
Suara kicauan burung terdengar mengusik pendengaran gadis manis itu, sesekali ia mengutuk burung itu karena telah berani mengganggu tidurnya. Namun, suara burung itu tetap tak berhenti dan membuat Tere mau tak mau bangun dengan frustasi.
"Aargh. Gue ngantuk," geramnya sambil mendudukkan badannya di atas kasur, ia melihat ke arah jendela, di luar masih sangat gelap.
'Lah terus itu bunyi burung dari mana?' Batin gadis itu.
Tiba tiba suara burung itu kembali berbunyi, Tere mengerutkan dahinya. "Astaga." Gadis itu memukul dahinya pelan, ia lupa kalau tadi malam telah mengganti suara alarmnya menjadi suara alarm kicauan burung.
Ia berdiri dari ranjang dengan kepala setengah pusing, tadi malam ia baru tidur pukul 3 pagi, dan sekarang pukul 5 ia harus siap siap solat dan pergi sekolah.
"Gara gara nge-scroll ig nih, jadinya kebablasan gak tidur sampe jam 3." Gadis itu merutuki kebodohan dirinya sendiri.
Ia segera ke kamar mandi, bersiap-siap solat subuh, dan setelah itu bersiap-siap ke sekolah.
Setelah selesai mandi Tere pun langsung mengenakan seragam khas anak SMA, dengan kemeja putih lengan pendek dilapisi jas berwarna abu-abu yang warnanya selaras dengan rok abu-abu yang pendeknya diatas lutut, setelah menata rambut dan yakin dandanannya udah oke, Tere langsung keluar kamar dan pergi ke dapur.
Di dapur ada David yang sudah berseragam lengkap sedang menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.
"Pagi Kak David," ucap Tere sambil menuruni tangga.
"Pagi sayang," ucap David setelah mematikan kompor. Ia membalikkan badan dan melihat penampilan adiknya.
"Gimana kak? Udah keliatan kan dewasanya? Udah gak kayak anak anak lagi kan?" ucapnya sambil berpose narsis di depan kakaknya.
"Hmmm ...." David melihat adiknya dari atas kepala sampai ujung kakinya. "Bagus, masih terlihat seperti anak-anak," ucap David lalu memutar kembali badannya untuk memindahkan nasi goreng dari panci ke piring.
"Ihh Kak David, kok gitu sih. Tere kan pengen cepet cepet dewasa," desah gadis itu sambil duduk di kursi meja makan.
"Kamu tetep jadi adik kecilnya kakak, nggak usah cepet dewasa," ujar David sambil membawa piring berisi nasi goreng ke meja makan.
"Ishh kakak mas--" Perkataan Tere terhenti ketika David mencubit kedua pipi adiknya itu.
"Sekarang makan, oke."
Gadis itu hanya mendengus sebal.
"David!" Terdengat teriakan seseorang dari rumah seberang.
"Udah kak ga usah dipeduliin, cepet tancap gas," ucap Tere ketika melihat Fahri yang baru saja keluar dari dalam rumahnya.
Tere selalu kesal setiap Fahri nebeng dengan mereka berdua, Fahri selalu saja membuat gadis itu frustasi dengan gombalan recehnya di pagi hari. Jangan sampai mood Tere hancur di hari pertama dia sekolah cuma gara gara orang itu.
"Punya banyak mobil tapi kerjanya nebeng mulu, jual sana mobil lo!" teriak Tere sambil memberi cium jauh ke arah Fahri yang masih berusaha membuka kunci pagarnya. Setelahnya mobil itupun berlalu dari hadapannya.
"Sialan, kalah cepet gue," ucapnya kesal sambil memukulkan tumpukan kunci ke besi pagar. Kunci-kunci yang sudah terlilit bagaikan benang benang kusut selalu menjadi masalah tiap dia membuka gembok pagarnya.
Jarak dari rumah Tere menuju ke sekolah sekitar 5 KM, lumayan jauh.
Setelah sampai di sekolah David menurunkan Tere tepat di depan gerbang, karena David akan mencari parkiran dulu, soalnya lumayan susah juga mencari parkiran di sekolah ini karena rata-rata anak SMA Crinay Jaya membawa mobil ke sekolah.
"Kamu bisa ke kelas sendirian kan?" tanya David sebelum Tere turun dari mobil.
"Bisa kak, waktu tes masukkan udah diajak keliling-keliling sekolah sama kakak," jawab Tere yang sudah keluar dari mobil.
"Ya udah ... hati-hati yah, jangan sampai nyasar sekolah ini besar," ujar David mengingatkan.
David pun langsung tancap gas ke area parkir di samping sekolah.
Tere berjalan canggung saat melewati koridor kelas, masih pagi tapi sudah banyak murid yang datang. Mungkin karena hari pertama sekolah.
Tere segera menuju ke kelas yang beberapa hari lalu sudah diperlihatkan oleh David, ia memasuki kelas itu, terlihat beberapa siswa yang sudah datang dan duduk canggung di tempat duduk mereka masing masing.
Tere menaruh asal tasnya di barisan kedua dari belakang, tempat duduk yang sama sekali belum ada penghuninnya.
Masih ada waktu setengah jam sebelum bel upacara berbunyi, akhirnya gadis itu berinisiatif pergi ke tempat ternyaman yang beberapa hari sebelumnya ditunjukkan oleh David, rooftop sekolah.