MY ROOFTOP

MY ROOFTOP
73



Bela melepaskannya dengan mendorongnya ke belakang. Cewek itu berjalan memutarinya, yang membuat Tere baru menyadari keadaan sekitar. Pupil matanya membesar, namun suara tercekat ia tahan di tenggorokan. Rasa takut seperti menari di dalam perutnya.


Suara berisik yang sedari tadi di dengarnya adalah suara dari gemercik air yang mengalir di sungai itu.


Tere memucat.


"Mau apa sih lo?" tanya Tere berusaha terlihat tenang di depan musuhnya.


"Masih nggak ngerti juga?" Bela membisikkan kalimat itu dari belakang Tere.


Tiba-tiba sebuah sentakan membuat Tere terdorong kedepan dan jatuh ke dalam sungai, diikuti tawa menggelegar dari mulut Bela.


Tere berusaha untuk memunculkan wajahnya di permukaan agar dapat bernafas kembali, namun saat wajahnya muncul di permukaan sebuah tangan memaksa wajahnya untuk kembali masuk ke dalam air. Bela dan beberapa temannya ikut masuk ke dalam sungai, menghalangi Tere yang berusaha naik kembali ke permukaan.


Bela memegang kepala Tere menggunakan kedua tangannya dan terus menenggelamkannya di dalam air.


kaki Tere melemas, tangannya masih terikat kuat di belakang tumbuhnya.


Sekelebat suara menyakitkan itu kembali menyerang. Teriakan seorang adik yang meminta tolong ke kakaknya, suara orang yang ramai tertawa sambil mengelilinginya, suara tangisan seorang ibu yang kehilangan anaknya, dan yang terakhir suara anak laki laki yang memohon disusul suara tangis dari seorang gadis dan lelaki bersamaan.


Tere menggeleng dalam air, menghalau suara yang berdengung di pendengarannya. menghalau ingatan tentang masa lalu yang kembali menyerangnya. Tangis Tere pecah, oksigen dalam paru parunya semakin menipis dan perasaan asing itu kini mengobrak abrik hatinya.


'Aldo.'


Satu satunya nama yang terlintas di otaknya saat itu.


 


Pikirannya kacau, sudah hampir satu jam dan Aldo belum bisa menemukan di mana keberadaan Tere.


Tiba\-tiba sebuah tepukan di bahunya membuatnya menoleh. "Gue tau di mana Tere," ucapnya langsung.


Seketika saja Aldo menegang. Apalagi saat mendengar cerita Intan selanjutnya, membuat Aldo begitu gatal ingin menghancurkan wajah seseorang.


 


Langkah Aldo berhenti ketika sampai di pinggir sungai dan melihat kerumunan orang yang sedang tertawa sambil mengelilingi seorang gadis yang teriak teriak sambil menutup telinganya.


Aldo memecah kerumunan itu, semua pemilik mata disana langsung diam dan mengarah padanya. "Kalian semua punya waktu tiga detik buat pergi dari sini."


Bela tertawa, "Kalau gue gak mau?"


Aldo memberi jawaban dengan mencengkeram leher gadis itu dan membawa wajah Bela mendekat ke wajahnya. "Leher kesayangan lo ini-"


"-bakalan patah."


Bela berusaha melepaskan cengkeraman tangan Aldo dari lehernya namun hasilnya nihil.


"Oke-oke," ucap Bela dengan nafas tersenggal senggal. Aldo melepaskan cengkeraman tangannya dari leher Bela.


"Kalau terjadi apa apa dengan Tere, gue gak segan-segan nyari kalian di mana pun kalian berada dan gue pastiin bakalan hancurin kepala kalian semua." Ancamnya membuat Bela dan teman temannya langsung pergi menjauh dari tempat itu.


Aldo menangkap sorot mata Tere. Aldo mendekat, berlutut dan menyeka air mata Tere. Dengan tangan yang gemetar pula, Aldo melepaskan ikatan di kedua tangan gadis itu.


"Aldo," panggilnya disusul isakan. Untuk meyakinkan dirinya jika ia tidak berhalusinasi.


Kepala Tere langsung jatuh lemah di bahu Aldo. Pria itu melepaskan jaketnya, menutupi tubuh Tere yang menggigil. Ditangkupnya kedua sisi wajah gadis itu dengan tangan bergetar.


"Sudah aman, gue di sini."


"Aldo..." gadis itu kembali memanggil nama Aldo.


"Reyhan mana?" Iakan tangis kembali terdengar di pendegaran Aldo.


"Re, sadar, Reyhan udah gak ada," Aldo membawa Tere ke dalam pelukannya.


"NGGAK MUNGKIN. ADIK GUE MASIH ADA DAN AKAN TETAP SELALU ADA." Gadis itu kembali berteriak tidak jelas, lalu kembali menangis dan kembali teriak lagi.


Tere berteriak, menangkup wajahnya dengan kedua tangannya dan menjerit kesakitan di dalam sana. Memori beberapa tahun yang lalu kembali berputar di otaknya, sebelum akhirnya pandangannya mengabur dan berubah menjadi gelap.


Aldo mengambil ponsel dari saku celananya dan mencari sebuah nomor lalu menelfonnya.


"Dav. Maafin gue."