gue mohon...." Aldo mencium kedua tangan Tere, membuat gadis itu menangis tanpa mengeluarkan suara.
Pria itu mengatur nafasnya agar kembali normal sebelum akhirnya kembali berbicara,
"Permintaan pertama... lo harus mau ngelakuin ECT," Tere mengingat kembali saat dimana dia memberi Aldo kesempatan untuk meminta dua permintaan.
"Permintaan kedua, kalau nanti ingatan lo tentang gue hilang sepenuhnya, lo ga usah maksain memori lo untuk ingat gue, gue ga papa, ga usah mikirin gue. Tapi..."
"Kalau nanti misalnya ingatan lo tentang gue ada walaupun hanya sedikit, gue mohon.... beritahu ke gue, supaya gue bisa terus ngejaga lo." Tere kembali terisak keras.
Aldo meraih tengkuk Tere dan menariknya mendekat.
cup
Satu ciuman mendarat dengan anggun di bibir Tere. Mata Tere membulat lebar.
"Gue cinta sama lo Re," ucapnya setelah memberi jarak di antara mereka.
Aldo berdiri dari depan Tere dan langsung berjalan pelan menuju ke pintu.
"Aldo," suara serak Tere menghentikan langkahnya.
Aldo mematung di tempat tanpa membalikkan badannya. "Gue akan ngelakuin permintaan lo..."
Hening.
"Lo tau, gue akan ngelupain lo kalo gue ngelakuin terapi itu. Nantinya gue gak tau apa alasan lo untuk tetap berada di samping gue.
"Lo tau? Lo nanti akan pergi dari pikiran gue."
"Lo mengerti? seperti halnya ingatan gue yang akan hilang, perasaan gue pun akan ikut menghilang."
Saat itu juga, pria itu tersenyum, ia berbalik menghadap gadis itu dan mengacungkan ibu jarinya sebelum akhirnya meninggalkan gadis itu sendirian di dalam ruangan itu.
Setelah hening beberapa saat, terlihat David dan beberapa perawat masuk ke dalam kamar itu, mulai memegang tangan dan kaki Tere. Lalu menyuntikkan obat penenang ke tubuhnya.
"Gue juga cinta sama lo," bisiknya lirih sebelum penglihatannya menggelap.