MY ROOFTOP

MY ROOFTOP
60



Ia menuju kelasnya dengan kursi yang sedari tadi ia tarik, ia merasa kesusahan karena kursi yang dia bawa ini cukup berat untuknya. Dia menyesali menolak tawaran bantuan dari Audri yang sedari tadi marah marah di dalam kelas karena kursi Tere yang hilang.


Tiba-tiba Tere merasa kursi yang sedari tadi ditariknya melayang ke udara, dia kemudian membalikkan badannya, dan terkejut saat mendapat seorang lelaki yang sekarang mengangkat kursinya.


"Biar gue aja yang bawa," ucap Aldo sembari merebut kursi itu dari tangan Tere.


"Ga usah, biar gue aja," tolak gadis itu dan kembali menarik kursi dari tangan Aldo.


"Kursi sama lo aja gedean kursi." Aldo langsung membawa kursi Tere dengan menggotongnya, membuat Tere mendengus kesal karena tidak dapat mengambil kursi itu kembali.


Mereka berdua berjalan melewati koridor kelas.


"Lo kenapa ninggalin gue?"


"Gue cuma ga mau ganggu tidur lo aja."


"Gue panik tau, saat nggak ngeliat lo di atas kasur."


"Hmm...."


Aldo berhenti berjalan dan menurunkan kursi itu di lantai, membuat Tere ikut berhenti dan menatapnya seolah bertanya 'Ada apa?'


"Gue minta maaf..."


Tere memutar bola matanya lalu menggapai ujung kursi itu dan menariknya kembali.


"Gue udah bosen denger lo minta maaf."


Namun pergerakannya kembali terhenti karena Aldo menahan kursi itu.


"Gue juga udah bosen denger jawaban lo yang nggak pernah maafin gue."


Tere menarik nafas panjang.


"Gue tau perlakuan gue akhir akhir ini ke lo itu salah besar..."


"Gue ga peduli sama lo...gue ngejauhin lo..."


"Itu semua ada alasannya."


"Gue nggak mau ngejerat lo dalam hubungan yang salah, gue nggak ingin mengekang lo dalam keadaan yang tidak tepat...tapi ternyata semua itu salah."


"Kita yang semakin jauh sama saja dengan gue yang semakin mati."


"Lo... ga rindu sama gue?" tanya Aldo dengan tatapan mata yang sendu.


Keheningan meliputi mereka berdua sampai Tere membuka suara.


"Ga pantes gue rindu sama pacar orang."


"Ga Re, gue ga pernah pacaran sama Cila."


"Semua itu hanya bohong, gue cuma mau ngetes sampai mana perasaan gue ke lo..."


"Dan ternyata gue sadar."


"Kalau...." Aldo menghentikan perkataannya.


"Kalau?" tanya Tere sambil mengangkat satu alisnya.


"Kalau gue ga mau kehilangan lo." Kedua mata Tere membulat.


Apakah semua ini mimpi?


Atau kah ada kamera yang sedang menyorot dramanya ini?


Apakah cintanya terbalaskan?


"Udah lah Do, ga usah main main...gue tau lo cuma mau kasih seneng gue aj-"


"Lo seneng?" potong Aldo, seketika itu juga Tere langsung menutup mulutnya.


"Gak gue gak seneng," kilah Tere dan berlari duluan ke kelasnya meninggalkan Aldo sendirian di koridor sekolah.


Aldo saat ini sudah sampai di depan kelas sambil mengangkat kursi milik Tere dengan kedua tangannya, terlihat Tere yang duduk di kursi milik Aldo sambil menenggelamkan kepalanya di jaket milik pria itu yang terletak di atas mejanya.


Ia berjalan santai masuk ke dalam kelas yang sedang tidak ada guru itu dengan membawa kursi Tere dan menaruhnya perlahan di samping kursinya.


Ia kemudian duduk di kursi yang tadi dibawanya.


"Gimana? Gue dimaafin?" bisiknya tepat di telinga sahabat wanitanya itu.


 


q q q q q q q q q