
Tere berjalan di koridor kelas ditemani Audri di sampingnya, setelah David menelfon Audri untuk menemani Tere pergi ke sekolah Audri langsung tancap gas ke rumah Tere, ia sudah sangat rindu dengan sahabatnya yang sudah seminggu tidak masuk sekolah.
"Tere kakak lu ganteng banget," puji Audri geregetan sambil menatap layar ponselnya yang menampilkan log panggilan dari David di hpnya.
"Sering sering kakak lo nelfon gue, gue jadi semangat untuk jadi kakak ipar lo."
"Ish, apa sih, ganjen banget!" Tere mencubit gemas perut Audri membuat gadis itu meringis namun dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.
"Btw, kok lu nggak masuk sekolah seminggu?"
"Gue udah seminggu gak masuk sekolah dan lu baru nanya sekarang?"
"Bego jangan dipelihara, gue udah beratus ratus kali nelfon dan sms lo tapi lo nggak pernah angkat ataupun balas."
Tere hanya terkekeh melihat sahabatnya yang sekarang seperti ingin menelannya hidup hidup.
"Gue sakit gitu, ga parah si, tapi buat gue super ga mau datang sekolah."
"Yeee, itu bukan gara gara sakitnya, lo nya aja yang males."
"Hehe."
Saat sampai di ambang pintu masuk kelas tatapan Tere langsung menuju ke bangkunya, namun bangku itu tidak kosong,
"Loh?"
Tere menghentikan langkahnya dan menahan Audri untuk tidak melangkah lagi. "Ngapain dia duduk di tempat gue?" tanya Tere ke Audri setengah berbisik.
"Ga papa, lo duduk aja di sampingnya," ucap Audri penuh keyakinan.
"Gak, gue gak mau."
"Ada yang mau dia omongin sama lo, dengarkan dia okey, gue kembali ke tempat duduk gue semula."
"Dri...ikut," tatapan Tere memelas, seperti anak kucing yang minta dikasihani.
"Re ini demi kebaikan lo juga, mau kan masalah ini cepat kelar? Ambil keputusan tepat, lo mau kembali seperti dulu atau tetap dengan keadaan yang sekarang selalu mengganggu pikiran lo."
Audri melepaskan perlahan pegangan tangan Tere dan berjalan menuju kembali ke kursinya yang dulu.
Sedikit rasa enggan didominasi rasa malas gadis itu berjalan menghampiri tempat duduknya.
"Hai..." sapa Aldo dari tempat duduknya, Tere hanya bungkam tidak membalas sapaannya, ia menaruh tas di atas mejanya dan mendudukkan badannya di kursi sebelah Aldo.
"Duduk."
Tere mendecak sebal. "Lo tau maksud gue la-"
"Kenapa ga ada kabar?"
Hening sejenak.
"Penting kabar gue buat lo?"
"Penting."
"Hhh," Tere terkekeh pelan, seperti sedang menertawakan jawaban Aldo.
Penting?
Ia kembali mengingat di hari dimana ia adu jotos dengan Bela di area parkir, setelah Aldo melewatinya tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dan sekarang dia bilang bahwa Tere itu penting?
"Ngotak Do, ucapan lo dan perkataan lo ga sinkron."
Aldo menghela nafas panjang, ia tau kesalahannya selama ini dan sekarang ia ingin agar gadis di depannya ini bisa kembali memaafkannya.
"Re," panggil Aldo.
Tere menatapnya dengan tatapan malas, Tere jelas yakin tatapannya sekarang menunjukkan,
"Gue.males.ngomong.sama.lo."
"Diem.dan.jangan.ganggu.gue.lagi."
Dan Aldo dapat mengartikan tatapan itu dengan benar, ia hanya bisa balik menatap Tere dengan tatapan sendu kemudian mengambil secarik kertas dari dalam laci mejanya dan menuliskan sesuatu disana.
'Maaf' tertulis besar di atas kertas itu dan dapat dengan jelas di lihat Tere.
Aldo menyodorkan kertas itu ke atas meja Tere, Tere melihat tulisan di kertas itu tanpa memperlihatkan ekspresi apa pun.
Ia mengambil kertas itu.
Membuatnya menjadi bulatan tak beraturan.
Dan membuangnya ke dalam lacinya.