MY ROOFTOP

MY ROOFTOP
70



"Kau tau Angga kehadiranmu begitu berdampak buruk bagi hidupku," ucap Ingrid lantang sambil menunjuk wajah Angga.


"Walaupun aku harus mengakui jika kau orang yang pernah membuatku bangkit dulu." Ia berdiri dari jatuhnya.


Angga merasa jantungnya sakit saat mendengar pernyataan menyakitkan yang dikeluarkan Ingrid.


Ia berjalan melalui Angga keluar dari dapur sebelum langkahnya terhenti karena melihat anak perempuannya berdiri terpaku disana dan berlinang air mata.


"Tere..."


"Apa maksud dari semua ini?" Tere perlahan berjalan mundur sambil mengusap air mata yang sudah deras mengalir.


Angga terlihat keluar dari dapur setelah mendengar suara Tere.


"Kenapa ma, pa?"


"Kenapa berantem lagi? " gadis itu langsung berlari menuju ke kamarnya.


"Tere!" Ingrid dan Angga meneriaki anaknya itu sambil berlari mengejar Tere yang berlari ke kamarnya.


"Tere!"


Brakk...


Pintu kamar Tere ditutup dengan kencang membuat suara yang sangat keras.


"Re!" Ingrid mengetuk panik pintu kamar Tere.


"Tere, buka pintunya sayang!" Namun tidak ada jawaban dari dalam sana.


David terlihat muncul setengah berlari dari lantai bawah sambil membawa buku yang ia pinjam dari rumah Fahri tadi.


"Ada apa ma?" tanya David panik melihat mamanya mulai menggedor-gedor pintu kamar Tere, namun Ingrid tidak menjawabnya dan terus menggedornya.


"Pa ada apa?" David beralih bertanya ke papa nya.


"Tadi..." Angga mengusap kasar wajahnya.


"Tere ngeliat kita berantem."


Mata David membulat lebar.


"Astaga."


David mendekat ke arah pintu dan menyuruh mamanya untuk menghentikan aktivitasnya.


"Tere, ayolah jangan buat kakak khawatir."


Ceklek....


Pintu kamar Tere terbuka perlahan menampilkan sosok Tere yang berlinang air mata.


David melangkah masuk perlahan ke dalam kamar, baru saja Ingrid ingin mengekor dan masuk ke kamar Tere namun tiba-tiba pintu itu ditutup dari dalam, membuat Ingrid menghentikan langkahnya.


"Ini semua gara gara kamu," ucap Ingrid ke Angga dengan sorot mata yang tajam sebelum akhirnya meninggalkan pria itu sendirian di depan kamar Tere.


"Kenapa Re? Ayo sini cerita sama kakak." David perlahan naik ke ranjang Tere.


"Kak kenapa sih mereka selalu berantem?" tanya Tere sambil menyingkirkan air mata di pipinya.


"Untuk apa mereka menikah kalau ujung ujungnya hanya menyakiti satu sama lain?"


"Hmm...Tere, sekarang kamu dengar kakak baik baik yah." David memberikan jeda diperkataannya sebelum akhirnya melanjutkannya.


"Melihat papa dan mama bertengkar menyadarkan kakak akan suatu kenyataan pahit, Mereka tidak sesempurna yang kita kira."


"Papa dan mama tidak sempurna. Karena itu, jangan heran jika adakalanya kekesalan mereka memuncak dan dilampiaskan dalam bentuk percekcokan."


"Papa dan mama masih saling menyayangi​—meskipun mereka berbeda pendapat tentang pokok-pokok tertentu."


"Mungkin ada sebuah alasan sehingga mereka bertengkar yang sama sekali kita tidak ketahui penyebabnya."


"Intinya, bersatu tidak berarti harus selalu sama. Dua orang yang saling mencintai kadang-kadang bisa berbeda pandangan."


"Dengan menyadari bahwa orang tua kita tidak sempurna dan mereka pun punya berbagai kesulitan seperti kita, kita harusnya bisa lebih maklum sewaktu mereka bertengkar. Mengerti Tere?" David menghapus sisa jejak air mata di pipi Tere.


"Tapi kak, Tere hanya gak suka ngeliat mereka saling nyakitin satu sama lain."


"Kita sering bertingkah seolah kita sudah benar-benar menjadi manusia dewasa dengan segala apa yang sudah kita lewatin, Namun tetap saja kita masih anak kecil."


"Ini semua tentang perasaan, kita tidak bisa memaksakan mereka untuk saling mencintai ataupun sebaliknya, kalau memang mereka ingin bertengkar biarkan saja, kalau memang itu bisa membuat masalah mereka selesai."


"Pegang kata kata kakak, mereka saat ini saling mencintai, namun ego mereka lebih besar dari cinta mereka."


"Gimana? Udah ngerti?"


"Iya kak." Gadis itu mengangguk perlahan.


"Good." David mengelus kepala adik kesayangannya itu.