MY ROOFTOP

MY ROOFTOP
49



Pria itu meneguk habis sisa kopi di dalam cangkirnya, lalu ia perlahan berjalan ke lantai bawah.


"David," panggil Mama David-Ingrid dari sofa, saat melihat anaknya turun dari tangga.


"Iya ma?" jawabnya sambil berjalan mendekat ke mamanya yang sedang duduk di ruang tamu sambil mengerjakan tugas kantornya.


"Gimana keadaan papa?" tanyanya sambil terus mengetikkan sesuatu di laptop.


"Udah lebih baik dari kemarin kemarin."


"Oh begitu."


"Gimana keadaan adik kamu?" tanyanya kembali, namun kali ini perhatiannya bukan lagi ke laptop, melainkan ke David.


"Baik baik saja..."


"Bagus."


David mengeratkan pegangan di cangkirnya.


"Kamu udah bisa pergi," usir Ingrid.


Namun David hanya berdiam diri disana, sama sekali tidak berniat untuk melangkah.


Ada sesuatu yang ingin ia katakan, yang selama ini sudah ia pendam dan kubur dalam di dalam dirinya.


Melihat anaknya tidak beranjak, Ingrid kembali mendongak melihat David yang masih diam di tempatnya.


"Kenapa?"


"Mah..." David menghentikan perkataannya lalu menghela nafas panjang dan kembali berbicara.


"David boleh minta sesuatu sama mama?"


Ingrid menaikkan satu alisnya,


"Minta apa?"


"David minta agar mama gak berantem lagi sama papa." Mendengar itu Ingrid langsung berdiri dari duduknya dan mendekat kepada sang anak.


"Berantem?" Ingrid memutar bola matanya.


"Iya.. kasihan papa mah, mama tau kan papa sayang banget sama mama."


"Kamu sama sekali tidak tau apa-apa."


"Apa lagi yang David nggak tau mah?"


"David udah tau apa saja yang mama dan papa lakukan tiap hari, bertengkar? Adu mulut? Apa mama gak cape?"


Ingrid hanya bisa tersenyum sinis.


David hanya menghela nafasnya kasar.


"Kalau memang David ga tau apa yang sebenarnya terjadi... setidaknya David mohon... David kali ini benar benar mohon sama mama agar setelah ini semua, mama dan papa ga bertengkar lagi...."


"Kasian papa ma, kasian Tere juga.... mama tau kan alasan aku bawa Tere pergi jauh dari sini karena apa? Itu semua aku lakuin agar Tere gak terus terusan ngeliat mama dan papa bertengkar."


"Padahal mama lebih tau dibanding David, mama lebih tau tentang Tere, tentang apa saja yang sudah Tere alami, apa yang sekarang terjadi sama Tere, mama tau kan?"


"Kasian mah, kalau Tere tau tentang ini semua, tau tentang papa dan mama yang tiap harinya bertengkar, adu mulut, sampai sampai sekarang papa masuk rumah sakit...." David kembali menghentikan perkataannya, ia semakin mengeratkan pegangan pada cangkir kopinya yang sudah tandas itu.


"Apa mama ga sadar kalau semua ini bisa membuat mental illness Tere kambuh?" Ingrid membulatkan kedua matanya.


"Mama tau kan, mental illness Tere bakalan kambuh kalau dia sedang tertekan, punya banyak pikiran."


"Terakhir mental illness Tere kambuh beberapa tahun yang lalu, karena ngeliat mama dan papa berantem sampai ngerusakin barang barang yang ada di rumah."


"David.... kamu kira papa sayang sama mama? Kamu bicara terlalu banyak, tanpa tau apa yang sebenarnya terjadi..." mata Ingrid sudah berkaca-kaca.


Ia kembali teringat kejadian beberapa tahun yang lalu, kejadian yang membuat salah satu anaknya meninggal sementara anaknya yang lain menjadi gila.


"Papa nikahin mama cuma karena kasihan sama mama, mama yang saat itu janda beranak satu meminta pertolongan ke papa kamu agar mau bantu membayarkan uang rumah sakit Tere yang saat itu mencoba bunuh diri."


"Mama menikah sama papa kamu cuma karena waktu itu mama miskin dan sudah tidak mampu membayar terapi Tere, dan papa kamu nikah sama mama agar kamu mempunyai sosok seorang ibu lagi di dalam hidup kamu..." Ingrid menangis.


"....sama sekali tidak ada rasa di antara kita," lanjutnya.


"Walau udah tinggal bersama selama bertahun tahun?" Tanya David sedih.


"Iya...."


David memeluk tubuh mamanya, kapan terakhir ia memeluk mamanya begini? Ia bahkan lupa karena saking lamanya.


Dulu dia sangat senang saat mengetahui papanya-Angga, akan menikah lagi, terlebih saat ia mengetahui kalau calon papanya itu sudah memiliki seorang anak perempuan yang akan menjadi adik kecilnya.


Selama ini ia kesepian, setelah mama kandungnya meninggal dunia karena sebuah kecelakaan, ia menutup diri dari semua orang termasuk Angga. Namun setelah Angga mengatakan bahwa David akan memiliki seorang mama sekaligus seorang adik perempuan, betapa senangnya hati David.


"Maafin mama, kalau ternyata akhirnya begini." Dia memeluk tubuh anaknya yang tanpa sadar ternyata sudah lebih besar dari tubuhnya, ia sayang sama David, sayang juga sama Tere, namun entah kenapa ia sama sekali tidak bisa menunjukkannya di depan anak-anaknya.


"Ma... kalau memang mama sama sekali gak bisa mencintai papa, David mohon, mama cintai saja Tere, kasian dia mah, mama dan aku sama sama tidak mau Tere kembali seperti dulu lagi, David tau tentang Reyhan, mama terpukul akan kejadian itu, begitu pula Tere, dia bahkan depresi dan berulang kali mencoba bunuh diri."


"Mah kalau mental illness Tere kambuh lagi cuma gara gara masalah kali ini, David akan merasa sangat kecewa dengan mama, papa dan diri David sendiri, kita banyak namun sama sekali tidak bisa menjaga Tere."


"Mama tau bagaimana selama ini David memperlakukan dan memperhatikan Tere, David sangat sayang sama Tere, David gak mau adik kesayangan David menjadi orang gila yang teriak teriak nggak jelas dan mau bunuh diri cuma gara gara masalah ini."


"Tere rapuh dan mama tau itu."


"David besok pulang, keadaan papa juga udah mendingan, kasian Tere dibiarin sendiri terus."


David melepas pelukaannya, berjalan melewati mamanya masuk ke dalam dapur, menaruh cangkirnya, lalu ke luar lagi dan langsung naik ke lantai atas tanpa mengucapkan sepatah katapun.