
Mobil itu memasuki pekarangan rumah Tere, Aldo dan Tere keluar beriringan dari dalam mobil.
Mereka masuk ke dalam rumah, diruang tamu sudah ada ortu Tere dan David.
Tere melirik ke David, ketika pria itu melihatnya balik, Tere membuang pandangannya ke arah lain, yang membuat David meringis di dalam hatinya.
Tere menyalami kedua orang tuanya dan langsung naik ke kamarnya, Aldo ikut menyalami kedua orang tua Tere tapi tidak mengikuti gadis itu naik ke kamarnya.
"Dav, gue mau ngomong sama lo," ucap Aldo membuat David menaikkan satu alisnya.
"Ikut gue." Ia berjalan ke luar rumah Tere dan masuk ke dalam mobilnya disusul David.
"Kenapa?" tanya David ketika sudah menutup pintu mobil Aldo dari dalam.
"Gue udah tau masalah Tere."
"Sekarang gue minta lo jelasin ke gue apa yang sedang Tere alami dan apa penyebabnya, tanpa melewatkan sesuatu."
David menghela nafas panjang, ia merasa rongga dadanya membutuhkan oksigen lebih banyak dari biasanya.
"Tere kena salah satu mental illness yang dibilang biasa, tapi untuknya itu sudah parah..."
"Namanya PTSD, Post Traumatic Stress Disorder. Bedanya Tere ditambahin 'complex'."
"PTSD adalah kondisi mental di mana orang mengalami serangan panik yang dipicu oleh trauma pengalaman masa lalu."
"Trauma pengalaman masa lalu?" tanya Aldo,
"Iya...trauma masa lalu, lo tau Tere bukan adik kandung gue."
"Hah?"
"Iya, nyokap Tere dan bokap gue nikah waktu gue masih kecil. Setelah mereka menikah gue senang karena punya adik perempuan, gue udah janji ke diri gue sendiri untuk sayang sama adik baru gue."
"Tapi saat itu, gadis kecil itu sangat tertutup dan tidak banyak bicara, tatapannya sering terlihat kosong."
"Dan alasan sikap dia begitu terlihat jelas saat di mana ortu kita berantem hebat dan membuatnya menangis histeris sambil meneriakkan nama seseorang."
"Nama seseorang?"
"Ia meneriakkan nama Reyhan, nama yang menghantui di sepanjang hidupnya."
"Siapa Reyhan?"
"Reyhan... adik kandung Tere, adik laki\-laki yang tidak sengaja menghilang karena terbawa arus deras sungai saat bermain bersama kakaknya."
Hati Aldo seperti diremas kuat, ia sangat paham dengan apa yang dikatakan David.
"Bukankah hal itu sudah teramat sangat lama?" tanya Aldo tiba\-tiba.
"Iya, tapi Tere selalu memikirkan kejadian traumatis kala itu, sepanjang waktu, dan hal itu mempengaruhi kehidupannya hingga saat ini."
Aldo tertegun, ia terpaku beberapa saat setelah mendengar penjelasan David. Degub jantungan berpacu sangat cepat.
Ia tidak menyangka bahwa Tere selalu terbayang banyang masa lalunya hingga sekarang.
"Lo pasti pernah lihat dia tiba\-tiba menangis, teriak saat gelap, tidak tenang saat tidur sendirian, dan emosi yang sering tidak terkontrol." Aldo mengangguk mendengar ucapan David.
"Iya, semua itu udah pernah gue lihat dengan mata kepala gue sendiri." Aldo merasa hatinya berdenyut nyeri mendengar kabar mengerikan ini.
"Emang ga ada cara untuk menyembuhkannya?"
"Banyak cara untuk menyembuhkannya... tapi tidak total, penyakit itu bisa kambuh lagi."
"Dan akan semakin parah, kalau kita tidak mendukung Tere melewati penyakitnya ini," lanjut David.
"Sampai sekarang, penyakit Tere belum bisa disembuhkan, hanya obat obatan yang selalu dibawanya yang bisa membantunya."
"Tapi yang membuatku khawatir...." David menghentikan sejenak perkatannya.
"Tere akhir-akhir tidak menunjukan perbaikan dengan terapi obat-obatan yang sudah ia lakukan."
"Walaupun sudah mengonsumsi obat obatan itu, ia masih sering menangis tiba tiba, menjerit jerit tidak jelas, dan merusak barang barang di sekitarnya."
"David," panggil Aldo.
"Lo tau kalau Tere suka cutting?" Mata David membelalak lebar.
Sebelum akhirnya memukul dashboard mobil di depannya.
"Gue ngerasa gagal jadi kakak."
Aldo hanya bisa melihat penyesalan di mata David.
"Gue percaya, Tere bisa kuat melawan penyakitnya."
'Pasti.'