
Ponsel David bergetar di saku kemejanya,
"Wira?" Gumam Aldo. Ia pun mengangkat panggilan itu.
"Halo?"
'Dav, lo cepetan kesini!'
"Kemana?"
'UKS UKS.'
"Buat apa?"
'Lo kesini aja dulu!'
"Apa sih? Siapa yang sakit"
'Tere pingsan.'
David langsung mematikan panggilannya dan langsung berlari keluar kelas.
Sebelum keluar dari kelas, David singgah ke depan meja Agit.
"Git, kalau ada guru yang masuk bilang gue di UKS yah, terus kalau Fahri sudah kembali dari pelariannya dan nyari gue bilang aja gue pulang karena marah sama dia." Belum sempat Agit membalas perkataan David, David sudah melengos keluar kelas.
David lari-lari seratus menyusuri koridor sekolah, dan akhirnya sampai di depan UKS.
Pintu UKS terbuka, David masuk dengan langkah terburu-buru.
"Gimana keadaan Adik gue?" tanya David cemas.
"Dia nggak apa-apa, tenang aja."
David bernafas lega, ia langsung duduk di kursi samping ranjang Tere. Ia sangat khawatir dengan adik kesayangannya ini. Ia mengelus pipi Tere dengan sangat lembut.
"Kok dia bisa pingsan?"
Wira ngejelasin secara detail semua ceritanya dari awal sampe akhir.
David yang mendengarnya memanggut-manggut kan kepalanya.
"Untung lo ada disana, kalau nggak ada lo, gue udah nggak tau gimana nasib Tere," ucap David sambil mengusap-usap kepala adik kesayangannya.
David mengedarkan pandangannya kesekeliling UKS, "Aldo nggak ada?" tanya David.
"Aldo? cowo yang sering sama Tere itu?" Wira bertanya balik.
"Iya."
"Nggak ada, dari tadi sampe sekarang gue belum lihat batang hidungnya itu anak."
"Ohhh... Oke."
Kelas Aldo sekarang sedang tidak ada guru, guru biologi yang seharusnya mengajar tidak masuk, mereka hanya disuruh untuk mengerjakan tugas.
Sementara siswa lain sedang fokus mengerjakan tugas, Aldo malah tidak fokus untuk mengerjakannya karena dari tadi Tere belum juga kembali ke kelas.
Ia selalu melirik ke arah pintu setiap ada siswa yang lewat di depan kelasnya, berharap itu adalah Tere.
"Tere mana sih?" gumam Aldo, terakhir kali ia melihat Tere di kantin dan sampai sekarang dia belum melihat gadis itu lagi.
Aldo pun berjalan ke meja Fira.
"Fir lo liat Tere?" tanya Aldo sambil menyanggah tubuhnya menggunakan kedua tangan di atas meja Fira.
"Lo nggak tau?" Fira bertanya balik, biasanya kalau hal yang menyangkut Tere Aldo pasti sangat mengetahuinya.
"Kalau gue tau, gue ga bakal nanya bego," ucap pria itu dan mendapatkan tatapan sinis dari Fira.
"Tere tadi pingsan di rooftop sekolah, untung aja ada Kak Wira yang nolongin Tere dan ngebawa dia ke UKS, tapi sekarang Kak David udah ngebawa pulang Tere," jelas Fira, selaku ketua kelas.
Aldo terdiam sejenak, lalu langsung berjalan menuju bangkunya, mengambil tasnya, dan berjalan menuju keluar kelas.
"Aldo, lo mau ke mana?" tanya Cila yang tiba\-tiba muncul di hadapannya, entah dari mana.
"Gue mau ke rumah Tere." Aldo lalu kembali melangkah, tapi di tahan dengan tangan Cila.
"Kenapa?"
"Dia sakit."
"Tapi sekarang masih jam pelajaran Do!" Cila mengeratkan pegangannya di pergelangan tangan Aldo.
"Gue nggak peduli, yang jelas sekarang gue harus ketemu dengan Tere." Aldo melepaskan tangan Cila dari tangannya lalu berjalan keluar kelas.
Cila tidak bisa berbuat apa\-apa lagi dan kembali duduk di mejanya,
"Lihat aja Do, gue bakalan ngebuat lo ngelupain Tere, bahkan untuk ngeliriknya pun lo nggak bakalan bisa," gumam gadis itu sambil tersenyum sinis.