MY ROOFTOP

MY ROOFTOP
100



Tere menguap untuk yang kesekian kalinya. Semalam ia begadang untuk mengerjakan makalah tentang pemanasan global yang di berikan oleh Bu Rani, wali kelas barunya.


Tere sudah masuk ke salah satu sekolah di Bandung setelah selesai mengejar ketertinggalan materinya.


Hari ini adalah jadwal kelas Tere olahraga, namun guru olahraga mereka tidak masuk karena sedang sakit, jadi mereka hanya di tugaskan untuk olahraga sendirian di lapangan.


Lapangan terisi oleh sebagian siswa yang sedang bermain volly, sedangkan sebagiannya lagi memilih untuk bersantai di sisi lapangan.


Tere memilih duduk sendirian di salah satu kursi yang ada di sisi lapangan, sementara kursi di sebelahnya penuh dengan teman teman cewek di kelasnya yang sedang tertawa keras dan bergosip ria.


Suara mereka hampir membuat Tere kesal, bukan karena suara mereka yang terlalu besar, hanya saja, mereka terus saja menyindir Tere dengan sembutan anak sombong. Yah, memang, sejak pertama kali masuk sekolah Tere lebih memilih untuk menutup diri dan tidak membaur ke teman-teman kelasnya.


Ia akhirnya dijauhi dan sama sekali tak memiliki teman. Tapi untuk Tere, dia sama sekali tidak memperdulikan hal itu, dia tidak peduli bagaimana orang menilainya, karena Tere tau kalau mereka sama sekali tidak tahu apa yang telah terjadi di kehidupannya.


Gadis itu menatap teman temannya yang sedang berfoto-foto sebelum akhirnya pandangannya tertuju ke arah langit yang tampak cerah, ia pun menghela nafas panjang.


Sudah 3 bulan sejak kejadian di taman waktu itu, kejadian yang mengembalikan sedikit memorinya, hanya sedikit, namun cukup membantu.


Dada Tere mendadak sesak, matanya pun memanas, hingga ia sama sekali tidak sadar ternyata air matanya mulai menetes.


"Astaga." Gadis itu kaget sendiri ketika merasakan basah di pipinya, segera ia melap air mata dari pipinya sebelum ada orang yang menyadarinya.


"Don't cry, Re, Don't," Tere berbisik pada dirinya sendiri, seraya menggigit bibir bawahnya keras keras.


Gadis itu memutuskan untuk pergi ke kamar mandi sebelum air matanya kembali mengalir. Dan benar saja saat sampai di dalam kamar mandi, pertahanannya hancur. Air matanya mengalir deras, ia terisak membuat dirinya sendiri kesusahan untuk bernafas.


Ia merindukan sosok yang selalu mengusap rambutnya lembut, memeluknya ketika ia ketakutan. Tere menatap pantulan dirinya di cermin, entah sejak kapan lemak di badannya menghilang tanpa ia sadari, kantung mata yang besar membuat mukanya lumayan menyedihkan ketika dipandang.


"Apa kabar ... Do."


"Tere rindu."


 q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q qq q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q qq q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q qq q q q q q qq q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q q