MY ROOFTOP

MY ROOFTOP
83



Angga dan Ingrid tiba di bandara dan langsung menuju ke rumah sakit tempat Tere di rawat, mereka mendengar kabar terapi yang akan dilakukan Tere saat David menelfon mereka kemarin siang.


Kegiatan kantor yang bertumpuk tak bisa mereka lepas, mengharuskan mereka untuk tetap berada di sana menyelesaikannya dan baru bisa berangkat pagi tadi.


Mereka berjalan tergopoh-gopoh melewati koridor rumah sakit yang lumayan ramai, dan masuk kedalam ruangan yang sudah diberitahu David.


Mendapati kedua anaknya yang sedang bercanda dan berbincang bincang membuat mereka bisa bernafas lebih lega, David sudah memberitahu apa saja yang terjadi pada Tere sebelum dan sesudah Terapi, kehilangan kendali sebelum terapi, dan kehilangan ingatan setelah terapi.


Angga dan Ingrid mendekat ke arah anak anaknya yang sudah menyadari kedatangan mereka berdua di depan pintu.


"Papa... Mama...."


Kedua orang tua itu langsung menghambur dan memeluk tubuh Tere sangat erat seakan akan tubuh itu akan hilang ketika mereka melepaskannya.


"Pah, Mah, Tere gak bisa nafas, lepas dulu." Tere memukul pelan punggung Angga dan Ingrid sambil mengatur nafasnya dan setelah itu cekikikan.


Angga, Ingrid dan David hanya bisa ikut terkekeh melihat wajah Tere yang memerah karena kesusahan nafas.


Lalu keheningan meliputi mereka berempat, tenggelam dalam pikiran masing masing,


Ekhem..


Tere berdehem mencoba mencairkan suasana.


"Apakah ada sesuatu yang penting yang telah aku lupakan?"


"Tak ada sayang." Ingrid membersihkan wajah Tere yang tertutup surai surai rambutnya.


"Bagaimana kehidupan sma ku? ada yang menarik?" Tanya Tere tiba tiba, menghadapkan wajahnya ke arah David, menyudahi kecanggungan yang tercipta disana.


"Kehidupan dua tahun kamu bisa dibilang datar datar aja, anak SMA yang dapat rangking 32 dari 36 orang siswa di kelas," ucap David dengan nada bercanda namun membuat gadis itu merenggut sebal.


"Ishh."


"Gak, bcanda bcanda, kamu masuk 10 besar terus kok."


Mata Tere kembali berbinar,


"Aku emang udah yakin, kalau aku beneran pintar." Kalimat yang awalnya ceria tiba tiba semakin kecil dan terdengar menyedihkan.


"Tapi percuma, aku bahkan sama sekali tak mengingat apapun, dan di saat mencoba ingat, kepalaku terasa sangat sakit seperti mau pecah." Tiba-tiba gadis tertawa pelan.


"Tak apalah, ga ada yang spesial juga kan."


  




Hai semua ini Author, panggil aja Thor atau kalo mau lebih nyaman panggil sayang juga boleh \\*ditabok \*readers\*. Hehe



Jadi buat kalian semua yang udah mampir di\*work\* aku ini, aku makasih banget, kalian udah mau luangin waktu buat ngehargain karya aku.



Makasih buat like, komen, dan \*supportnya\*.



\*Next\*? komen yah.



Komen yang banyak ga papa, Thor suka baca komenan kalian.



Berani ngehujat? gue block


bcanda sayang.



\*Stay tune\* yah \*guys\*



Love you♡♡



~ q q q q q q q qq q q q q q q qq q q q q q q qq q q q q q q qq q q q q q q qq q q q q q q qq q q q q q q qq q q q q q q qq q q q q q q qq q q q q q q q q q